Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Anak-anak merupakan mahkota sekaligus kehormatan tertinggi bagi setiap insan. Mereka adalah fondasi utama penentu arah masa depan peradaban; di tangan merekalah keberlanjutan bangsa dipertaruhkan.
Walau seperti itu, era digital bisa berdampak pada keselamatan terhadap generasi muda. Bahaya tersebut adalah ancaman Predator Child Grooming. Ketika penjahat ini berhasil menjerat korban, terutama remaja putri, mereka merusak serta menghancurkan totalitas eksistensi kemanusiaan secara absolut.
Oleh karena itu, tak ada pembenaran terhadap sikap masa bodoh, diam, cuek, dan "Bukan Urusan Gue." Karena perlindungan terhadap anak-anak bukan melulu domain eksklusif negara atau kalangan tertentu, tapi kewajiban kolektif demi kelangsungan generasi penerus. Seruan "Bersatu Dalam Satu Garis Pertahanan" merupakan panggilan mutlak ke orang tua muda agar menyadari posisi mereka selaku garda terdepan.
Mengingat para pelaku dengan sengaja membangun kedekatan emosional, kepercayaan, serta ikatan palsu melalui sapaan hangat maupun hadiah semu, pasangan muda dituntut memiliki kepekaan ekstra. Pada titik inilah komitmen diuji antara kesibukan karier, tuntutan modernitas, dan keselamatan buah hati. Menyerahkan pengasuhan sepenuhnya ke asisten rumah tangga atau membiarkan gawai menggantikan peran figur ayah ibu adalah kekeliruan fatal.
Pengasuh mungkin mampu memenuhi kebutuhan fisik seperti menyuapi makanan, namun tidak akan pernah bisa menggantikan keintiman psikologis, ketajaman naluri, serta otoritas spiritual orang tua kandung. Saat orang tua absen secara psikologis, anak tumbuh dalam kehampaan emosional. Kondisi kesepian inilah sasaran empuk paling diincar oleh pengintai digital.

