Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Esai Digital Menagih Janji Pemimpin Janji" hadir sebagai refleksi filosofis sekaligus kritik tajam terhadap dinamika politik kontemporer. Melalui "uap kopi" (between the steam of coffee) dan "bersolek diri," membedah citra visual dan estetika buatan yang diagungkan ketimbang realitas serta substansi kesejahteraan rakyat. Juga menantang "gincu retorika" para politisi yang membuai publik saat musim kampanye namun meninggalkan kekosongan pasca-pemilu.
Lihatlah "politik kosmetik" sebagai "bedak" untuk menutupi borok struktural yang mendasar. Ketika pembangunan infrastruktur dijadikan komoditas visual di ruang digital demi meraih simpati, sementara isu-isu substansial seperti
sengaja disembunyikan di balik kemegahan tersebut. Realitas yang disembunyikan pada algoritma media sosial, dan dimanipulasi agar menampilkan keberhasilan superfisial. Pertumbuhan ekonomi tidak bermakna karena jurang ketimpangan sosial tetap menganga lebar "Panen" hasil pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir elite, sementara rakyat jelata hanya menjadi penonton di tanah airnya sendiri.
Between of the Steam of Coffee juga menggugat hilangnya aspek "kasih" atau empati politik. Kasih dalam konteks kebijakan publik ditafsirkan sebagai keberpihakan tulus pada rakyat kecil. Tanpa adanya komitmen moral, politik menjadi angka statistik yang dingin; serta regulasi, hukum, kebijakan, dan keputusan politik dilahirkan tanpa jiwa. Pemimpin hanya lihai "menyemaikan janji" tapi mandul merawat ucapan itu hingga benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Akhirnya, Saya, mungkin juga Anda, "Cukup jaga hati, tetaplah murni." Di antara beton manipulasi informasi dan janji palsu, seruan itu, terdengar seperti ajakan pasrah atau bersikap apatis. Salah! Itu adalah bentuk perlawanan moral. Menjaga hati tetap murni berarti,
Karena kedaulatan sejati seorang warga negara tidak dimulai dari bilik suara, melainkan kejernihan nurani masing-masing.
Masa depan bukan milik mereka yang bersolek dengan kata-kata di baliho atau media sosial; melainkan mereka yang berani bermimpi demi ketulusan bangsa.
10 Juni 2026