Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Streetlights hum a sleepy tun
Little birds fly to the moon
Whispers soft and sweet and low
Where did all the good times go
Bad man, bad man, leave those kids alone
Bad man, bad man, find your own way home
Bad man, bad man, your game is through
Bad man, bad man, we're watching you
Candy smiles and shiny toys
Stealing all their happy joys
Promises like summer rain
Leaving only bitter pain
Tiny hands reach for the light
Fighting shadows in the night
Every voice...
Lampu jalan mendengungkan nada mengantuk.
Burung-burung kecil terbang ke bulan.
Bisikan lembut, manis, dan lirih.
Ke mana perginya masa-masa indah itu?
Predator, predator, tinggalkan anak-anak itu.
Predator, predator, temukan jalan pulangmu sendiri.
Predator, predator, permainanmu sudah berakhir.
Predator, predator, kami mengawasimu.
Senyum semanis permen dan mainan berkilau.
Mencuri semua kebahagiaan mereka.
Janji-janji seperti hujan musim panas.
Hanya menyisakan kepahitan yang menyakitkan.
Tangan-tangan mungil meraih cahaya.
Melawan bayang-bayang di kegelapan malam.
Every voice... / Setiap suara..
Anti-Predator Child Grooming Campaign
by Opa Jappy | Pro Life Indonesia

Setiap anak lahir dengan cahaya di matanya, kombinasi ingin tahu, kepercayaan yang murni, dan harapan masa depan yang aman. Namun, realitas pahit menunjukkan bahwa di balik bayang-bayang masyarakat, ada Predator berusaha memadamkan cahaya itu melalui modus grooming.
"Leave Those Kids Alone" bukan sekadar karya musik; tapi alarm nyaring agar terdengar nurani Anda, Saya, dan Semua. Nurani yang selama ini diam, acuh, dan tak peduli terhadap keganasan serta kebrutalan Predator Child Grooming. Nurani seperti itu, sebetulnya telah mati terhadap kemanusiaan.
Saya, memaksa Anda dan Semua agar buang egomu yang membantu serta mati supaya tidak silent. Karena Predator Child Grooming tidak datang dengan wajah menakutkan; mereka muncul dengan "senyum manis" dan "mainan berkilau." Mereka memanfaatkan kepolosan anak-anak (terutama perempuan) sebagai celah dan silent (Anda) sebagai gerbang utama merampok ABG dan Remaja Putri tercinta dari pangkuanmu.
Ketika Anda dan Saya memilih silent, maka itu adalah memberikan ruang kebebasan pada Predator Child Grooming menghancurkan putera puteri Anda dan Saya. Kehancuran (serta luka-luka batin) akibat kebiadaban Predator Child Grooming tak hanya membekas di tubuh, tapi merobek jiwa serta totalitas diri; tragisnya membutuhkan waktu seumur hidup untuk pulih, itu pun jika mereka mampu atau bisa. Sehingga pada akhirnya Korban Child Grooming pergi menghadap Sang Pencipta dengan tubuh dalam yang hancur berkeping-keping; di pangkuan Sang Pencipta, ia kembali utuh sebagai manusia di Ruang Ketenangan.
Saudaraku! Anda dan Saya stop menjadi pengamat pasif karena advokasi tanpa aksi hanyalah gema yang sia-sia. Sekarang saatnya Anda berperan.

Predator Itu Mungkin Sedang Minum Kopi di Ruang Tamu
Banyak Orang membayangkan Predator Child Grooming berupa sosok asing yang menyeramkan, bersembunyi di gang gelap, atau mengintai di balik semak-semak. Bayangan seperti membuat rasa aman selama pintu rumah terkunci rapat.
Namun, kenyataannya jauh lebih pahit, Predator modern tidak membobol pintu rumah; mereka justru dipersilakan masuk, bersama Anda minum kopi bahkan memuji kebaikannya. Padahal, "Orang Baik" itu sementara melakukan proses "penjinakan" sistematis, halus, dan sangat mematikan masa depan anak atau korban.
Manipulasi Berkedok Perhatian dan Kasih Sayang
Child Grooming adalah kejahatan paling licik terhadap anak-anak karena menggunakan senjata yang paling mulia, yaitu kasih sayang. Pelaku, tepatnya Predator, memberikan perhatian yang tidak diberikan orang tua; misalnya hadiah, pujian yang melambungkan ego.