Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Pada Era Kekinian Kata-kata Baru lahir dari Lukisastra. Lukisastra lahir dari disiplin Pembiasaan Melukis dengan Kata-kata atau Write Art, yaitu menghidupkan imajinasi visual secara presisi pada pembaca tanpa menggunakan alat bantu gambar fisik. Setiap karya wajib memenuhi syarat,
Pembiasaan tersebut, akan melahirkan kata, diksi, frasa-frasa baru, yang mungkin saja tak terduga. Neologisme (diksi atau frasa baru, orisinal, temuan sendiri, bukan terjemahan) tersebut kemudian dipublikasikan ke Ruang Literasi Publik.
Jauh sebelum ada "Bahasa," manusia menyampaikan ide, gagasan, kemauan, hasrat, ungkapan hati dan lain sebagainya ke/pada sesamanya melalui (dengan cara) isyarat, gambar, garis-garis di tanah, kata-kata, atau pun bertindak (agar sesamanya yang lain mengerti).
Waktu itu, para genius masa lalu mengumpulkan, menata, dan mengsistimatis kata-kata serta kalimat sehingga mencapai kesamaan makna sekaligus dipahami, dimengerti bersama pada suatu komunitas. Itulah permulaan Bahasa.
Pada perkembangan kemudian, ringkasnya, martabat, Kognisi, Kebesaran Peradaban tidak dinilai dari banyak kata yang dihafal atau penguasaan Bahasa Asing, tapi seberapa hidup kata-kata, kalimat, frasa, paragraf, dan karya mampu menggerakkan jiwa dan memahat imajinasi sesama, terutama mereka yang mendengar dan baca.
Itu juga bermakna, untuk mengisi kekosongan dan hambatan komunikasi, mencapai keutuhan pemahaman, perlu memunculkan kata, diksi, frasa baru; sekaligus memperkaya kosakata Bahasa. Tantangan menciptakan minimal satu neologisme (diksi atau frasa baru yang orisinal) bukan sekadar tugas kreatif biasa. Tapi, pada seorang Pendidik, Ilmuwan, Akademisi, adalah puncak dari dialektika berpikir.
Jadi, tak salah jika Saya katakan, "Kekayaan Intelektual Guru sebagai Rahim Neologisme." Karena mereka sudah punya modal sebagai guru dan akademisi S1 hingga S3. Guru atau Pendidik memiliki kepekaan rasa dan ketajaman observasi terlatih. Sepanjang karier, terbiasa mengamati dinamika manusia, menatap tatapan kosong siswa yang kebingungan, meraba keheningan ruang ujian, atau menangkap binar kepuasan saat sebuah konsep rumit akhirnya dipahami.
Sementara itu, latar belakang akademis S2 dan S3 membekalinya dengan metodologi berpikir ketat, kedalaman analisis, serta kemampuan membedah fenomena abstrak. Kolaborasi antara kepekaan indrawi seorang pendidik dan ketajaman metodologis seorang ilmuwan adalah rahim terbaik lahirnya neologisme yang berbobot. Kolaborasi itu bukan mencari kata-kata keren tanpa makna. Tapi, menemukan solusi linguistik yang selama ini belum terwakili oleh kamus arus utama.
Mereka, para guru biasa menulis karya ilmiah atau modul ajar; tahu persis bagaimana cara mematuhi prinsip Non-Redundansi, Non Template Words, Otomatisasi AI yang terangkai dalam Write Art. Dengan itu, Guru bergerak dari Ruang Sunyi Akademis Menuju Hamparan Literasi Publik; sambil mengisi kekosongan kosakata. Itu adalah sumbangan abadi; melebihi puluhan di Ruang Kelas. Kata Baru yang tercipta para Guru, tetap abadi hingga kehancuran semesta.
Itu adalah bentuk pertanggungjawaban sebagai kaum intelektual. Tidak hanya mendidik lewat kurikulum, tapi memperkaya bahasa. Ketika satu kata baru yang lahir dari rahim pemikiran seorang guru, dan berhasil diadopsi masyarakat publik dan mampu menghidupkan imajinasi visual mereka dengan presisi; di sanalah keabadian seorang pendidik termanifestasi.
Mari kembali menjadi murid di hadapan semesta, mempertajam kepekaan visual, dan menelurkan minimal satu diksi baru yang murni, padat, dan menusuk kalbu.
Di tangan para pendidik, bahasa tidak khan pernah mati; tapi terus lahir dengan warna-warna baru lebih tajam dan bermakna.
Opa Jappy, Lukisastra | Pencipta Kata
- Lukisastra
- Amputasi Komunikasi
- Politisi Halunistik
- Halunistik Politik
- Hermeneutika Politik
- Endemi Klaster Predator Child Grooming
- Syndrome Tak Mau Dibantah
- Denial Politik
- Minoritas Terpinggirkan dan Mayoritas Penentu
Masih banyak lagi
