Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Virus Mematikan Kognisi Penulis"

27 Juni 2026   16:27 Diperbarui: 27 Juni 2026   16:27 182 0 0

Virus Mematikan Kognisi Penulis | Opa Jappy
Virus Mematikan Kognisi Penulis | Opa Jappy


Merawat Akal Budi Penulis |  Melawan Virus Mematikan Kognisi Penulis 

Virus Mematikan Kognisi Penulis | Opa Jappy 
Virus Mematikan Kognisi Penulis | Opa Jappy 

Menulis merupakan aktivitas kognitif manusia. Di kertas (fisik dan virtual) sebagai alat atau medium, pikiran manusia direkam dan dibentuk; sehingga terlihat dan terbaca. Namun, lanskap literasi modern menghadapi ancaman senyap. Ancaman tersebut datang dari "Kolaborasi Buatan" manusia sendiri; manusia yang menulis atau homo scriptor, vir qui scripsit (tulisan tersebut berdampak Etos, Logos, Pathos).

Tiga kolaborasi "gaya bahasa, redundansi, frasa klise (template words), dan ketergantungan mekanis pada teknologi AI," perlahan tapi pasti, mampu mengikis ketajaman intelektual para perangkai kata. Jika dibiarkan, ketiganya mengubah penulis menjadi operator teks (dan perangkai kata mekanis) yang kehilangan kedalaman berpikir. Serta gagal menjadi tulisan yang berdampak Etos, Logos, Pathos; dengan itu, tulisan hanya sekedar coretan tanpa makna. Oleh sebab itu, penulis, siapapun dia perlu memperhatikan,

Memangkas Redundansi. Bahasa sehat, harus ramping dan bertenaga. Ketika penulis terjebak menggunakan dua (atau lebih) kata pada satu makna tunggal, seperti "maju ke depan" atau "saling bekerja sama," sebetulnya ia sementara memelihara kemalasan berpikir. Karena redundansi merupakan bentuk pemborosan energi mental.

Kelebihan kata-kata tak menambah bobot tulisan, melainkan mengubur gagasan utama di balik tumpukan frasa tak berguna. Penulis yang melatih kognisinya dengan baik, selalu mencari satu diksi paling presisi, tajam, dan langsung menghujam inti pesan.

Menolak Template Words, katakanlah "Pola Seragam." Saat ini, sangat banyak tulisan terlihat seragam, seolah keluar dari pabrik yang sama. Keseragaman itu, walau tak sengaja, terjadi karena penggunaan frasa pasaran secara berulang. Ungkapan-ungkapan akrab seperti "di era globalisasi" atau "langkah awal yang krusial" telah kehilangan daya magisnya akibat terlalu sering diadopsi tanpa sensor kritis.

Menggunakan "kata-kata pabrikan" produk masal Template Words, karena banyakan orang lakukan, merupakan jalan pintas merusak keunikan karakter personal penulis (author's voice).

Karena, umumnya, otak manusia secara alami memilih jalur termudah. Jika mengikuti pilihan tersebut dengan setia, maka terjadi kematian kemampuan eksplorasi kosakata. Penulis sejati harus berani menolak kenyamanan frasa instan demi menemukan analogi baru yang segar dan menggugah rasa ingin tahu pembaca.

Mengendalikan Otomatisasi AI. Pada ranah penulisan, Kecerdasan Buatan (AI) menawarkan kecepatan mutakhir memproduksi teks. Tapi, efisiensi tersebut bisa memunculkan risiko atrofi mental pada diri penulis.

Ketika seluruh proses konseptualisasi, penyusunan struktur, hingga pemilihan kosakata diserahkan sepenuhnya pada mesin (aplikasi AI) maka fungsi otak penulis menyusut dan hanya menjadi validator pasif. Karena AI bekerja berdasarkan probabilitas statistik dari data masa lalu atau sudah tersedia; sedangkan tulisan hebat lahir dari keunikan pengalaman, empati, dan intuisi manusiawi.

Menggunakan AI secara membabi buta, melahirkan teks rapi secara tata bahasa, tapi dingin dan hampa tanpa jiwa. Oleh sebab itu, AI harus diletakkan sebagai mitra diskusi, bukan pengganti fungsi dasar berpikir.

####

Melawan ketiga virus yang merusak, menghancurkan, dan mematikan kognisi penulis itu perjuangan menjaga martabat berpikir.

Menulis dengan cara memadukan hasil olah-pikir sendiri dengan (data secukupnya) dari AI, maka penulis mampu mempertahankan kedaulatan logika, merawat ketajaman logika, bahkan menciptakan diksi-diksi serta frasa baru.

Pada akhirnya, takhta tertinggi seorang penulis bukan banyak buku, artikel, jurnal; melainkan (i) kemampuan menggetarkan kesadaran pembaca, (ii) seberapa diksi dan frasa baru yang tercipta dari Melukis dengan Kata-kata.

Verba Volant, Scripta Manent
Ucapan akan Lenyap, Kata yang Tertulis Tetap Abadi
Spoken words fly away, written words remain


Opa Jappy | Penggagas Melukis dengan Kata-kata