Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Masa depan peradaban Jakarta berada dalam bayang-bayang kerusakan dan kehancuran. Hal itu terjadi akibat Anda dan Saya memilih sunyi terhadap operasi Predator Child Grooming. Kesunyian itu lahir karena "Penyakit Megapolitan" terlalu fokus mengejar mimpi kesuksesan dan meraih harta benda. Sehingga lupa bahwa ketimpangan sosial merupakan lanskap subur terjadinya kejahatan seksual terhadap anak-anak dan remaja putri.
Perlahan tapi pasti, Jakarta akan menjadi wilayah Endemi Predator Child Grooming, sekaligus berpotensi sebagai wilayah dengan tingginya kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak dan remaja putri. Endemi itu mencerminkan para predator berhasil beradaptasi cerdik dengan karakteristik sosiologis masyarakat ibu kota.
Lihatlah! Sudut kota dipenuhi realitas keras kaum marginal berjuang bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi. Sebaliknya, gedung pencakar langit dan kawasan elit dengan keluarga modern yang mapan finansial, namun rapuh emosional. Dua kondisi bertolak belakang itu menghasilkan satu titik lemah yang sama, terciptanya celah pengawasan materiil dan psikologis.

Klaster 1. Permukiman Padat Penduduk, Kaum Miskin Kota, dan Anak Jalanan | Kerentanan Fisik dan Manipulasi di Sektor Informal
Di lingkungan padat dan masyarakat prasejahtera Jakarta, himpitan ekonomi berbanding lurus dengan lemahnya pengawasan fisik. Orang tua, umumnya, bekerja di sektor informal dengan jam kerja sangat panjang demi mencukupi kebutuhan hidup dan kehidupan. Akibatnya, anak-anak terpaksa ada di ruang publik, gang sempit, atau lingkungan sekitar rumah dengan kontrol yang minim.
Dalam situasi tersebut, Predator Child Grooming memanfaatkan kebutuhan dasar anak melalui manipulasi sederhana namun efektif. Mereka membeli jajanan, meminjamkan gawai untuk bermain game, atau memberi uang secara berkala. Semua tindakan yang luput dari perhatian orang dewasa di sekitar anak.
Masyarakat umumnya menilai tindakan tersebut sebagai sesuatu yang biasa dilakukan oleh sosok "Om Baik Hati", tetangga perhatian, atau figur penolong remaja putri. Itulah kesunyian bertindak; ketika publik tidak menyadari modus sang predator. Akibat kesunyian kolektif tersebut, eksploitasi seksual terhadap anak-anak dan remaja putri terkubur dalam hening. Banyak keluarga korban memilih diam karena terhimpit stigma sosial, malu yang mendalam, atau akibat intimidasi fisik dan ekonomi dari pelaku.

Kecukupan materi dan fasilitas mewah di kawasan elit bukan jaminan keamanan. Di lingkungan kelas menengah ke atas, kerentanan justru muncul akibat kekosongan jiwa dan kesepian emosional. Di ruang hampa itulah Predator Child Grooming masuk dan melancarkan operasinya secara terstruktur dan masif.
Kerentanan tersebut diperparah oleh kesibukan karier khas metropolitan. Orang tua mendelegasikan seluruh fungsi pengasuhan pada asisten rumah tangga, gawai, atau kamera pengawas (CCTV).
Anak-anak pun kehilangan figur lekat (attachment figure). Walau tumbuh kembang dengan materi berlimpah, mereka miskin validasi emosional. Mereka tetap berada dalam ruang kesendirian, keheningan, dan kesunyian, walau dengan sekali tekan tombol, rumah mewah mereka bisa berubah menjadi panggung Konser Musik Rock atau Orkestra Kelas Atas.
Dalam keheningan dan kesunyian itulah predator bergerak dengan penuh kepastian. Mereka memanfaatkan segala celah untuk mendekati korban. Sekaligus, predator memuaskan kebutuhan emosional anak, menjadi pendengar yang baik, hingga tercipta kedekatan tanpa batas; bahkan mampu menembus kamar tidur korban. Pada titik kritis tersebut, semua kejahatan terjadi dalam kesunyian.
####
Jelas bahwa manipulasi fisik di gang sempit serta pendekatan psikologis di area kelas atas, yang dilakukan Predator Child Grooming karena kepolosan anak yang berada dalam ruang keheningan, kesendirian, dan kesunyian.
Ketika eksploitasi seksual akhirnya terjadi, korban tidak memiliki daya untuk berteriak. Seandainya pun mereka menjerit nyaring, suara mereka lenyap ditelan kesibukan lingkungan yang egois dan tidak peduli.
Bersambung
