Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

"Bendera Parpol di Area Bencana!" Etis?

28 Agustus 2026   04:05 Diperbarui: 28 Agustus 2026   04:05 706 7 3

Bendera Parpol | Opa Jappy
Bendera Parpol | Opa Jappy


Dilema Etika dan Kapitalisasi Politik | Pengibaran Bendera Parpol di Area Bencana


Bencana alam merupakan masa kritis yang menguji nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial. Namun, di tengah duka akibat Bencana (di Indonesia) muncul hal menarik sekaligus kontroversial mengemuka di area pengungsian, yaitu maraknya pengibaran bendera serta Atribut Partai Politik.

Kehadiran Parpol melalui pembukaan posko darurat dan penyaluran bantuan sosial ke warga yang berdampak bencana, merupakan bentuk kepedulian. Namun, juga menampilkan dua wajah yang bertolak belakang, (i) sebagai bentuk respons cepat dan kepedulian nyata kader politik terhadap warga terdampak, (ii)  identitas politik memicu potensi kapitalisasi tragedi demi ambisi elektoral. Kehadiran simbol politik di zona bencana menghadirkan beberapa persoalan kritis; antara lain

  1. Pencitraan di Atas Penderitaan Warga. Pemasangan bendera dan foto kandidat kerap dipersepsikan publik sebagai aksi komersialisasi penderitaan. Bantuan yang dilabeli identitas politik terkesan tidak tulus dan sekadar memanfaatkan momen krisis demi mendongkrak popularitas elektoral
  2. Potensi Gesekan Sosial dan Gangguan Operasional. Pemasangan atribut politik di area pengungsian berisiko memicu konflik horizontal antarwarga yang memiliki preferensi politik berbeda di tengah situasi stres. Selain itu, tiang bendera atau baliho yang dipasang asal-asalan berpotensi mengganggu jalur evakuasi dan mobilitas bantuan medis.
  3. Degradasi Nilai Simbolik Partai. Bendera partai idealnya merupakan representasi sakral dari ideologi, visi, dan kewibawaan organisasi. Namun, ketika bendera tersebut dibiarkan berserakan, rusak, atau bahkan mengotori tumpukan sampah setelah acara seremonial selesai, hal ini justru merendahkan marwah partai itu sendiri demi popularitas sesaat.
  4. Keharmonisan Berpolitik. Politik sejati harus berfokus pada pembangunan koneksi nyata dan kerja empati. Ketika aksi kemanusiaan direduksi menjadi ajang adu baliho dan bendera di zona krisis, hubungan yang terbangun antara parpol dan masyarakat hanyalah "ikatan semu."  Loyalitas yang didasari oleh pemberian bantuan berlabel tidak akan bertahan lama dan menguap begitu tenda pengungsian dilipat.
  5. Integrasi antara kepedulian sosial dan identitas partai politik di lokasi bencana bisa menciptakan dilema moral yang mendalam. Bantuan logistik dan tempat bernaung dari parpol sangat dibutuhkan oleh korban krisis. Namun, pengusungan atribut politik yang berlebihan merusak kesucian aksi kemanusiaan itu sendiri.


Sudah saatnya Parpol di Indonesia mendefinisikan ulang gaya kepedulian mereka; dalam artian harus menempatkan murni nilai kemanusiaan di atas simbol-simbol partisan saat bencana melanda, demi membangun kepercayaan dan loyalitas publik yang sejati.


Opa Jappy | Indonesia Hari Ini