Opa Jappy Lukisastra
Opa Jappy Lukisastra Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Menunda Kematian"

14 Juli 2026   15:47 Diperbarui: 14 Juli 2026   15:47 299 1 0

Menunda Kematian | Opa Jappy 
Menunda Kematian | Opa Jappy 


Esai Digital 

Menunda Kematian | Seruan dan Kepasrahan kepada Sang Pencipta



Kematian merupakan kepastian pada linimasa hidup dan kehidupan manusia. Namun, pada mereka yang sedang berada di titik nadir, karena penyakit, penderitaan fisik, maupun tekanan mental yang hebat, bayang-bayang kematian sering datang terlalu cepat dan terasa menyesakkan. Pada sikon tak berdaya tersebut, manusia menyadari keterbatasannya dan berpaling pada kekuatan yang lebih besar.

Pergulatan spiritual itulah yang tercermin pada diri Pemazmur; diringkas sebagai "Menunda Kematian." Suatu refleksi mendalam mengenai rintihan manusia yang memohon perpanjangan waktu serta belas kasih dari Tuhan.

Saat itu, dalam kejauhan waktu, Pemazmur menggambarkan penderitaan pekat. Dalam kepedihan, ia mengalami hari-hari menguap seperti asap, tulang-tulang membara laksana perapian, dan hatinya layu bak rumput terinjak. Penderitaannya melewati batas fisik yang terlihat; yakni kesepian mendalam, seperti burung terpencil di atas rumah, terjaga di malam hari tanpa bisa terlelap. Dalam keterpurukan tersebut, air mata menjadi makanan sehari-hari, diiringi nada celaan dan cemoohan dari lingkungan sekitar; mereka yang harusnya empati dan simpati, malah mengutuk.

Walsu seperti itu, ketika berada pada situasi akhir dari segala sesuatu terasa begitu dekat dan hampir mencapai garis akhir kehidupan, segala daya upaya manusiawi runtuh; terjadi titik balik kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual itu, ketika tidak ada lagi yang bisa dilakukan secara mandiri, satu-satunya jalan dan kesempatan tersisa adalah berseru meminta tolong pada Tuhan, serta Memohon Perpanjangan Umur. Itulah permohonan yang paling menyentuh, "Ya Allahku, jangan ambil aku pada pertengahan umurku."

Permintaan agar "menunda kematian" atau menambah durasi hidup dan kehidupan itu, tak lahir karena keegoisan, melainkan dari tanggung jawab moral dan ikatan kasih kemanusiaan. Serta menyadari masih banyak tugas belum diselesaikan, rencana yang belum terwujud, serta masa depan anak, cucu, orang-orang terkasih di sekitarnya belum siap untuk ditinggalkan.

Respons dari Tuhan dan Pengharapan Manusia

Ternyata Tuhan tidak menutup telinga terhadap rintihan makhluk-Nya. Dalam keyakinan Pemazmur, "Tuhan memandang dari Surga ke Bumi, mendengar keluhan dan membebaskannya. Berseru pada Tuhan sebagai satu-satunya jalan keluar yang mendatangkan jawaban. Tuhan sebagai sosok yang memahami kepahitan hidup dan kehidupan yang dialami setiap individu secara personal, bahkan ketika orang lain tidak mengetahuinya."

Melalui keyakinan tersebut, sekaligus ajakan moral ke setiap individu agar mendukkan kepala dan mengakui ketidakmampuan di hadapan Sang Pencipta. Harapan yang dinaikkan bukan sekadar kesembuhan fisik atau panjang umur, melainkan kekuatan agar mampu menegakkan kembali langkah kaki demi menyongsong hari esok dengan sukacita.

Akhirnya, "Menunda Kematian" dalam konteks spiritual, bukan upaya melawan takdir secara medis atau teknologi, melainkan bentuk penyerahan diri melalui doa karena kerapuhan eksistensi sebagai manusia. Serta kesadaran bahwa durasi hidup dan kehidupan dapat diubah oleh belas kasihan Tuhan.

Opa Jappy, Lukisastra | Pro Life Indonesia


Puing-puing Jiwa | Opa Jappy 
Puing-puing Jiwa | Opa Jappy