Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Jeritan Hati Putra-Putri Negeri Seribu Sungai
Kapuas dan ratusan anaknya sejak masa lalu telah merajut hidup dan kehidupan Kalbar, Negeri Seribu Sungai. Di Tanah itu, tersusun sejarah, budaya, dan cita-cita Anak-anak Negeri. Dari hamparan luas tepian dan ketenangan Kapuas hingga Rimba Perawan, terbentuk generasi tangguh penopang masa depan. Mereka, dalam kebersahajaan, memancarkan keanggunan, kedamaian, kehormatan, dan nilai-nilai luhur menyatunya Alam dan Insan luhur.
Namun, di Estetika Negeri Seribu Sungai itu, kebisingan mesin merusak Rimba Perawan. Anak-anak Negeri menonton dan mendengar kebisingan sorak tak teratur mengikis keteraturan ciptaan, menggantinya dengan sawit. Keseimbangan Ekosistem ternoda, dan secara pelan meluncur menuju kehancuran. Tak selesai di titik itu! Muncul bencana kemanusiaan yang lebih mematikan yaitu Predator Child Grooming; penjahat yang menghancurkan Ruang-ruang Harapan Hidup dan Kehidupan Bunga-bunga Mekar; yang tadinya tersenyum riang pada sudut-sudut Rimba dan tepian Kapuas.
Predator Child Grooming merambah masuk melalui kejernihan Kapuas; terlihat banyak mata, namun semuanya tak bersuara; hanya berbisik pelan, "Siapa Mereka?" Predator-predator itu memancar kedamaian semu, bertopeng anggun, sosok royal, ramah, murah senyum, dan memukau orang tua (dari Bunga-bunga yang baru mekar) yang lugu.
Pancaran Kepalsuan itu, dengan mudah memanipulasi Orang Tua Lugu dan Bunga-bunga Mekar; menyusup hingga ruang terdekat, rumah, sekolah, komunitas, hingga hamparan digital. Mereka, para Predator Child Grooming, dengan tahapan halus (tapi beracun) Pelaku melumpuhkan semua daya kritis; sehingga meraih Bunga yang baru Mekar dengan mudah.
Kemudian, Predator mencengkram dengan kekuatan psikologis, ekonomi, dan ancaman; dan menimbulkan ketakutan. Pada sikon itu, Predator merenggut kepolosan, martabat, dan kehormatan. Sehingga yang tersisa adalah trauma mendalam, luka-luka batin, serta jeritan keras tanpa suara. Keheningan akibat ketakutan stigma, kompromi sosial, bukan tanda aman serta semuanya baik-baik, tapi cermin dari jeritan hati tak terdengar.
Mereka meratap dari di balik dinding kamar tertutup, ratapan memecah keheningan malam
"Tubuhku terenggut, jiwaku tercabik dalam sepi,
Mengapa kalian membisu saat jeritanku membumbung tinggi?
Suara itu bergetar, berteriak langsung menghujam dada Anda dan Saya.
Masih adakah telinga mendengar?
Masih adakah hati tersisa untuk merasa?
Atau kepekaan telah mati tergerus rasa acuh tak acuh?"
Adakah Hati yang mendengar jeritan para korban kekerasan seksual terhadap anak-anak dan remaja putri dengan modus Child Grooming di Kalbar? Berapa banyak Media Lokal dan Nasional yang mendengar? Berapa banyak politisi, pejabat, pemuka agama, dll yang ikut bertindak dalam rangka pencegahan? Hitunglah dengan jari-jari Anda! Mungkin tak lebih dari jari pada tangan Anda. Prihatin. Saya katakan dengan tegas,
"Berdiam diri dan bersikap apatis bukan pilihan. Masyarakat harus bersatu, bergerak, menghentikan langkah predator. Satu anak menjadi korban, mahkota kehormatan Negeri Seribu Sungai ikut ternoda!"
Call for Action
Aliran Kapuas di Negeri Seribu Sungai biarlah tetap jernih dan tulus merawat hidup dan kehidupan Kalbar; oleh sebab itu Kapuas tak boleh membawa kepedihan senyap anak-anak ke hamparan kosong tanpa empati kemanusiaan. Kepedulian harus ditingkatkan demi menjadikan seluruh sudut Kalimantan Barat menjadi ruang aman, bermartabat, serta penuh perlindungan agar Generasi Dayak tumbuh kembang mencapai kemuliaan.
Karena itu, perlawanan terhadap Predator Child Grooming di Kalbar membutuhkan langkah nyata seluruh elemen masyarakat. Misalnya
Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming
WA/Telp +62 81 81 26 858

