Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Sejak Lama, narasi utama tentang Papua didominasi oleh "Gerakan Pelepasan," Estetika Alam, Unsur-unsur Budaya, Pemekaran Wilayah, Kemajuan Ekonomi, Mega Proyek, Industrialisasi, dan lain sebagainya. Namun, di balik semuanya itu, ada area kelam yang berlangsung secara terselubung. Di Tanah Papua, ada kejahatan dalam kesunyian, berlangsung lama, tersembunyi, namun terjadi secara terbuka; yaitu tingginya tindak kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak serta remaja putri. Dalam artian kejahatan tersebut menyasar generasi muda dan masa depan Papua:
Laporan resmi (SIMPONI PPA dan Dua Polda di Papua), menunjukkan bahwa 60% hingga 70% kasus kekerasan terhadap anak di Papua merupakan eksploitasi seksual;, angka itu hanya puncak gunung es karena sebagian besar korban memilih bungkam akibat takut, ketimpangan relasi kuasa, serta stigma masyarakat.
Akar Masalah dan Taktik Predator. Geografi dan ketimpangan ekonomi Papua yang unik dimanfaatkan oleh para predator dengan berbagai cara.
Masalah ini diperparah oleh penyelesaian hukum yang tidak berpihak pada korban. Sering terjadi, kasus kekerasan seksual diselesaikan secara kompromistis melalui denda adat (seperti pembayaran berupa uang atau ternak). Hal itu menormalisasi kejahatan di mana pelaku berduit dapat dengan mudah membeli kebebasannya, sementara korban mengalami trauma berkepanjangan. Padahal, berdasarkan hukum nasional, penyelesaian secara kekeluargaan atau restorative justice dilarang keras untuk kasus kekerasan seksual pada anak.
Membangun Perisai Pentahelix. Anda dan Saya tidak bisa bersikap acuh tak acuh atau berpendapat bahwa mengatasi Kasus-kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak-anak dan Remaja Putri di Papua, adalah tugas aparat penegak hukum. Ingatlah bahwa Papua adalah bagian integral dari NKRI dan Ribuan Rupiah dari dalam Bumi Papua digunakan untuk Pembangunan Bangsa, Negara, dan Rakyat Indonesia. Oleh sebab itu, diperlukan aksi nyata dan kolaborasi sistemik melalui pendekatan Perisai Pentahelix yang melibatkan lima pilar utama masyarakat untuk menyelamatkan Generasi Masa Depan Papua. Upaya tersebut melalui Pendekatan Tata Kelola Kolaborasi Pentahelix
Pilihan di ada di Anda dan Saya. Krisis kekerasan seksual terhadap anak-anak dan remaja putri di Papua adalah kenyataan pahit yang membutuhkan tindakan cepat dan terpadu. Saya mengajukan pertanyaan krusial pada Anda, "Apakah tetap menjadi silent majority yang diam menyaksikan penderitaan mereka, atau bersiap bangkit menjadi active defender demi melindungi masa depan generasi penerus Papua?"
Masa depan anak-anak Papua bergantung pada kepedulian dan keberanian Anda dan Saya menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh Predator Child Grooming.