Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Peradaban NKRI tidak diuji saat situasi tenang dan nyaman, tapi ketika badai perbedaan pendapat serta benturan kepentingan menerjang fondasi sosial. Fondasi yang telah ada sebelum Indonesia merdeka; dan dalam rahim keragaman itulah Indonesia lahir. Namun, pada sikon serta konteks kekinian, sering terjadi intoleransi dan pemaksaan terhadap kelompok beda. Pemaksaan terhadap "Si Sedikit;" Si Sedikit dipaksa tunduk pada aturan "Sang Banyak" demi kenyamanan sepihak; dan dampak utamanya adalah esensi keadilan dan ruang aktualisasi kemanusiaan terkikis.
Namun! Dalam dinamika sosial bising tekanan massa jalanan, ada komitmen sunyi terus berdenyut. Komitmen indah, "Di ketenangan pagi, pada keteduhan siang, saat dan waktu keheningan malam, ku tetap di sini... menjaga Negeri Tercinta." Ini bukan sekadar untaian kata puitis, melainkan ikrar eksistensial.
Menjaga Indonesia adalah tugas konstan, tidak mengenal jeda waktu dan tidak surut oleh perubahan cuaca politik. Saat ini, "badai dan topan" menghadapi bangsa bukan senjata penjajah, melainkan distorsi nilai-nilai luhur sosio-religius.
Distorsi itu semakin raksasa ketika teks-teks suci pembawa kedamaian justru ditarik ke panggung politik praktis demi melegitimasi intimidasi serta merusak objektivitas hukum, tatanan masyarakat sedang bergerak mundur. Supremasi hukum terancam runtuh, digantikan kebrutalan publik berlindung di balik jargon-jargon kelompok.
Kondisi mengkhawatirkan itu, mungkin Anda dan Saya, hanya mampu membawa "doa sederhana agar tak ada keruntuhan;" diikuti tindakan nyata agar tetap tegak berdiri mempertahankan akal sehat serta ruang toleransi setara. Itu adalah upaya menjaga Negeri.
Bergerak menjaga Negeri membutuhkan ketulusan paripurna. Serta menjadi pembela keragaman sering sunyi dan jauh dari tepuk tangan publik. Namun, tetap dilakukan "tanpa gentar dan ingin pujian." Karena dasarnya mengakar kuat pada tanah, di bumi Indonesia seluruh warga dilahirkan; dan ada masa depan peradaban anak cucu dipertaruhkan.
Oleh sebab itu, jangan pernah lelah dan menyerah pada intoleransi; karena itu adalah kekalahan. Jika Anda dan Saya kalah, berarti merusak masa depan peradaban. "Bagimu negeri, kami setia; Bagimu negeri, kami menjaga dengan jiwa dan raga" merupakan tekad utama yan melampaui sekat-sekat perbedaan suku, ras, maupun agama.
Sehingga walaupun Hukum goyah akibat tekanan, hati nurani setiap elemen bangsa terus berbicara bahwa Indonesia harus tetap menjadi rumah ramah untuk setiap manusia, sekecil apa pun kelompoknya; mereka memiliki ruang merdeka dan bermartabat agar tetap mengaktualisasikan diri.
Hanya dengan bergandengan hati serta menjaga konsistensi merawat keberagaman, kehancuran total eksistensi bangsa dapat dihindari.
