Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

1. Ketakutan irasional kolektif untuk menyatakan kebenaran atau membela korban kekerasan, ketidakadilan, penindasan, diskriminasi SARA, dan aksi kriminal lainnya karena cemas akan distigma, diintimidasi, atau dikeluarkan dari lingkaran kelompok dominan.
2. Keadaan mendadak hilangnya kesadaran etik dan empati sosial di kalangan kaum terdidik atau kelas menengah saat berhadapan dengan narasi radikalisme yang intimidatif.
3. Keheningan Komplisit, Complicit Silence. Diam yang tidak lagi bersifat netral, melainkan secara tidak langsung bersekutu dengan pelaku kejahatan atau intoleransi, karena memberi ruang bebas bagi kebrutalan untuk terus berjalan.
Sejarah mengingatkan bahwa kejahatan merajalela bukan semata-mata karena banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik. Silent Majority.yang terus mengurung diri dalam kerangkeng zona nyaman secara tidak sadar membiarkan sendi-sendi kebangsaan tergerus oleh radikalisme.
Gagasan "Mayoritas Diam," Silent Majority ada kedalaman lanskap sosial-politik Indonesia, tidak lahir di hamparan kosong. Namun, terbentuk dari serpihan-serpihan kehancuran Estetika Ruang Publik pasca-Reformasi 1998 hingga kurun waktu 2010--2014. Era yang ditandai oleh paradoks demokrasi; kebebasan berpendapat terbuka lebar; serta lonjakan signifikan pada aksi-aksi intoleransi, diskriminasi SARA, serta kekerasan berbasis agama dan etnis.
Di tengah aksi kelompok radikal dan intoleran yang begitu bising dan agresif, muncul fakta memprihatinkan, sebagian besar masyarakat memilih diam. Kaum terdidik, akademisi, tokoh agama, politisi, hingga media massa seolah terserang kelumpuhan ekspresi dan terserang Virus Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan stadium akut. "Diamnya publik yang tidak tertimpa dampak langsung" inilah memicu keprihatinan mendalam para aktivis dan pendidik, hingga akhirnya melahirkan diskursus tajam mengenai watak asli Silent Majority Orang Indonesia.
Penyebab Mayoritas Memilih Diam. Diamnya Silent Majority bukan sekadar netralitas tanpa makna, melainkan hasil beberapa konstruksi psikologis dan sosial
Akibatnya, kebisuan itu memberi panggung ke kelompok radikal merasa bahwa tindakan brutal mereka mendapat persetujuan implisit, bahwa "Semua Diam, tanda Setuju dan Mendukung. Mereka pun terus menerus melakukan aksi-aksi tanpa hambatan dari siapapun, bahkan dari aparat keamanan (yang selalu datang terlambat).
Menghadapi tantangan itu, langkah terpenting adalah melakukan koreksi diri kolektif dan mentransformasikannya menjadi perlawanan nirkekerasan. Mematahkan Mayoritas Diam, tidak harus melalui panggung besar; bisa dimulai dengan membiasakan diri menyuarakan toleransi, keadilan, dan kesetaraan di lingkungan terdekat, keluarga, ruang kelas, hingga pergaulan sehari-hari.
Hanya dengan keberanian untuk bersuara, Silent Majority dapat bertransformasi menjadi Active Majority yang menjaga keutuhan kemanusiaan dan Indonesia.
1. Amputasi Komunikasi
2. Denial Politik
3. Distorsi Integritas
4. Klaster Endemi Predator Child Grooming
5. Hermeneutika Politik
6. Intelektual Kikir
7. Jurnalisme Daur Ulang
8. Liternarsisme atau Literasi Narsisme
9. Lukisastra
10. Mayoritas Diam
11. Minoritas Terpinggirkan dan Mayoritas Penentu
12. Politisi Halunistik dan Halunistik Politik
13. Sindrom Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan
14. Sindrom Tak Mau Dibantah
15 ...
16. ..
