Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Seni Menciptakan Kata-kata

8 Agustus 2026   04:02 Diperbarui: 7 Agustus 2026   17:14 193 5 0

Write Art | Opa Jappy
Write Art | Opa Jappy
  Seni Menciptakan Kata-Kata | dari Write Art menuju Neologist




Mungkin Anda juga setuju dengan Saya bahwa, "Pada diskursus literasi modern, pencapaian tertinggi seorang penulis sering  diukur dari jumlah buku, ketebalan halaman, atau banyaknya penghargaan." Namun, semakin ke sini, Saya justru meruntuhkan asumsi konvensional tersebut melalui premis bahwa, "Tanpa kata tidak ada buku, dan ketika orang-orang sibuk menerbitkan buku, keberanian tertinggi seorang Penulis adalah menciptakan kata-kata baru."

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa unit terkecil dan paling mendasar dari bangunan pengetahuan manusia adalah ketepatan diksi dalam menamai realitas. Sebab pembentukan peradaban tidak dimulai dari penjilidan gagasan secara masif, melainkan keberanian merangkai makna pada tingkat paling dasar.

Namun, problem mendasar ranah penulisan, di kalangan akademisi, mahasiswa, jurnalis, adalah redundansi. Redundansi ditandai oleh pengulangan kata ganti atau diksi yang sama secara terus-menerus pada satu alur kalimat. Dampaknya, tulisan menjadi datar, tumpul, monoton, dan kehilangan daya gugah. Kondisi itu disebabkan kemalasan kognitif. Karena otak cenderung memilih jalur hambatan terkecil dan bergantung pada template yang sudah tersedia di pikiran. Itu juga yang menjangkiti Penulis; akibatnya, saat mengetik, melakukan tindakan mekanik. Mereka tidak melukis makna dan menghasilkan teks tanpa  kejelasan filosofis.

Karena itu, Saya memunculkan Write Art atau melukis dengan kata-kata. Write Art menetapkan aturan ketat, yaitu (i) tidak ada kata yang sama diulang dalam satu kalimat, (ii) Non Template Words, dan (iii) Tanpa Otomatisasi AI. Penerapan Write Art memaksa kognisi penulis keluar dari zona nyaman. Otak dipaksa menggeledah perbendaharaan kata dan kamus untuk melakukan eksplorasi diksi secara mendalam demi menemukan sinonim paling presisi. Melalui "Menulis dengan Pendekatan Write Art penulis terbiasa menghindari jargon klise yang sering disalin secara mentah dari internet.

Seorang pencipta kata atau Neologist harus memahami fenomena sosial yang kompleks secara mendalam, lalu memadatkannya menjadi satu atau dua diksi ringkas dan jelas. Agar melahirkan neologisme yang otentik dan berdaya tahan, dibutuhkan tahapan metodologis yang terstruktur. Proses itu dimulai dari pembiasaan menulis dengan prinsip anti-redundansi, melacak kembali frasa filosofis tersembunyi dari tulisan-tulisan lama, serta melakukan kurasi mandiri untuk memastikan bahwa frasa tersebut memiliki fungsi teoretis yang nyata.

Penciptaan kata baru merupakan bentuk tertinggi dari keberanian intelektual dan pembuktian seberapa jauh seseorang berani mendobrak batas nalarnya sendiri. Menciptakan kata bukan sekadar permainan bahasa, melainkan upaya memberi nama pada realitas baru dan memperluas horizon kebudayaan manusia.

Opa Jappy, Lukisastra | Neologist




1. Amputasi Komunikasi
2. Denial Politik
3. Distorsi Integritas
4. Estetika Literasi
5. Hermeneutika Politik
6. Intelektual Kikir
7. Jurnalisme Daur Ulang
8. Kematian Kognisi
9. Klaster Endemi Predator Child Grooming
10. Liternarsisme atau Literasi Narsisme
11. Lukisastra
12. Mayoritas Diam
13. Minoritas Terpinggirkan dan Mayoritas Penentu
14. OdBK, Orang dengan Beban Kebencian
15. Politisi Halunistik dan Halunistik Politik
16. Sindrom Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan
17. Sindrom Tak Mau Dibantah
18. Vandalisme Literasi

Public Service Announcement | Opa Jappy
Public Service Announcement | Opa Jappy