Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana


Maluku Utara saat ini berada pada puncak parade pembangunan. Meroketnya pertumbuhan ekonomi menembus angka 20% hingga 34% per tahun, serta hadirnya pilar-pilar industri penopang energi hijau dunia, dan sebagai simbol keberhasilan modernisasi di Indonesia Timur. Namun, di balik megah narasi ekonomi dan gemerlap angka-angka statistik tersebut, "ancaman sunyi" merayap tanpa suara, terjadi lonjakan kejahatan kekerasan seksual terhadap anak dan remaja putri.
Data resmi lima tahun terakhir, 180 hingga 240+ laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak setiap tahunnya di Maluku Utara. Tragisnya, 55% hingga 65% dari total laporan tersebut merupakan kasus kekerasan seksual yang secara spesifik menyasar anak-anak dan remaja putri usia 11--17 tahun. Angka itu pun hanyalah puncak gunung es; mayoritas korban dan keluarga memilih bungkam akibat cengkeraman stigma sosial, rasa malu, ancaman pelaku, serta isolasi geografis kepulauan.
Predator Child Grooming adalah Ancaman dalam Selimut. Mereka awali kejahatannya melalui manipulasi sangat terstruktur. Dalam artian tidak diawali dengan kekerasan fisik berdarah di lorong gelap. Tapi, pendekatan senyap lewat media sosial, game online, atau interaksi sosial sehari-hari. Misalnya, love bombing, perhatian berlebih, dan iming-iming materiil kecil; pelaku perlahan memotong jaringan isolasi anak dari keluarga. Ketika mendapat foto atau video intim didapat, terjadi pemerasan seksual untuk memaksa korban menuruti eksploitasi lebih jauh.
Kenyataan paling menyakitkan adalah, lebih dari 70% pelaku merupakan orang-orang dikenal dekat oleh korban, oknum pendidik, kerabat, tetangga, hingga sosok dipercaya di lingkungan komunitas. Mereka bertopeng posisi relasi kuasa dan kepatuhan; kemudian memperkosa masa depan anak-anak yang kurang pengawasan orang tua di wilayah-wilayah sabuk industri dan urban.
Call for Action Melalui Kolaborasi Pentahelix. Semegah apa pun infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di Negeri Rempah-Rempah, tidak ada artinya jika masa depan anak-anak yang dikorbankan; karena banyak orang menjadi mayoritas penonton yang diam. Untuk memutus rantai kejahatan yang terstruktur itu, harus bertindak bersama melalui perisai kolaborasi Pentahelix.
Keputusan Ada di Tangan Anda. Ancaman di Maluku Utara itu nyata, dekat, dan menanti mangsa berikutnya. Pilihan kini berada di tanganmu masing-masing, "Apakah terus bersembunyi dalam rasa acuh tak acuh dan menjadi penonton bisu, atau bangkit bersama, memecahkan kebisuan, dan menjadi perisai hidup bagi anak-anak?"
Saatnya bergerak, sebelum satu senyum anak-anak Maluku Utara terenggut dalam diam!
