Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Nepotisme, "Estetika Literasi" | Krisis Kebahasaan Modern.
Tingkat melek huruf secara kuantitatif tinggi, tapi mengalami pembusukan kualitatif atau literacy decadence. Manusia mahir memproduksi teks, tapi kehilangan kemampuan bernalar secara mendalam. Estetika Literasi lahir karena, "Selama ini belum ada satu istilah tunggal yang mengaitkan efisiensi bahasa, kedaulatan nalar, dan etika empati."
Istilah seperti "Literasi Digital" atau "Literasi Media" terlalu berfokus pada peranti, bukan martabat akal budi kemanusiaan. Sehingga Neologisme Estetika Literasi dirancang diterapkan secara praktis pada tiga arena penulisan
Neologisme Estetika Literasi merupakan (i) seni berpikir dan berbahasa yang bermartabat, (ii) keterampilan, keahlian, dan kesadaran merangkai kata, menyampaikan gagasan, serta menyerap informasi secara presisi, bernalar, dan sarat empati, (iii) sikap mental dan disiplin berbahasa yang secara aktif menolak kedangkalan makna, redundansi, template words, serta mempertahankan kedaulatan nalar manusia di era otomatisasi digital.
Estetika Literasi bukan penggabungan kata secara acak, melainkan kerangka nilai, ethical-linguistic framework | Prinsip Estetika Literasi
1. Kedisiplinan Presisi Non-Redundansi. Prinsip tata bahasa yang menuntut efisiensi ekstrim tanpa mengorbankan makna. Setiap kata berfungsi spesifik; membuang struktur berbelit-belit, pengulangan sinonim, dan basa-basi teks.
2. Otentisitas Ekspresi Non-Template Words. Penolakan terhadap kosakata pasaran, slogan klise, dan bentukan frasa seragam buatan "mesin/pabrik internet." Menulis dengan olah rasa murni yang peka terhadap konteks.
3. Kedaulatan Nalar Manusia, Non-Otomatisasi Teks AI. Penegasan bahwa teks adalah produk kesadaran kognitif dan emosional manusia. Menolak penyerahan kemudi berpikir, pembuatan keputusan etis, dan penyusunan argumen kepada algoritma generatif.
4. Empati dan Ketinggian Budi, Ethical Elegance. Keindahan tulisan dan ketajaman berpikir harus bermuara pada penghormatan terhadap martabat manusia, menolak vandalisme digital fitnah, dan narasi intoleran.
Kompasiana sebagai Panggung Estetika Literasi | Kompasiana pernah menjadi salah satu ruang paling berharga di jagat digital Indonesia. Begitu megah "Gedung Virtual" itu; sehingga mampu menampung opini atau kabar harian; serta panggung ide-ide dirawat, keindahan bahasa dirayakan, dan kedalaman berpikir dihargai. Masa Emas Kompasiana itu, kini, saya sebut "Ruang Pertama Estetika Literasi." (Anda perhatikan Narasi di Video).
Itu Doeloe! Bagaimana Kompasiana era sekarang!? Seiring pesatnya arus informasi, Estetika itu tergerus godaan lalu lintas percakapan yang serba cepat, instan, dan sekadar berburu perhatian. Sangat banyak postingan (dapat Label Admin pula) di Kompasiana kehilangan keindahan struktur kalimat, ketajaman analisis, serta kehangatan empati; dan sekedar jumlah postingan tanpa kualitas literasi
Bayangkan saja (i) artikel kaya redudansi, template words, serta copas AI yang muter-muter; artikel panjang hingga lebih dari 5 halaman, namun intinya hanya 3-5 paragraf, (ii) paragraf yang hanya satu kalimat, tak nyambung ke alinea di atas dan bawah, (iii) artikel bersifat Literasi Narsisme atau Liternarsisme, isinya hanya cerita diri, dan membangun personal branding yang salah kaprah, dll muncul setiap hari, (iv) sangat banyak artikel hanya copas dari platform AI dan edit beberapa kata, sehingga Kompasiana menjadi hamparan publikasi Literasi Daur Ulang dari "mesin cerdas."
Sikon itu diperparah munculnya "Para Pemburu Label Like" dan "Komentar;" mereka hanya asal-asalan atau sekedar lihat judul. Maka terjadilah distorsi kejujuran literasi. Misalnya, Esai Digital (dari Saya) tentang Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak, diberi label Menghibur dan komentar "videonya sangat menghibur." Sehingga, mudah menemukan komentar yang sekedar Template Words seperti "tulisan bagus, sangat inspiratif, bahasan yang indah, dll" tak menyentuh isi artikel. Itu hanya karena "mengejar poin dan komentar balik," bukan tanggapan jujur terhadap karya yang dibaca. Bahkan, muncul juga Vandalisme Digital, menulis teks di kolom komentar yang bersifat penghinaan, penistaan, dan cacian. Prihatin dan Sungguh Memalukan.
Karena itu, sudah saatnya memutar balik arah Kompasiana. Mengembalikan Kompasiana sebagai panggung Estetika Literasi. Hal tersebut bermakna
Mari jadikan Kompasiana kembali hangat oleh tulisan-tulisan yang tak hanya dibaca, tapi juga dirasakan dan diendapkan.
Neologisme dari Opa Jappy
1. Amputasi Komunikasi
2. Denial Politik
3. Distorsi Integritas
4. Estetika Literasi
5. Klaster Endemi Predator Child Grooming
6. Hermeneutika Politik
7. Intelektual Kikir
8. Jurnalisme Daur Ulang
9. Liternarsisme atau Literasi Narsisme
10. Lukisastra
11. Mayoritas Diam
12. Minoritas Terpinggirkan dan Mayoritas Penentu
13. OdBK, Orang dengan Beban Kebencian
14. Politisi Halunistik dan Halunistik Politik
15. Sindrom Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan
16. Sindrom Tak Mau Dibantah
