Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Abstrak
Redundansi merupakan hambatan estetika yang tidak disadari penulis, dari akademisi hingga jurnalis.
Membahas pendekatan stilistika baru, digagas Opa Jappy, prinsip "Tidak Ada Kata yang Sama pada Satu Kalimat." Pendekatan ini bukan sekadar aturan tata bahasa rigid, tapi filosofi mentransformasi tulisan biasa menjadi "Write Art" (Seni Menulis).
Mengulas disiplin menghindari repetisi pada satu kalimat, memaksa penulis melakukan eksplorasi diksi, memacu kreativitas kognitif, dan memperluas wawasan kosakata tanpa mengorbankan kejelasan makna.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan gaya Tidak Ada Kata yang Sama pada Satu Kalimat mengubah struktur kalimat monoton menjadi dinamis, elegan, dan ekspresif.
Dalam dunia kepenulisan, fiksi, non-fiksi, ilmiah, hasil penelitian, berita, dan lain-lain, kekuatan tulisan terletak pada substansi dan pengemasan pesan hingga mencapai sasaran, terutama lapisan masyarakat (dengan aneka warna-warni latar belakang). Salah satu jebakan terbesar yang sering tidak disadari para penulis, termasuk dosen, narasumber, dan profesional, adalah redundansi.
Redundansi atau pengulangan kata-kata seperti itu sangat nampak pada, bahkan mayoritas Artikel-artikel di Kompasiana; apalagi hasil para "Penulis Baru. Pengulangan kata ganti, sambung, kerja, dll; misalnya "yang, dan, mereka, dia, ia, kita, (dan masih banyak) yang muncul berulang dalam satu tarikan napas membuat kalimat terasa tumpul, datar, dan membosankan.
Redundansi pun terlihat dengan jelas pada hasil tulisan mereka yang "sudah lama" sebagai penulis, termasuk sebaran dari Admin-admin Kompasiana.
Akibatnya, sangat mudah terlihat menurunnya kualitas; penyebabnya bukan karena kurangnya ide, melainkan kemalasan eksplorasi kosakata. Kalimat kehilangan daya pikat ketika ritme baca terganggu bunyi atau kata yang sama secara berulang (repetitif). Lucunya, "Penanggungjawab Jawab Konten Kompasiana, "menarik" artikel full redundansi tersebut ke Artikel Pilihan, bahkan Artikel Utama, (yah begitulah; mereka yang berkuasa di Kompasiana. "Gue mau ngomong apa?").
Oleh sebab itu, sejak lama, Saya menawarkan Write Art; suatu pendekatan disiplin unik sebagai gaya "Tidak Ada Kata yang Sama pada Satu Kalimat." Ini adalah terobosan gaya penulisan (stilistika) baru; dengan tujuan meningkatkan kualitas estetika bahasa.
Pendekatan "Tidak Ada Kata yang Sama pada Satu Kalimat" menantang penulis agar keluar dari zona nyaman kebiasaan lama (serta penggunaan Template Words, nanti bahas pads pada kesempatan lain), mengubah aktivitas sekadar "mengetik" menjadi "melukis dengan kata-kata," sehingga tulisan sebagai karya seni atau Write Art.
Gaya penulisan "Tidak Ada Kata yang Sama pada Satu Kalimat" merupakan pendekatan revolusioner pada disiplin menulis kreatif. Write Art bukan sekadar menghindari pengulangan, tapi latihan intelektual agar mempertajam ekspresi dan memperkaya khazanah bahasa.
Write Art adalah "senjata" ampuh untuk berbagai jenis tulisan. Fiksi & Sastra, menciptakan deskripsi yang hidup. Feature & Opini, menonjolkan karakter penulis agar tidak kaku. Intinya, semua Artikel, Write Art mampu (ikut) menciptakan dan meningkatkan kualitas "Pencipta Bacaan. Menerapkan Write Art, penulis didorong untuk berhenti sekadar "mengetik" dan mulai "melukis" dengan kata-kata.
Meskipun menuntut penguasaan kosakata luas dan kecepatan berpikir, hasil akhir Write Art, adalah karya tulis yang tidak hanya informatif, tapi juga memikat, elegan, dan berkelas.
Kata Kunci: Write Art, Variasi Diksi, Kreativitas dan Estetika Menulis, Redundansi, Stilistika.
##
Agar mencapai "menulis tanpa kata-kata yang sama pada satu kalimat," perlu latihan dan pembiasaan. Caranya sangat mudah
Selanjutnya, Download Artikel Lengkap di
Google Drive atau Jurnal Ilmiah Academia Edu.
Google Drive Opa Jappy
https://drive.google.com/file/d/1YMS8HGfhT-cVAG3tKbs9c_V2pPuU1hMm/view?usp=drivesdk
Artikel Opa Jappy di Jurnal Ilmiah
1. https://www.academia.edu/resource/work/145147559
2. https://www.academia.edu/resource/work/145087763
Oleh Opa Jappy | Pegiat Literasi Publik
