Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Esai Digital, "Kolaborasi Pentahelix di Sulsel"

16 Agustus 2026   04:00 Diperbarui: 16 Agustus 2026   07:04 569 6 4

Public Service Announcement | Pro Life Indonesia
Public Service Announcement | Pro Life Indonesia


Provinsi Sulawesi Selatan dikenal sebagai raksasa ekonomi dan pusat budaya di kawasan Indonesia Timur. Dengan semboyan Toddopuli atau teguh dalam pendirian, kaya komoditas beras, kakao, dan perikanan, serta warisan budaya dunia seperti kapal Pinisi Bulukumba dan tradisi Rambu Solo di Toraja. Namun, di balik keberhasilan ekonomi dan kemegahan budayanya, Sulawesi Selatan menyimpan paradoks krisis tersembunyi, maraknya kejahatan kekerasan seksual terhadap anak melalui modus child grooming.
 
Realitas Kelam Kejahatan dalam Kesunyian. Child grooming berbeda dari kekerasan fisik instan atau kejahatan konvensional yang berisik. Kejahatan Predator Child Grooming beroperasi secara sistematis dalam bayang-bayang melalui manipulasi psikologis yang bertahap
 
Mekanisme Manipulasi. Predator memanfaatkan kerentanan emosional anak, membangun ikatan emosional dan ketergantungan (baik melalui iming-iming hadiah maupun relasi kuasa). Kondisi Psikologis Korban. Korban dikondisikan sedemikian rupa hingga merasa takut, malu, atau merasa bersalah, sehingga enggan untuk melapor.

Kampanye Anti Predator Child Grooming|Pro Life Indonesia 
Kampanye Anti Predator Child Grooming|Pro Life Indonesia 

Klaster Endemi Predator Child Grooming di Sulawesi Selatan. Taktik predator terbukti sangat adaptif terhadap karakteristik wilayah dan sosial-ekonomi masyarakat.
  1. Klaster Perkotaan. Mendominasi online grooming, di mana remaja putri dieksploitasi melalui media sosial (seperti Instagram) dengan iming-iming gaya hidup
  2. Klaster Kawasan Industri & Tambang. Predator memanfaatkan isolasi geografis dan kerentanan ekonomi warga.
  3. Klaster Pedesaan. Minimnya literasi digital dimanfaatkan pelaku melalui modus janji pernikahan atau ancaman
  4. Klaster Institusi Pendidikan. Predator memanipulasi ketaatan dan otoritas di lingkungan sekolah atau asrama. Sebagai contoh, kasus di mana lansia mendekati puluhan anak SD hanya dengan modal jajan gratis secara rutin untuk meruntuhkan batasan personal. Data Simfoni PPA mengonfirmasi adanya lonjakan laporan kasus kekerasan anak yang signifikan, terutama pada kelompok usia 12 hingga 17 tahun


 
Kolaboratif Pendekatan Pentahelix. Melawan kejahatan yang terstruktur tidak bisa dilakukan secara sporadis. Dibutuhkan kerangka kerja tata kelola kolaboratif Pentahelix.

Pilar Agama. Tokoh agama tidak boleh terbatas pada ritual ibadah belaka, melainkan menjadikan edukasi perlindungan anak sebagai bagian dari ibadah, melakukan deteksi dini di lingkungan rumah ibadah, serta berani melakukan otokritik terhadap oknum di institusi sendiri

Pilar Akademisi. Menyediakan literasi saintifik dan panduan praktis bagi orang tua/masyarakat untuk membedakan antara kasih sayang tulus dan jebakan manipulasi predator

Pilar Media. Mengedukasi publik tentang taktik digital dan membangun narasi pencegahan tanpa mengeksploitasi trauma korban demi rating

Pilar Pemerintah & Law Enforcement. Menunjukkan political will melalui penegakan Undang-Undang TPKS, sanksi hukum yang berat, penyediaan kanal pelaporan yang aman, dan rehabilitasi trauma bagi korban

Pilar Komunitas. Menjadi perekat utama dengan mengubah silent majority.(penonton pasif) menjadi active defenders yang berani melakukan pengawasan sosial dan menghentikan budaya victim blaming
 

Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau keindahan destinasinya, tapi juga memberikan ruang aman bagi anak-anaknya. Melindungi generasi mendatang memerlukan pergeseran radikal dari ketakutan dan sikap apatis menuju aksi kolektif sebagai active defenders demi membentengi masa depan.

Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming
WA/Telp +62 81 81 26 858