Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Sebagai penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming, saya tidak menebar teror kosong, tapi menyalakan lampu di lorong gelap yang selama ini dihindari bersama. Tak ada seorang pun bisa membantah bahwa Predator Child Grooming adalah amputasi terhadap jiwa yang merusak totalitas diri korban hingga ke akar paling dalam.
Dunia yang Anda diami mungkin tampak baik-baik, namun di balik pintu-pintu rumah dan ketenangan layar gawai, sedang terjadi pembusukan peradaban yang sunyi. Saya tidak berusaha menakut-nakuti Anda. Fakta membuat Anda tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Meski data sering gagal memotret jeritan tangis yang pecah di tengah malam.
Data KemenPPPA mencatat belasan ribu kasus kekerasan seksual terhadap anak setiap tahunnya. Namun, ingatlah bahwa itu hanyalah puncak gunung es yang nampak di permukaan. Di bawahnya, ada puluhan ribu, mungkin ratusan ribu, kasus yang terkubur dalam "penyelesaian kekeluargaan", karena dibungkam oleh rasa malu, atau disuap dengan bantuan materi dan janji-janji palsu dari para predator.
Mari proyeksikan masa depan; ke dalam ruang tamu Anda. Katakanlah sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, anak-anak yang hari ini menjadi korban Predator Child Grooming, tumbuh menjadi dewasa; dan ada dalam komunitas atau bagian dari masyarakat.
Mereka ada di sekitar Anda, kantor, lingkungan sosial. Bahkan, bayangkan suatu kemungkinan yang sangat nyata, mereka adalah calon istri anak laki-laki Anda atau menantumu. Pada saat itulah, "bom waktu;" meledak di wajahmu. Bom Waktu yang menyadarkan bahwa luka batin tidak sembuh, stigma menghimpit, dan kerusakan psikologis yang ditinggalkan oleh Predator Child Grooming. Kemudian, Anda membubarkan perkawinan tersebut karena tak mau ada korban Predator Child Grooming dalam hidup serta kehidupanmu? CUKUP Anda Jawaban dalam hati, tanpa suara.
Atau, nantinya, Anda ikut memikul beban penderitaan mereka. Anda ikut merasakan perihnya trauma yang belum tuntas saat berinteraksi dalam keluarga. Kepedihan itu akan merembes ke dalam struktur keluarga; merusak kebahagiaan yang selama ini Anda banggakan.
Predator Child Grooming tak hanya merusak satu individu; mereka menanam bibit kehancuran; nantinya Anda ikut memanen air mata. Mereka adalah penjarah kemanusiaan yang bersembunyi di balik topeng pahlawan ekonomi, penolong pendidikan, atau sekadar pengirim kuota internet yang dermawan.
Maka, pertanyaan saya pada Anda semua, para orang tua, pendidik, dan pemegang kebijakan, "Apakah Anda masih tetap diam?" Hari Ini Anda Diam, maka itu adalah karpet merah untuk para penjahat kelamin tetap berkeliaran bebas di lingkungan dan seluruh pelosok negeri.
Jika berpikir bahwa itu bukan urusanmu karena anak Anda "aman" di dalam rumah; tapi ingatlah bahwa di era digital, rumah yang terkunci rapat bisa ditembus Predator Child Grooming tanpa mendobrak pintu.
Jangan biarkan lingkungan Anda menjadi museum peradaban yang hancur. Mari jadikan perlindungan anak sebagai tugasmu menjaga martabat kemanusiaan. Karena jika jiwa anak-anak runtuh, maka itu adalah keruntuhan masa depan semua.
Opa Jappy.| Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming

Child Grooming merupakan kejahatan yang dilakukan Predator (pelaku) dengan cara manipulasi psikologis, perhatian, pendekatan cinta serta kasih sayang agar bisa melakukan tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak (terutama anak perempuan).
Child Grooming bukan sekadar tindak kekerasan seksual; tapi kejahatan terbengis dan terbrutal terhadap kemanusiaan. Karena Predator secara sistematis merampok dalam senyap, menghancurkan nalar perlindungan, dan memutus kanal kejujuran antara anak dengan orang tua, saudara, serta lingkungannya.
