Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Negarakertagama, 1365, mencatat bahwa Timor, Rumah Kelahiran Saya, Negeri di Selatan, terkenal dengan kayu Cendana, merupakan wilayah Majapahit, namum mempunyai raja-raja yang otonom dan mandiri. Dalam artian, Raja-raja di Flores, Sumba, Timor, dan Pulau-pulau sekitar tak takluk pada Majapahit, tapi membentuk Satu Kesatuan Besar seturut rantai Sumpah Palapa.
Ketika tahun 1510, Goa-India dikuasai Portogis, mereka melanjutkan eskpansinya dengan cara menguasai Malaka 1511. Malaka dijadikan pusat perdagangan serta penguasaan wilayah nusantara. Portogis berhasil mencapai Maluku, Solor (Flores). Tahun l5ll armada Ferdinand Magellan (dua kapal) singgah di Alor dan Timor (Kupang). Ketika mereka menyebrang selat Pukuafu, kedua kapal ini tertimpa badai, salah satu kapal karam dan hancur. Salah satu jangkar raksasa kapal ini hingga kini masih ada di pantai Rote. Satu lainnya berhasil lolos dari amukan ombak melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan dan kembali ke Spanyol.
Itu sedikit catatan masa lalu tentang Flobamora, Rumah Saya; sebutan lainnya Rumah untuk Semua (Merry Koilom, 2011), Negeri Exotic (Opa Jappy, 2011), dan Rumah Terbuka (Emy Nomleny, 2020). Ya. Faktanya seperti itu; Nusa Tenggara Timur yang terbuka untuk semuanya, menjadi daya tarik eksploitasi SDA dan SDM, serta masuk banyak orang dengan berbagai karakter (baik dan jahat), termasuk "dua profesi penjahat terhadap kemanusiaan" yaitu Predator Child Grooming dan Pedagang Penjualan Orang.
Masuknya Orang-orang dan Karakter Predator Child Grooming serta Predator Kemanusian (Pelaku Humantraficking), ditambah intervensi Hedonisme melalui Media Penyiaran (dan Medsos), kini, Halaman Rumah Saya, menjadi area dan arena terbuka berbagai tindak kriminal dengan modus awal Grooming terhadap Anak-anak dan Remaja Putri. Dampaknya, sangat merusak, menghancurkan, dan membinasakan hidup dan kehidupan. Misalnya;
Secara keseluruhan, pemetaan NTT ke wilayah "Endemi Predator Child Grooming" memberikan urgensi bahwa penanganan tidak bisa lagi bersifat insidental, melainkan harus struktural. Apalagi, NTT sebagai Wilayah Kepulauan, mempersulit jangkauan layanan pendampingan korban secara cepat. Kesenjangan literasi digital antara anak dan orang tua menciptakan "ruang gelap" sehingga predator sulit bergerak.
Usulan pembagian klaster ini sangat strategis karena memetakan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berdasarkan karakteristik geografis, sosiokultural, dan pola mobilitas yang berbeda. Usulan klaster ini lebih efektif jika diikuti dengan pembentukan Satgas Klaster Khusus yang melibatkan putra daerah setempat. Mengingat bahasa dan dialek yang berbeda di tiap klaster (misalnya dialek Kupang vs dialek Flores), pendekatan persuasif untuk membongkar kasus grooming harus menyesuaikan dengan "rasa" lokal agar masyarakat tidak merasa terintimidasi saat melapor.
Child Grooming adalah Kejahatan terhadap Kemanusiaan
Child Grooming merupakan kejahatan yang dilakukan Predator (pelaku) dengan cara manipulasi psikologis, perhatian, pendekatan cinta serta kasih sayang agar bisa melakukan tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak (terutama anak perempuan).
