Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selama masih ada kesempatan, marilah berbuat baik pada semua orang.
Jika setia hari berbuat satu kebaikan, maka dalam satu tahun kita menjadi Manusia Indonesia yang lebih baik.
Selama masih ada kesempatan, marilah berbuat baik pada semua orang.
Jika Mau Aksi untuk Indonesia, maka Setiap Hari Berbuat Satu Kebaikan
Selama masih ada kesempatan, marilah berbuat baik pada semua orang.
Bukan membuat chat mesum.
Intelektualitas yang Cacat, Menggugat Moralitas di Koridor Hukum
Pendidikan tinggi sering diagungkan sebagai kawah candradimuka para calon pemimpin bangsa. Di institusi bergengsi seperti Fakultas Hukum Universitas Indonesia, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teks undang-undang, tapi juga menghidupi spirit keadilan dan etika luhur. Namun, fenomena perilaku amoral, seperti penyebaran pesan mesum atau pelecehan digital, menunjukkan adanya diskoneksi yang mengkhawatirkan antara kecerdasan kognitif dan integritas moral.
Paradoks Intelektual. Sangat ironis ketika seseorang yang setiap hari bergelut dengan diskursus hak asasi, norma, dan sanksi, justru menjadi pelaku pelanggaran martabat manusia. Mahasiswa yang terjebak perilaku mesum digital menunjukkan "kemiskinan literasi kemanusiaan." Mereka menguasai hukum sebagai alat teknis, namun gagal memahaminya sebagai nilai menjaga kehormatan sesama. Chat mesum bukan sekadar kekhilafan privat; itu adalah bukti kegagalan pengendalian diri dan rendahnya hormat terhadap ruang publik digital.
Setiap detik yang dihabiskan untuk memproduksi konten atau pesan merendahkan moral adalah bentuk pengkhianatan terhadap kesempatan. Di tengah bangsa yang masih berjuang melawan ketidakadilan, mahasiswa memiliki privilese akses pengetahuan untuk melakukan "Satu Kebaikan Setiap Hari." Memilih menjadi "agen mesum" alih-alih "agen perubahan" adalah pemborosan intelektual yang menyedihkan. Nama besar almamater seharusnya menjadi beban moral agar berprestasi, bukan tameng berlindung dari perilaku menyimpang.
Kritik ini bukan sekadar penghakiman, melainkan panggilan kembali ke khitah. Indonesia tak kekurangan orang pintar, namun krisis orang jujur yang memiliki harga diri. Perbaikan tidak dimulai dari orasi di jalanan, melainkan etika di balik layar ponsel. Menjaga lisan dan jempol dari hal-hal yang tidak senonoh adalah langkah awal untuk menjadi "Manusia Indonesia Lebih Baik."
Selama masih ada kesempatan, mahasiswa harus sadar bahwa integritas adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Tanpa moralitas, gelar hukum hanya kertas tanpa makna; dan mahasiswa tak lebih dari sekadar robot yang pandai menghafal namun buta nurani.
"Jika mau aksi untuk Indonesia, mulailah dengan memantaskan diri. Karena Bangsa Indonesia tidak dibangun oleh kesibukan chat mesum, melainkan mereka yang konsisten setiap hari melalukan kebaikan."

Kerapuhan Moral sejak SMA hingga FH UI
Sekolah Menengah Atas (SMA) unggulan sering dipandang sebagai "pabrik" masa depan. Dengan kurikulum ketat dan persaingan masuk yang kompetitif, sekolah-sekolah menjanjikan tiket menuju universitas ternama, seperti Universitas Indonesia. Namun, meledaknya kasus chat mesum dan pelecehan yang menyeret mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), yang notabene berasal dari latar belakang SMA-SMA ternama, jadi tamparan keras. Membuktikan satu hal, kecerdasan kognitif dan label institusi elit tidak menjamin kematangan moral; serta kegagalan bina di SMA.
Kultus Akademik yang Mematikan Empati. Di sekolah-sekolah favorit, fokus pendidikan sering bergeser dari "pembentukan karakter" menjadi sekadar "pencapaian angka". Siswa didorong menjadi terbaik, namun jarang diajarkan untuk utama secara empatik. Ketika orientasi utama adalah prestasi akademik dan gengsi almamater, nilai-nilai etika hanya sebatas "aksesori."
Pola asuh terlalu menekankan pada output menciptakan mentalitas "privilese tak tersentuh." Jika sejak SMA seseorang memiliki status sosial tinggi karena sekolahnya, mereka berisiko tumbuh dengan rasa superioritas salah kaprah (sense of entitlement). Mereka bisa mengobjektifikasi orang lain atau melanggar norma sosial karena dilindungi oleh nama besar almamater.
Kegagalan Bina Rohani, Dari Formalitas ke Normalisasi. Munculnya kasus perilaku amoral di lingkungan kampus hukum ternama mencerminkan kegagalan total dalam sistem Bina Rohani (Binroh), di level SMA dan perguruan tinggi. Binroh terjebak pada aspek formalitas, seperti kegiatan seremonial atau sekadar hafalan doktrin, tanpa menyentuh akar kesadaran moral dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ketika pendidikan moral dan agama hanya menjadi pelengkap kurikulum, siswa tidak belajar bagaimana mengelola dorongan impulsif atau menghargai batasan (consent).
Kasus chat mesum di FH UI menunjukkan adanya diskoneksi dalam antara kecerdasan intelektual (memahami hukum secara teoritis) dengan rendahnya integritas moral (melanggar etika dasar manusia). Ada normalisasi budaya toksik, pelecehan verbal sebagai "lelucon" atau "hal pribadi", padahal adalah bentuk degradasi moral yang nyata.
Budaya "Menutup Mata" demi Nama Baik. Banyak institusi elit cenderung protektif terhadap reputasinya. Pola asuh yang membiasakan "menyapu masalah ke bawah karpet" demi menjaga citra institusi justru menyuburkan perilaku amoral. Jika sejak SMA pelanggaran etika tak ditindak tegas, siswa membawa mentalitas "kebal hukum" tersebut hingga ke jenjang perguruan tinggi dan dunia kerja. Kegagalan menanamkan akuntabilitas sejak dini adalah awal dari lahirnya intelektual-intelektual yang cacat moral.
Kasus mencoreng FH UI adalah alarm untuk para pendidik dan orang tua sejak di SMA. Pendidikan harus dikembalikan pada hakikatnya, memanusiakan manusia. Sekolah dan Institusi Pendidikan Tinggi harus berani membongkar sistem Bina Rohani dari sekadar formalitas dan mulai menanamkan integritas yang substantif.
Tanpa moralitas, lulusan sekolah terbaik hanya "orang pintar" yang berbahaya untuk masyarakat. Masyarakat tak butuh lebih banyak pakar hukum yang pandai bersilat lidah namun miskin akhlak; melainkan manusia yang memiliki hati nurani setara dengan kecerdasannya.
Sudah saatnya berhenti memuja label almamater dan mulai menuntut pertanggungjawaban nyata atas karakter yang dihasilkan.
Opa Jappy | Mantan Guru Lab School