Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana
Bahkan memunculkan apresiasi (misalnya dari Orang Tua) tentang Si Predator Bertopeng sebagai "Om baik", "Guru yang perhatian", atau "Kakak sepupu suportif," "Kakak Baik," dan lain sebagainya. Karena predikat dan label "Baik" itu, maka orang tua membiarkan, bahkan merelakan, anak berduaan dengan "Si Baik" itu. Misalnya, ke Mall, Nonton, Jalan-jalan, hanya berduaan dengan anak (yang akan dijadikan korban), termasuk memberikan hadiah mewah atau uang saku tanpa alasan yang jelas.
Sebenarnya yang terjadi, bukan cinta, sayang, perhatian, dan obral kebaikan; melainkan sementara berinvestasi. Predator Itu sedang "membeli" kepercayaan anak agar ketika saatnya tiba untuk melakukan kekerasan seksual, si anak pasrah sebagai balas budi atau terlalu malu untuk melapor, karena tercipta "luka yang tak berdarah."
Luka yang Tidak Berdarah
Korban Child Grooming tidak berteriak, marah yang meluap, atau pun histeris. Karena mereka bingung. Mereka merasa orang dewasa ini adalah sahabat serta "Baik," dan rasakan serta menerima banyak kebaikan darinya.
Namun, sebetulnya mengalami goncangan psikologis; yang secara pelan merusak eksistensi serta kepribadiannya. Dalam sikon mengerikan itu, dampaknya jauh lebih merusak; korban kehilangan kepercayaan pada orang dewasa, cinta, dan diri mereka sendiri.
"Amputasi Komunikasi" dan Denial
Sering terjadi, pada banyak kasus, reaksi orang tua korban ketika mendapat pengakuan dari anak (atau laporan orang lain), adalah "menutup mata" dan berkata, "Ah, tidak mungkin dia begitu, dia kan orang baik," "tak mungkin "Si Baik" itu lakukan. Itulah "Amputasi Komunikasi" sekaligus Denial.
Amputasi Komunikasi merupakan Memutus "Lidah" Kebenaran. Jika amputasi medis bertujuan menyelamatkan tubuh dengan membuang bagian yang busuk, Amputasi Komunikasi dalam kasus grooming adalah tindakan tragis; orang tua atau lingkungan secara sengaja "memotong" saluran ekspresi anak untuk menyelamatkan "kenyamanan" orang dewasa.
Denial atau Penyangkalan. Denial mekanisme pertahanan ego untuk menolak mengakui kenyataan yang menyakitkan. Dalam konteks Child Grooming, penyangkalan biasanya memiliki tiga lapisan,
Orang Tua mengamputasi keterbukaan, curhat, pengalaman menggerikan, kebingungan, derita psikologis anak (yang telah jadi korban). Sekaligus denial atau menolak, karena takut disebut orang tua yang tak becus ngurus anak; serta "Tak Mungkin Si Baik bertindak tak bermoral pada Anak-anak." Jika terjadi, maka sebetulnya orang tua sedang menyerahkan leher anaknya ke pisau jagal.
Amputasi dan Denial seperti itu, plus ketidakpedulian masyarakat, akhirnya menambah oksigen kekuatan pada para predator. Selanjutnya, semakin banyak korban; dan semuanya terpengaruh dalam "Penjara Kesunyian." Di tempat itu, jika tanpa petolongan, maka mereka akan "mati dalam diam;" bermandi darah tak berwana serta banjir airmata kehampaan.