Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Jeritan Hati Negeri Seribu Sungai (3)

5 Agustus 2026   11:37 Diperbarui: 5 Agustus 2026   11:37 396 2 0

Public Service Announcement | Pro Life Indonesia
Public Service Announcement | Pro Life Indonesia


Jeritan Hati Negeri Seribu Sungai | Call for Action

Menyingkap Topeng Sayang | Melindungi Anak dan Remaja Putri Kalimantan Barat dari Bahaya Child Grooming


Public Service Announcement | Pro 
Public Service Announcement | Pro 

Perhatikan Infografis di atas, sejak lama, kesucian Anak-anak dan Remaja Putri di Kalimantan Barat dihancurkan oleh Kekerasan Seksual dengan modus Child Grooming. Dari riuh Pontianak, ketenangan Singkawang, hingga wilayah kabupaten seperti Bengkayang dan Sekadau, "tersambung" benang merah operasi senyap para predator. Mereka selalu awali dengan manipulasi psikologis yang sistematis, terencana, dan penuh tipu daya.

Para presiden tersebut bertopeng "Relasi Kuasa" dan Ilusi Perlindungan, sehingga publik membayangkan para predator itu sebagai sosok baik-baik dan aman pada Anak-anak dan Remaja Putri. Namun, realitas kasus di Kalimantan Barat membuyarkan sangkaan tersebut. Predator itu bersembunyi sebagai sosok yang paling dikenal dan dihormati; seperti paman, guru di sekolah, atau orang dewasa yang selalu menolong di ruang publik dan media sosial.

Dengan modal itulah, predator melumpuhkan kognisi kritis (calon) korban, mengisolasi korban dari lingkungan sosial, menanamkan rasa "istimewa;" kemudian menggeser batas-batas norma (sensitisasi tubuh) hingga tindakan melanggar hukum sebagai rahasia bersama atau "tanda cinta." Setelah itu, anak tidak merasa sebagai korban, melainkan rasa bersalah, bingung, dan terikat ancaman psikologis; memunculkan ketakutan agar melapor.

Dinamika child grooming kini makin kompleks seiring meluasnya akses digital di Kalbar. Media sosial dan aplikasi perpesanan telah menjadi lahan perburuan baru (online grooming). Pelaku dapat  menjangkau remaja putri di pelosok daerah, berpura-pura menjadi teman sebaya, memberi dorongan emosional yang tak mereka dapatkan; secara perlahan meminta foto implisit hingga manipulasi agar bertemu. Ketika kasus ini akhirnya terungkap ke publik, korban anak kembali dihadapkan pada ancaman baru, korbanan sekunder. Identitas mereka disebar di media sosial, menjadi bahan gosip, hingga menerima perundungan siber. Alih-alih mendapatkan ruang aman untuk pulih, masa depan dan kondisi psikologis korban semakin runtuh akibat jejak digital yang kejam.

Memutus Rantai | Langkah Kolektif Membentengi Anak Kalbar. Menghadapi modus grooming tidak bisa lagi diwakili oleh sikap apatis atau menyalahkan korban. Oleh sebab itu perlu gerakan bersama yang terstruktur dan berkelanjutan
  1. Edukasi Body Autonomy dan Batas Diri sejak Dini. Anak-anak dan remaja putri harus diajarkan bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sepenuhnya. Mereka berhak berkata "TIDAK" kepada siapa pun, termasuk orang dewasa, kerabat, atau figur otoritas, yang mencoba menyentuh atau meminta hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.
  2. Literasi Digital dan Ruang Aman di Rumah. Orang tua tidak cukup hanya memberikan gadget, tetapi wajib hadir mendampingi. Bangun pola komunikasi yang terbuka di dalam keluarga. Jangan biarkan anak mencari validasi emosional dari orang asing di dunia maya hanya karena rumah terasa dingin dan tidak mendengarkan.
  3. Penerapan Perlindungan Anak. Lembaga pendidikan di Kalbar harus memiliki sistem pengaduan yang aman dan independen. Tidak boleh ada toleransi terhadap oknum pendidik atau staf sekolah yang memanfaatkan posisi mereka untuk memanipulasi siswa
  4. Penegakan Hukum Tegas dan Perlindungan Digital. Aparat penegak hukum harus konsisten menerapkan UU No. 12 Tahun 2022 tentang TPKS serta UU Perlindungan Anak, dengan memberikan pemberatan hukuman maksimum bagi pelaku yang memiliki relasi kuasa. Di sisi lain, masyarakat harus mematuhi etika digital dengan tidak menyebarkan rincian identitas korban anak demi menjaga masa depan mereka.

Tuturan Akhir

Semua Elemen di Kalbar mempunyai tugas, tanggung jawab, dan panggilan agar Merawat Masa Depan Kalimantan Barat. Anak-anak dan remaja putri di Kalbar bukan sekadar angka statistik laporan kepolisian. Mereka termasuk pemilik masa depan Negeri Seribu Sungai yang berhak tumbuh dengan rasa aman, berani bermimpi, dan bebas dari bayang-bayang eksploitasi

Sudah saatnya semuanya membuka mata dan menajamkan kepekaan. Sehingga mampu mendengar dan melihat tanda-tanda kejahatan yang dilakukan Predator Child Grooming. Jadilah sosok yang bersni meruntuhkan dinding keheningan; serta menembus batas. Dengan itu, mampu merebut Anak-anak dan Remaja Putri, yang sementara dicengkram dan korban Predator Child Grooming.

Berhentilah jadi sosok Ciptaan yang Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan; sebab menjaga satu anak dari kekerasan seksual, juga bisa bermakna menyelamatkan masa depan Anak-anak dari kehancuran dan ketidakberdayaan di masa depannya.

Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming