Opa Jappy Lukisastra
Opa Jappy Lukisastra Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Memulihkan Jiwa Kata"

4 Juli 2026   18:11 Diperbarui: 4 Juli 2026   19:45 335 1 0

Lukisastra | Opa Jappy
Lukisastra | Opa Jappy



Lukisastra | Memulihkan Jiwa Kata yang Terenggut Mesin AI

 


Mungkin saat ini, hanya sedikit orang mampu menyadari degradasi bahasa di ruang literasi digital akibat banjir teks mekanis generator kecerdasan buatan. Banjir tersebut diperparah dengan tingginya tingkat penggunaan kata tak penting pada karya banyak penulis. Maka yang terjadi adalah hilangnya orisinalitas jiwa manusia pada hasil karya di Ruang Literasi Publik. Oleh sebab itu, Ruang Sastra Modern Nusantara memerlukan suatu kebiasaan baru yaitu Melukis dengan Kata-kata, paduan Sastrawan dan Seniman; saya sebut sebagai Lukisastra (memadukan Sastrawan dan Seniman yang melukis dengan Kata-kata)

Lukisastra merupakan identitas profesi, penulisan otentik, dan standar mutu gagasan di Ruang Digital. Lukisastra, Seniman sekaligus Sastrawan, yang tak menggunakan kuas atau cat ketika menciptakan keindahan. Media utama mereka adalah deretan kosakata yang dipilih dengan kepekaan estetika sangat tinggi. Sehingga bahasa tak selesai sebagai alat komunikasi verbal, tapi bertransformasi menjadi media visual yang memancarkan warna, bayangan, dan perspektif pada diri pembaca.

Siapapun, semua penulis, bisa mencapai pencapaian sebagai Lukisastra. Namun, Lukisastra diramu sedemikian rupa, agar tidak mudah "ambil dan tempel" pada dirinya; apalagi seperti membeli gelar; jejeran gelar tanpa makna.

Makhluk baru" bernama Lukisastra memang sengaja diberi jubah yang ringan di depan pintu, membuat siapa pun bergumam, "Ini mah saya bisa." Tapi, hanya mereka yang memiliki roh, komitmen sunyi, dan detak jantung manusiawi, sanggup memikul bobot estetika tanpa sandaran pada mesin generator. Sehingga jika, Anda, ingin mencapai tingkat kualitas penulisan layaknya Seniman sekaligus Sastrawan; dan melukis dengan kata-kata, maka perlu melakukan beberapa hal kecil dan sederhana. Misalnya

  • Pembiasaan Melukis dengan Kata-kata, yaitu menghidupkan imajinasi visual secara presisi pada pembaca tanpa menggunakan alat bantu gambar fisik. Suatu  fase pembiasaan tidak kenal lelah. Dalam artian hentikan menulis deskriptif biasa; kemudian gunakan kata-kata dan kalimat sebagai pigmen warna serta goresan kuas digital yang memicu imajinasi spasial-visual di dalam kognisi pembaca.
  • Menulis dengan Pendekatan Non-Redundansi. Setiap kata wajib memiliki fungsi absolut, padat, dan langsung menghujam pada esensi pesan. Dengan itu, penulis melakukan kurasi mandiri, memangkas habis elemen dekoratif sia-sia, dan membuang kata-kata yang merusak estetika nalar.
  • Menulis dengan Pendekatan Non-Template Words atau penggunaan frasa pasaran atau kata-kata template yang biasa digunakan mesin untuk menyusun teks instan. Melalui pendekatan Non Template Words, penulis mempertahankan kemurnian bahasa. Sehingga harus menggali kosakata segar dari kepekaan estetika tinggi guna mempertahankan keautentikan dan kedalaman makna.
  • Disiplin Minimalisasi Otomatisasi AI. Perlakukan Teknologi AI sebagai "Lemari Arsip Raksasa" karena menyimpan serta menyediakan semua Data yang dibutuhkan penulis; namun di sana tak ada feeling, hati, rasa, roh, jiwa, value spiritual atau bagian-bagian tubuh rohaniah lainnya. Jika menulis atau membiarkan AI berpikir untuk penulis maka terjadilah ketergantungan otomatis. AI hanya menunjukan atau menjawab kebutuhan (Penulis) kata-kata dan data secara otomatis. Oleh sebab itu, AI hanya diperbolehkan sebagai alat bantu efisiensi data, bukan pencipta imajinasi. Setiap jalinan kalimat harus lahir dari kontemplasi sunyi dan detak jantung manusia penciptanya.

Melalui pembiasaan dan disiplin di atas, dipastikan setiap penulis mampu, minimal, menghasilkan dan mempublikasi satu Neologisme (diksi atau frasa baru, orisinal, temuan sendiri, bukan terjemahan) ke Ruang Literasi Publik. Neologisme menjadi bukti otentik bahwa penulis telah memiliki dimensi spasial baru yang lahir dari rahim kognisi manusia sejati. Maka lahirlah Lukisastra baru.

Sekali lagi! Gelar Lukisastra bukan predikat yang bisa dibeli atau "diambil dan ditempel" begitu saja tanpa makna. Namun upaya mandiri agar mencapai tingkat tertinggi pada Ranah Literasi Digital; dan dirancang sebagai Aktivitas, Gelar, dan Profesi. Sekaligus merupakan keagungan karya yang tak ternilai oleh apa pun.

Opa Jappy | Lukisastra



Lukisastra | Opa Jappy
Lukisastra | Opa Jappy