Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Selamatkan Kompasiana dari Redundansi"

16 Mei 2026   06:15 Diperbarui: 16 Mei 2026   07:05 329 4 4


No Redundansi | Opa Jappy
No Redundansi | Opa Jappy

Template Words adalah frasa atau konstruksi bahasa yang kehilangan daya makna karena penggunaannya berlebihan, sehingga menjadi otomatis.

Krisis Redundansi di Kompasiana | Mengunyah Kata, Membuang Makna

Kompasiana, yang melegenda sebagai salah satu pionir platform citizen journalism.di Indonesia, kini sementara menghadapi musuh dalam selimut yang perlahan menggerogoti kualitas literasinya yaitu redundansi. Platform yang dulunya adalah panggung gagasan-gagasan segar dan tajam, kini kian sesak artikel-artikel "mengunyah kata namun membuang makna;" bagaikan lautan repetisi yang membosankan.

Dalam pengamatan saya (dan membaca ratusan artikel sejak Januari 2026), redundansi di Kompasiana bukan sekadar kesalahan gramatikal minor, melainkan krisis sistemik. Banyak penulis terjebak dalam sindrom "memperpanjang tulisan demi estetika semu" atau kejar tayang kuantitas. Agaknya,

Terjadi Pemujaan Jumlah Kata. Ada kecenderungan artikel sengaja dibuat bertele-tele. Satu ide sederhana yang harusnya selesai dalam tiga paragraf, dipaksa melar menjadi ribuan kata dengan cara memutar-mutar argumen yang sama menggunakan sinonim  berbeda. Bahkan, di Kanal Video Kompasiana (seharusnya fokus video dan sedikit kata), malah full Artikel panjang (lebih cocok di Kanal lain).

Muncul Retorika Kosong, Judul yang bombastis seringkali tidak sebanding dengan isi. Pembaca dipaksa melewati paragraf-paragraf pengantar klise, akhirnya menyadari bahwa inti tulisan tersebut sangat dangkal.

Memunculkan Inflasi Informasi;  akibatnya, Kompasiana mengalami inflasi teks. Ruang publik digital (Kompasiana) menjadi bising oleh kata-kata, namun sunyi substansi baru. Pembaca modern yang memiliki waktu terbatas dipaksa membuang energi menyaring informasi yang sebenarnya bisa dipadatkan.

Tangkapan Layar Kompasiana | Kompasiana 
Tangkapan Layar Kompasiana | Kompasiana 

Memaksa Pendekatan No Redundansi


Menulis dengan Pendekatan No Redundansi, sederhananya, adalah "Tanpa Kata yang Sama pada Satu Kalimat" atau tak ada pengulangan kata-kata.

Dua Contoh 

Asli

Disini bukan hanya sekedar candi, tapi candi ini merupakan salah satu destinasi wisata pendidikan dan religi di Jawa Tengah.

Kompleks Candi Plaosan yang terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Berdiri kokoh sejak abad ke-9 Masehi, peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini bukan hanya karya arsitektur yang indah, tetapi juga saksi bisu kisah cinta, persatuan, dan toleransi antar agama yang luar biasa. Keduanya sering disebut sebagai "candi kembar", namun memiliki karakteristik, fungsi, dan makna tersendiri yang saling melengkapi.

No Redundansi

Tempat ini bukan sekadar candi, melainkan destinasi wisata pendidikan dan religi di Jawa Tengah.

Saya membiarkan anak-anak melihat Candi Plaosan Lor, sementara saya dan istri mendekati seorang penjaga yang dengan antusias menjelaskan kisah di baliknya. Jika boleh saya simpulkan, tempat ini adalah "Dua Kembar Penuh Kisah Toleransi di Mataram Kuno."

Asli dan hasil AI (tanpa edit)

Awalnya, saat berjalan beriringan di depan orang lain, ia punya harapan sederhana: ia ingin dibanggakan, ingin dihargai, ingin merasa bahwa ia adalah orang yang berharga bagi pasangannya. Tapi harapan itu hancur begitu saja. Alih-alih mendengar kata-kata yang menyenangkan, yang didengar malah kalimat-kalimat yang merendahkan, menyebutkan kekurangan, bahkan tertawa bersamaan dengan orang lain seolah ia tak ada di sana. Rasanya seperti dunia runtuh dalam sekejap. Ia diam, bukan karena ia tak punya suara, tapi karena cintanya yang begitu besar membuatnya memilih menahan segalanya, berharap ini hanya bercanda, berharap ini hal biasa yang akan berubah seiring waktu.

