Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Mungkin saat ini, hanya sedikit orang mampu menyadari degradasi bahasa di ruang literasi digital akibat banjir teks mekanis generator kecerdasan buatan. Banjir tersebut diperparah dengan tingginya tingkat penggunaan kata tak penting pada karya banyak penulis. Maka yang terjadi adalah hilangnya orisinalitas jiwa manusia pada hasil karya di Ruang Literasi Publik. Oleh sebab itu, Ruang Sastra Modern Nusantara memerlukan suatu kebiasaan baru yaitu Melukis dengan Kata-kata, paduan Sastrawan dan Seniman; saya sebut sebagai Lukisastra (memadukan Sastrawan dan Seniman yang melukis dengan Kata-kata)
Lukisastra merupakan identitas profesi, penulisan otentik, dan standar mutu gagasan di Ruang Digital. Lukisastra, Seniman sekaligus Sastrawan, yang tak menggunakan kuas atau cat ketika menciptakan keindahan. Media utama mereka adalah deretan kosakata yang dipilih dengan kepekaan estetika sangat tinggi. Sehingga bahasa tak selesai sebagai alat komunikasi verbal, tapi bertransformasi menjadi media visual yang memancarkan warna, bayangan, dan perspektif pada diri pembaca.
Siapapun, semua penulis, bisa mencapai pencapaian sebagai Lukisastra. Namun, Lukisastra diramu sedemikian rupa, agar tidak mudah "ambil dan tempel" pada dirinya; apalagi seperti membeli gelar; jejeran gelar tanpa makna.
Makhluk baru" bernama Lukisastra memang sengaja diberi jubah yang ringan di depan pintu, membuat siapa pun bergumam, "Ini mah saya bisa." Tapi, hanya mereka yang memiliki roh, komitmen sunyi, dan detak jantung manusiawi, sanggup memikul bobot estetika tanpa sandaran pada mesin generator. Sehingga jika, Anda, ingin mencapai tingkat kualitas penulisan layaknya Seniman sekaligus Sastrawan; dan melukis dengan kata-kata, maka perlu melakukan beberapa hal kecil dan sederhana. Misalnya
Melalui pembiasaan dan disiplin di atas, dipastikan setiap penulis mampu, minimal, menghasilkan dan mempublikasi satu Neologisme (diksi atau frasa baru, orisinal, temuan sendiri, bukan terjemahan) ke Ruang Literasi Publik. Neologisme menjadi bukti otentik bahwa penulis telah memiliki dimensi spasial baru yang lahir dari rahim kognisi manusia sejati. Maka lahirlah Lukisastra baru.
Sekali lagi! Gelar Lukisastra bukan predikat yang bisa dibeli atau "diambil dan ditempel" begitu saja tanpa makna. Namun upaya mandiri agar mencapai tingkat tertinggi pada Ranah Literasi Digital; dan dirancang sebagai Aktivitas, Gelar, dan Profesi. Sekaligus merupakan keagungan karya yang tak ternilai oleh apa pun.
