Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Tanpa Kata, Tak Ada Buku
Ketika Orang-orang Menerbitkan Buku, Saya Menciptakan Kata-kata
-Opa Jappy-
Di kejauhan masa dan waktu, manusia menyampaikan ide, gagasan, kemauan, hasrat, ungkapan hati dan lain sebagainya ke/pada sesamanya melalui (dengan cara) isyarat, gambar, garis-garis di tanah, kata-kata, atau pun bertindak (agar sesamanya yang lain mengerti). Waktu itu, para genius masa lalu mengumpulkan, menata kata-kata serta kalimat sehingga mencapai kesamaan makna sekaligus dipahami, dimengerti bersama pada suatu komunitas. Itulah permulaan Bahasa.
Pada sikon dan konteks kekinian, Anda dan Saya juga berpeluang atau berpotensi menciptakan Kata, Kata-kata, Diksi, dan Frasa Baru agar mengisi kekosongan dan hambatan komunikasi, mencapai keutuhan pemahaman; kata-kata baru yang belum ada di/dalam Kamus. Untuk mencapai sebagai Pencipta Kata perlu berproses, pembiasaan, dan disiplin.
Berproses agar bisa menciptakan Kata-kata bukan sekedar menulis/menghasilkan/publikasi Artikel. Tapi, pembiasaan Menulis dengan Pendekatan Estetika Write Art atau Melukis dengan Kata-kata
Jika sudah mencapai penulisan dengan Pendekatan Write Art (ini perlu disiplin, tekad, dan niat); dilanjutkan dengan
Jika menemukan "Kata Baru" hasil oleh pikir sendiri, maka lakukan Kurasi Mandiri. Diksi atau frasa baru harus ditopang oleh landasan filosofi serta kejelasan fungsi dalam ruang literasi. Kata baru tanpa penjelasan teoretis dan kegunaan praktis hanya akan menjadi jargon kosong.
