Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Fajar menyapa lembah dengan semburan menembus pagi, namun Perempuan Tua itu telah berdiri tegak di tepian sungai yang berkabut. Tangannya menggenggam erat bungkusan sederhana, simbol cinta yang melampaui materi; entah jam berapa ia terbangun agar mempersiapkan bekal sederhana untuk cucu-cucunya.
Ia berdiri, walau tangan tuanya tak lagi perkasa; dengan kekuatan yang tak seberapa, menahan sampan (agar cucu-cucu naik). Sampan kecil siap membelah riak air, membawa para cucu menuju cakrawala baru.
Itu adalah manifestasi estafet harapan antar-generasi tak terputus oleh derasnya arus. Sosok nenek adalah akar kokoh. Meski raga tak lagi mampu berlari kencang, ia memastikan pucuk-pucuk muda memiliki energi agar bertumbuh. Bekal yang disiapkan bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan fondasi filosofis; di dalamnya terkandung,
Sungai Sebagai Ritus Peralihan. Sungai bukan penghalang, tapi ruang transisi. Menyeberangi lah, tiba di sana, raihlah! Ini adalah kepastian tiba di seberang tanpa takut derasnya arus dan buaya-buaya mangap di bawahnya; keberanian keluar dari zona nyaman pangkuan Nenek.
"Seberangi sungai itu, raihlah masa depan!" Bahwa pendidikan adalah daratan baru yang harus dicapai. Sekolah menjadi tujuan dan gudang ilmu pengetahuan yang mengubah garis nasib. Sehingga, Nenek memahami batas perannya; ia mengantar hingga tepian, sementara para cucu harus mendayung menembus arus zaman, yang sering tak bersahabat dengan Anak-anak.
Itulah perjalanan mencari ilmu; wajib, tapi berada dalam koridor tidak aman, namun harus dilewati. Nenek hanya mengantar hingga tepi sungai; melepas cucu-cucu mengayuh sampan dengan kekuatan semangat.
Saat sampan menjauh, Sosok Tua itu tetap berdiri di tepian. Ia tidak ikut menyeberang, namun jiwanya melekat pada setiap kayuhan dayung. Memandang jauh ke depan; sambil memastikan cucu-cucu tiba di seberang dengan aman. Itulah esensi cinta mempersiapkan generasi penerus agar mampu melangkah lebih jauh dari titik di mana pendahulunya berhenti.
Karena kepastian itu, Nenek pulang, dan mampir di pasar; membeli bahan-bahan untuk bekal cucu-cucu besok. Ritus terus terulang; demi masa depan cucu-cucu.