Child grooming bukan sekadar kejahatan seksual; tapi kejahatan terbengis dan terbrutal terhadap kemanusiaan. Predator secara sistematis merampok dalam senyap, menghancurkan nalar perlindungan, dan memutus kanal kejujuran antara anak dengan orang tua, saudara, serta lingkungannya.
Predator Child Grooming tak melakukan serangan mendadak; tapi sabotase sistematis dalam kesunyian yang mematikan. Ia tidak masuk melalui pintu kekerasan, melainkan celah keheningan, kesendirian, dan kesepian. Predator Child Grooming merusak keutuhan hidup dan kehidupan seseorang (korban), kehancuran totalitas diri, membuat luka-luka batin yang menganga, serta menciptakan stigma beban kejiwaan, yang tak terobati, hingga kematian menjemput.
Korban Predator Child Grooming, jika bertahan hidup, maka kehidupannya penuh "duri-duri tajam" menusuk dalam diri, menimbulkan nanah yang tak mampu keluar; kemudian, pada masanya, mati dengan ketidak keutuhan dan kehancuran (walau tampilan jasadnya utuh).
Oleh sebab itu, perlu dan sangat penting melakukan upaya pemulihan korban dari trauma, stigma, luka-luka batin, serta derita psikologis lainnya. Sehingga melawan Predator Child Grooming, harus bersamaan dengan "merangkul dan memulihkan." Dalam artian, tidak boleh berhenti pada penangkapan pelaku, tapi harus
Menyentuh aspek kemanusiaan yang paling krusial yaitu masa depan korban. Satu tangan memegang senjata perlawanan terhadap Predator Child Grooming; tangan lainnya menyebarkan kasih sayang, perhatian, memeluk korban, serta menyembuhkan jiwa yang retak.
Di balik semangat, keberanian, dan keindahan perlawanan kejahatan Predator Child Grooming, ada sesuatu yang krusial tapi sering dilupakan; yaitu memulihkan martabat dan harapan korban. Sebab, perjuangan dan perlawanan terhadap Predator Child Grooming tidak lengkap jika hanya fokus pada kemarahan ke pelaku. Ada tugas moral yang lebih besar, yaitu memastikan bahwa tidak satu pun anak yang merasa "terbuang" atau "asing" setelah mereka mengalami penderitaan serta trauma.
Seseorang yang menjadi korban Predator Child Grooming telah kehilangan percayanya pada lingkungan sekitar. Jika masyarakat, menjauhi, mengucilkan, atau memandang mereka dengan tatapan iba yang merendahkan, maka sebenarnya sedang melanjutkan kejahatan yang dimulai oleh Predator.
Oleh sebab itu, Anda, Saya, Siapa pun, harus berhenti menjadikan mereka "korban" selamanya dalam label sosial. Mereka adalah bunga-bunga yang sedang layu sebelum waktunya, namun tetap memiliki akar kuat agar kembali mekar jika mendapat air kasih sayang dan pupuk penerimaan.
"Air Kasih Sayang dan Pupuk Penerimaan" tersebut menjadi jembatan pemulihan (walau tak pernah mencapai 100% keutuhan). Mereka (mantan korban Predator Child Grooming) sebisa mungkin harus pahami bahwa
Mari satukan derap langkah, bukan hanya untuk mengusir kegelapan, tapi juga menyalakan lilin-lilin harapan di hati para mantan korban Predator Child Grooming. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian di sudut sepi. Rangkul mereka, ajaklah kembali ke lingkaran pergaulan, dan tunjukkan bahwa masih ada tanah yang menyembuhkan.
Hatimu akan bersuka cita dengan kebahagiaan (yang sulit dideskripsikan) karena perlawanan Anda dan Saya terhadap Predator Child Grooming berhasil melihat mantan korban tumbuhkembang menjadi pribadi tangguh, bahagia, dan berdaya.
Mari buktikan bahwa kasih Anda dan Saya terhadap korban Predator Child Grooming melebihi trauma yang dialami; itulah kepedulian, dan harapan baru.
