Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Di halaman rumah
Di ladang dan Teras
Di Taman Kota
Kita duduk bersama
Meruntuhkan semua perbedaan
Menyatu tatapan ke masa depan Negeri Tercinta.
Pancasila Rumah Kita
Pancasila untuk Semua
Pancasila Dasar Negara Indonesia
Kita jaga, (kita semua) menjaga.
Saat hujan turun, saat badai menghantam
Ketika goncangan membuat tak berdaya
Kita bagi tempat berteduh
Bergandengan Hati dengan erat
Sehingga tak ada yang runtuh dan terhempas.
Satu tanah, satu harapan
Satu gagasan, satu tujuan, satu semangat.
Menjaga keselarasan, kesatuan,
dan keutuhan Negeri Tercinta.
Pancasila Rumah Kita
Pancasila untuk Semua
Pancasila Dasar Negara Indonesia
Kita jaga, semua (kita semua) menjaga
Hingga keabadian
....
.....

Hari ini, kalender beralih pada lembaran Juni 2026. Seluruh elemen bangsa kembali berdiri pada titik waktu menatap tanggal satu berwujud merah secara formalitas, namun kerap pucat secara esensi.
Pertanyaan lama pernah bergaung dari balik kesahajaan kain sarung sang begawan kembali mengetuk pintu kesadaran: Lalu, setelah menerimanya, apa harus dilakukan?
Satu dekade sejak Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 ditandatangani, transisi makna dari sekadar hari libur menuju hari ingat belum sepenuhnya tuntas. Masyarakat masih menyaksikan realitas serupa: jalan raya dipadati kendaraan bergerak menuju tempat wisata, sementara ruang diskusi publik sunyi dari percakapan ideologis.
Refleksi kritis saya pada tahun 2023 terbukti nyata. ketika hari bersejarah didikte oleh narasi "libur dan liburan", maka substansi historis cenderung larut dalam arus rekreasi superfisial.
Indonesia tahun 2026 berada di persimpangan digital semakin riuh. Algoritma modern mengurung manusia dalam bilik gema masing-masing, memperuncing perbedaan, serta menawarkan ideologi alternatif mengancam tenun kebangsaan.
Di tengah situasi sosiopolitis rentan ini, gagasan mengenai "Bulan Pancasila" wacana tiga tahun silam menemukan relevansi tertinggi.
Publik tidak bisa lagi sekadar menunggu instruksi struktural. Pelembagaan nilai luhur harus diadopsi menjadi kebiasaan kultural, meniru cara bangsa ini merayakan bulan Kartini dengan penuh keintiman sosial.
Jika segenap anak bangsa menolak melihat Garuda berubah warna menjadi Adurag, potret negara amburadul, maka kurikulum pendidikan moral serta asas tunggal organisasi kemasyarakatan harus dikembalikan pada jalurnya.
Pancasila tidak boleh dijadikan tameng kekuasaan ataupun komoditas politik musiman. Ia adalah dasar falsafah sakti, tegak berdiri tanpa perlu dilingkupi stigma masa lalu atau peristiwa berdarah sejarah kelam.
Mendengar jerit lirih sang Garuda menangis karena cengkeraman kaki pada pita kemajemukan mulai goyah, generasi muda hari ini memikul estafet berat.
Jangan biarkan sayap-sayap pusaka itu berguguran hanya karena ego kelompok mendewakan uang maupun kuasa.
Juni 2026 harus menjadi momentum pembalikan arah. Saatnya mengubah hari libur pasif menjadi gerakan kesadaran aktif.
Setiap warga wajib memastikan kaki lambang negara tersebut tetap mencengkeram erat semboyan Bhinneka Tunggal Ika, demi menjaga Indonesia agar tidak terjerumus ke dalam jurang kegelapan tanpa ujung.
Pancasila Rumah Kita