Opa Jappy Lukisastra
Opa Jappy Lukisastra Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Neologisme

21 Juli 2026   16:48 Diperbarui: 21 Juli 2026   17:16 232 1 0

Menciptakan Kata-kata | Opa Jappy 
Menciptakan Kata-kata | Opa Jappy 


Tanpa Kata, Tak Ada Buku

Ketika Orang-orang Menerbitkan Buku, Saya Menciptakan Kata-kata 

-Opa Jappy-




Di kejauhan masa dan waktu, manusia menyampaikan ide, gagasan, kemauan, hasrat, ungkapan hati dan lain sebagainya ke/pada sesamanya melalui (dengan cara) isyarat, gambar, garis-garis di tanah, kata-kata, atau pun bertindak (agar sesamanya yang lain mengerti). Waktu itu, para genius masa lalu mengumpulkan, menata  kata-kata serta  kalimat sehingga mencapai kesamaan makna sekaligus dipahami, dimengerti bersama pada suatu komunitas. Itulah permulaan Bahasa.

Pada sikon dan konteks kekinian, Anda dan Saya juga berpeluang atau berpotensi menciptakan Kata, Kata-kata, Diksi, dan Frasa Baru agar mengisi kekosongan dan hambatan komunikasi, mencapai keutuhan pemahaman; kata-kata baru yang belum ada di/dalam Kamus. Untuk mencapai sebagai Pencipta Kata perlu berproses, pembiasaan, dan disiplin.

Berproses agar bisa menciptakan Kata-kata bukan sekedar menulis/menghasilkan/publikasi Artikel. Tapi, pembiasaan Menulis dengan Pendekatan Estetika Write Art atau Melukis dengan Kata-kata

  • 1. Non Redudansi. Non-redundan; tidak ada ada kata yang sama pada satu kalimat. Misalnya "yang, dan, kita, saya, sebuah, dan lainnya sebagainya, cukup hanya sekali disebut ada pada kalimat; sangat banyak kosakata pengganti. 
  • 2. Non Template Words; tanpa kata-kata otomatis dan pasaran, populer; seperti hasil "pabrik kata" dari internet sehingga membuat kalimat berputar-putar; termasuk tanpa banjir nama (sendiri) di paragraf, dll
  • Non Otomatisasi AI. AI hanya bersifat arsip, asisten, dan penyiapan draft atau menghindari ketergantungan penuh. Manusia lah, dengan kekuatan kognisinya, yang melakukan penyelesaian akhir. Hal tersebut demi menjaga otentisitas karya, orisinalitas, dan sentuhan emosi manusia.


Jika sudah mencapai penulisan dengan Pendekatan Write Art (ini perlu disiplin, tekad, dan niat); dilanjutkan dengan

  • 1. Menciptakan Frasa atau pun Diksi Baru; paling mudah dengan cara membaca ulang artikel-artikel yang pernah ditulis; Kemudian publikasi gagasan filosofi di dalamnya dan penggunaannya
  • 2. Hindari frasa dan diksi tanpa penjelasan filosofis serta kegunaannya di Ruang Literasi Publik
  • 3. Kontempelasi agar menemukan Kata Baru; melalui atau di dalam artikel-artikel yang pernah ditulis sebelumnya.


Jika menemukan "Kata Baru" hasil oleh pikir sendiri, maka lakukan Kurasi Mandiri. Diksi atau frasa baru harus ditopang oleh landasan filosofi serta kejelasan fungsi dalam ruang literasi. Kata baru tanpa penjelasan teoretis dan kegunaan praktis hanya akan menjadi jargon kosong.

  • 1. Tulis Kata Baru itu di Google atau Platform (sebanyak mungkin) agar mendapatkan kepastian bahwa Kata Baru (ciptaan sendiri) itu, benar-benar original atau belum pernah ada. Melakukan verifikasi empiris (melalui penelusuran mesin pencari/platform) untuk memastikan bahwa kata yang dihasilkan belum pernah digunakan pada domain publik.
  • 2. Publikasi "Kata Baru" tersebut sebagai Neologisme
  • 3. Jangan Lelah berproses sehingga mencapai Lukisastra

Ingatlah! Kata Baru atau Neologisme tak muncul secara instan di pikiran; tapi melalu proses olah Kognisi

Opa Jappy, Lukisastra  | Pencipta Kata



Neologisme | Opa Jappy 
Neologisme | Opa Jappy