Predator Child Grooming tak melakukan serangan mendadak; tapi sabotase sistematis dalam kesunyian yang mematikan. Ia tidak masuk melalui pintu kekerasan, melainkan celah keheningan, kesendirian, dan kesepian.
Predator Child Grooming merusak keutuhan hidup dan kehidupan seseorang (korban), kehancuran totalitas diri, membuat luka-luka batin yang menganga, serta menciptakan stigma beban kejiwaan, yang tak terobati, hingga kematian menjemput.
Korban Predator Child Grooming, jika bertahan hidup, maka kehidupannya penuh "duri-duri tajam" menusuk dalam diri, menimbulkan nanah yang tak mampu keluar; kemudian, pada masanya, mati dengan ketidak keutuhan dan kehancuran (walau tampilan jasadnya utuh).
Oleh sebab itu, perlu dan sangat penting melakukan upaya pemulihan korban dari trauma, stigma, luka-luka batin, serta derita psikologis lainnya. Sehingga melawan Predator Child Grooming, harus bersamaan dengan "merangkul dan memulihkan." Dalam artian, tidak boleh berhenti pada penangkapan pelaku, tapi harus
Menyentuh aspek kemanusiaan yang paling krusial yaitu masa depan korban. Satu tangan memegang senjata perlawanan terhadap Predator Child Grooming; tangan lainnya menyebarkan kasih sayang, perhatian, memeluk korban, serta menyembuhkan jiwa yang retak.
Menghapus Stigma Sosial; bahwa korban Predator Child Grooming adalah jiwa terluka, bukan noda yang harus dibuang
Mengubah cara pandang dari menghakimi menjadi melindungi.
Membangun ekosistem yang meyakinkan para korban bahwa mereka masih memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat.
Oleh sebab itu, di balik semangat, keberanian, dan keindahan perlawanan kejahatan Predator Child Grooming, hal krusial berlanjut adalah memulihkan martabat dan harapan korban. Sebab, perjuangan dan perlawanan terhadap Predator Child Grooming tidak lengkap jika hanya fokus pada kemarahan ke pelaku. Ada tugas moral yang lebih besar, yaitu memastikan bahwa tidak satu pun anak yang merasa "terbuang" atau "asing" setelah mereka mengalami penderitaan serta trauma.
Seseorang yang menjadi korban Predator Child Grooming telah kehilangan percayanya pada lingkungan sekitar. Jika masyarakat, menjauhi, mengucilkan, atau memandang mereka dengan tatapan iba yang merendahkan, maka sebenarnya sedang melanjutkan kejahatan yang dimulai oleh Predator.
Anda, Saya, Siapa pun, harus berhenti menjadikan mereka "korban" selamanya dalam label sosial. Mereka adalah bunga-bunga yang sedang layu sebelum waktunya, namun tetap memiliki akar kuat agar kembali mekar jika mendapat air kasih sayang dan pupuk penerimaan.
"Air Kasih Sayang dan Pupuk Penerimaan" tersebut menjadi jembatan pemulihan (walau tak pernah mencapai 100% keutuhan). Mereka (mantan korban Predator Child Grooming) sebisa mungkin harus pahami bahwa
Mari satukan derap langkah, bukan hanya untuk mengusir kegelapan, tapi juga menyalakan lilin-lilin harapan di hati para mantan korban Predator Child Grooming.
Jangan biarkan mereka berjuang sendirian di sudut sepi. Rangkul mereka, ajaklah kembali ke lingkaran pergaulan, dan tunjukkan bahwa masih ada tanah yang menyembuhkan.
Hatimu bersuka cita dengan kebahagiaan (yang sulit dideskripsikan) karena perlawanan Anda dan Saya terhadap Predator Child Grooming berhasil melihat mantan korban tumbuhkembang menjadi pribadi tangguh, bahagia, dan berdaya.
Mari buktikan bahwa kasih Anda dan Saya terhadap korban Predator Child Grooming melebihi trauma yang dialami; itulah kepedulian, dan harapan baru.