No Redundansi

Awalnya, saat berjalan beriringan di depan orang lain, ia punya harapan sederhana: ingin dibanggakan, dihargai, dan merasa berharga bagi pasangannya. Namun, asa itu hancur begitu saja. Alih-alih mendengar kata-kata menyejukkan, yang didapat justru kalimat merendahkan, umpatan tentang kekurangan, hingga tawa bersama orang lain seolah ia tak ada di sana.

Rasanya seperti dunia runtuh dalam sekejap. Ia diam---bukan karena tak punya suara---tetapi cintanya yang teramat besar memaksa diri menahan segalanya. Ia hanya bisa berharap ini sekadar gurauan, hal biasa yang kelak akan berubah seiring waktu.


Artikel dengan pengulangan (penggunaan berulang) pada satu kalimat, nyaris mencapai 100%, termasuk sebaran dari Admin-admin Kompasiana. Sudah Tren? Mungkin. Menambah keprihatinan, keheranan, dan kelucuan ganda lagi karena penulis yang (di info profil) Sarjana, terutama Magister, Doktor, bahkan Professor tak luput dari Redundansi. Ini sangat mengherankan; misalnya pemilik S 2, S 3, dan Prof mereka sudah melewati proses penulisan karya ilmiah yang ketat aturan. Tapi, di Kompasiana, artikelnya seperti bocah Semester 1 yang Full Redundansi. Ini menunjukkan adanya Krisis Kognisi ketika menulis, terutama kemiskinan kosa kata.

Krisis redundansi di Kompasiana seharusnya tidak boleh dibiarkan menjadi standar baru. Faktanya Artikel, katanya AU dan Pilihan, tapi sebagai sebaran Redundansi. Atau, memang semakin Redundansi dan panjang tulisan, maka jadi Artikel Pilihan atau AU?

Kompasiana perlu diselamatkan dari "obesitas teks" yang membuatnya lambat dan membosankan. Redundansi merupakan hambatan estetika yang tak disadari penulis, dari akademisi hingga jurnalis. Pendekatan sebagai tata bahasa rigid dan mentransformasi tulisan biasa menjadi "Write Art" (Seni Menulis).

Sederhananya, No Redundansi adalah tidak ada pengulangan kata; atau atau tak ada kata yang sama pada satu kalimat. Termasuk pada penulisan artikel, tidak menggunakan kata-kata yang maknanya sama secara berturut-turut (misalnya di, yang, pada, ke, adalah merupakan, kita, kami, dia, dan lain-lain). Sehingga tak terjadi duplikasi data/kata pada satu kalimat. Serta mampu menyampaikan inti secara langsung tanpa berbelit-belit atau mengulang informasi. Hasilnya? Menggunakan sumber daya (kata, data, atau waktu) seminimal mungkin namun mencapai hasil maksimal tanpa ada pengulangan.


Menyelamatkan Kompasiana dari Obesitas Teks

Menulis dengan Pendekatan No Redundansi memang tidak mudah; menuntut kedisiplinan berpikir, proses swasunting, self-editing, yang kejam, dan keberanian  memotong/mengganti kata-kata. Itu jika Kompasiana ingin tetap relevan sebagai platform pemikiran yang disegani, bukan sekadar tempat penampungan sampah kata-kata. Jika saya (Opa Jappy) sejak hadir di Kompasiana (Era Pepih Nugraha) bisa konsisten No Redundansi; maka tidak ada alasan Kompasianer lain terus memelihara kemalasan berpikir dalam balutan artikel yang bertele-tele. 

Saatnya berhenti mengunyah kata, dan mulai memproduksi makna.

Menulis itu menuangkan isi kepala secara presisi, bukan memuntahkan semua kata yang ada di kamus. 

Karena setiap kalimat dirancang untuk membawa informasi baru. Sehingga jika kata tidak menambah nilai atau makna pada kalimat tersebut, maka harus dieliminasi. 

Itu adalah bentuk penghormatan tertinggi penulis terhadap  pembacanya.


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2