Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana


Kritik terhadap Kebiasaan Menulis yang Monoton. Banyak artikel di media terasa tumpul dan datar bukan karena minimnya ide akibat kemalasan mengeksplorasi kosakata. Pengulangan kata ganti atau kata sambung seperti "yang," "mereka," atau "ia," bahkan memasukkan nama sendiri (Si Penulis) dengan deretan gelar akademis (sisi narsisme dan eksibisionisme penulis pada artikel) dalam satu tarikan napas; menjadikan tulisan kehilangan daya pikat estetis.
Filosofi Write Art | Seni Menulis. Agar menghilang kebiasaan redundansi, ada Stilistika Penulisan yaitu Pendekatan Tidak Ada Kata yang Sama pada Satu Kalimat" atau Pendekatan Non Redundansi. Pendekatan ini mengubah aktivitas menulis dari yang sekadar "mengetik mekanis" menjadi proses kreatif setara dengan melukis.
Latihan Intelektual dan Kognitif. Pendekatan Non Redundansi memaksa otak siapapun yang menulis artikel keluar dari zona nyaman penggunaan template words. Penulis ditantang mencari sinonim, merombak struktur kalimat, dan memperluas khazanah bahasa agar menghasilkan teks yang dinamis, elegan, sekaligus ekspresif.
Opa Jappy

Setiap ketukan jemari di atas papan tik sebenarnya menyimpan potensi magis yang mampu menggetarkan jiwa pembaca. Namun, realitas literasi saat ini, umumnya, para penulis terjebak lingkaran rutinitas mekanis yang membosankan. Mereka memuntahkan frasa berulang tanpa memedulikan keindahan ritme atau kesegaran diksi. Akibatnya, pesan mendalam pun terkubur di balik tumpukan kalimat tumpul berselimut redundansi.
Melukis dengan Kata-kata memerlukan komitmen tinggi sehingga mampu menjelajahi belantara kosakata. Ketika seseorang menolak replikasi istilah serupa pada satu tarikan napas, kreativitas kognitifnya mendadak dipaksa melompat bangun. Proses tersebut butuh ketepatan merangkai huruf dan perjuangan intelektual agar melahirkan estetika berkelas.
Pada proses tersebut, jiwa berpikir Sang Penulis ditantang meninggalkan zona nyaman, kemudian menemukan padanan frasa yang segar serta dinamis.
"Lukisan" yang lahir dari Melukis dengan Kata-kata merupakan Karya Tulis yang Elok, karena ia tak terjangkiti virus template words, redundansi, dan otomatisasi AI, tiga virus yang merusak serta mematikan kognisi penulis di Era Digital.
Penulis yang menjaga diri agar tak terjangkiti virus template words, redundansi, dan otomatisasi AI, maka ia/mereka mencapai tingkatan kesehatan (dan) menulis yang tertinggi; serta lembaran artikelnya berubah wujud menjadi kanvas ekspresi penuh warna. Setiap untaian gagasan mengalir dengan keanggunan ekspresif, mampu mengikat perhatian pembaca sejak baris pertama.
Pada akhirnya, aku berkata, "Berhentilah sekadar memproduksi teks informatif biasa, dan mulailah menggoreskan karya seni sejati yang abadi."
Verba Volant, Scripta Manent
Ucapan akan Lenyap, Kata yang Tertulis Tetap Abadi
Spoken words fly away, written words remain
