Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Esai Digital, "Anatomi Mabuk Agama"

16 September 2026   16:23 Diperbarui: 16 September 2026   16:23 172 1 0

Mabuk Agama | Opa Jappy
Mabuk Agama | Opa Jappy


Restorasi Benteng Kemanusiaan


Lingkungan sosial terpecah, bahkan kehancuran Bangsa dan Negara, karena penafsiran tunggal; ketaatan sering dieksploitasi demi menegakkan imperium kebenaran eksklusif ketimbang merangkul korban penindasan. Oleh sebab itu, kesadaran nurani memanggil setiap pribadi melangkah bersama agar melepaskan sekat dogmatis demi membuka ruang seluas-luasnya bagi suara terbungkam tanpa kata.

Dari hamparan itulah muncul perlindungan sejati. Perlindungan sejati yang tak pernah bertakhta pada kemegahan benteng kebenaran ortodoksi, kemauan kelompok, ataupun "keangkuhan sebagai terbanyak" yang menguasai Negeri Tercinta. Tapi, semua kelompok merajut kekuatan dan keberanian menyentuh perih peradaban sehingga mampu merawat luka hingga sembuh. Juga karena bergeser keyakinan sempit yang menjadi sekadar selimut penutup keraguan, alat penenang semu pembatas jiwa untuk menemukan serta menghormati harkat kemanusiaan.

Sebab, kemanusiaan yang sejati tidak lahir dari keseragaman berpikir, melainkan dari kerelaan untuk hadir bagi mereka yang terasing di pinggir sejarah. Ketika benteng-benteng egoisme sektarian dirobohkan oleh empati, di situlah jembatan persaudaraan sejati membentang. Merawat peradaban agar menanggalkan jubah kebenaran mutlak, lalu mengenakan kain welas asih yang mampu mendekap setiap jiwa tanpa memandang sekat. Hanya dengan cara itulah, pemulihan bangsa bukan lagi sebuah angan-angan, melainkan kenyataan yang hidup di atas reruntuhan ego bersama.

Di situlah letak esensi panggilan kebangsaan  yang paling fundamental. Di atas pundak setiap anak bangsa, tanpa terkecuali, tersimpan tanggung jawab historis dan moral  setara untuk merajut kembali benang-benang persatuan yang sempat kusut. Sehingga tak ada lagi "rasa diri" superior, sambil "menunjuk" ke mereka yang golongan kecil dan tidak penting. Juga tidak ada kelompok merasa diri terlalu besar, paling berkuasa; semuanya memikul beban dan kehormatan yang sama dalam merawat Negeri Tercinta.


Pencapaian luar biasa itu, di masa depan bukan takdir yang jatuh dari langit, kebetulan sejarah, atau hasil kerja segelintir elite. Tapi, akumulasi kesadaran kolektif yang konsisten, ketika setiap anak bangsa berani melangkah seirama, saling menguatkan dalam keragaman, dan menolak segala bentuk perpecahan.

Ketika panggilan kemanusiaan dijawab dengan ketulusan tindakan nyata, maka kejayaan dan kemegahan peradaban Indonesia di masa depan akan berdiri kokoh.

Opa Jappy | Pro Life Indonesia


Neologisme oleh Opa Jappy

  1. Amputasi Komunikasi, Pemutusan atau kerusakan arus komunikasi yang sehat akibat ego atau hambatan sistem.
  2. Denial Politik, Sikap menyangkal kenyataan atau data objektif demi kepentingan kelompok politik.
  3. Distorsi Integritas, Penyimpangan atau penurunan tingkat kejujuran.
  4. Estetika Literasi, Keindahan dan kedalaman olah pikir dalam berliterasi yang menyatukan nalar kritis, bahasa, dan etika empati.
  5. Hermeneutika Politik, Cara menafsirkan teks, kebijakan, atau fenomena politik secara kritis dan berlapis.
  6. Intelektual Kikir, Sosok berpendidikan atau berilmu yang enggan membagikan pengetahuan dan pencerahan pada sesama.
  7. Jurnalisme Daur Ulang, Praktik penulisan berita atau konten yang mengulang-ulang narasi lama tanpa kebaruan informasi.
  8. Jurnalisme Mythomania, Berbohong yang berlindung di balik topeng profesi jurnalis.
  9. Kelumpuhan Komunikasi, memilih tidak respon respon terhadap interaksi virtual
  10. Kematian Kognisi, Hilangnya kemampuan berpikir analitis dan mendalam pada masyarakat modern.
  11. Klaster Endemi Predator Child Grooming, Jaringan atau kelompok kejahatan tersembunyi yang memangsa anak-anak di ruang sosial.
  12. Liternarsisme (Literasi Narsisme), Kegiatan membaca atau menulis yang semata-mata dilakukan untuk memuji diri sendiri atau mencari panggung pribadi.
  13. Lukisastra, Kemampuan melukiskan realitas dan jiwa menggunakan kekuatan diksi dan kata-kata visual.
  14. Mayoritas Diam, Kelompok besar dalam masyarakat yang memilih tidak bersuara di tengah persoalan penting.
  15. Mengingat-Rayakan, Proses merawat ingatan kolektif tentang kebersamaan dan cinta kasih secara sukacita.
  16. Minoritas Terpinggirkan dan Mayoritas Penentu, Dinamika sosial ketika kelompok kecil tersisih namun kelompok besar memegang kendali arah penentu.
  17. OdBK (Orang dengan Beban Kebencian), Individu yang kesehariannya dikendalikan oleh amarah, rasa curiga, dan dendam.
  18. Politisi Halunistik & Halunistik Politik, Politisi yang hidup dalam "halusinasi" data, menolak fakta, dan mengaburkan kebenaran demi agenda pribadi.
  19. Predator Ekonomi, Pelaku kejahatan sistemik (seperti oligarki dan broker busuk) yang mengeruk kekayaan rakyat secara tidak sah.
  20. Sindrom Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan, Kondisi matinya kepekaan sosial seseorang terhadap penderitaan sesama manusia.
  21. indrom Tak Mau Dibantah, Perilaku arogan yang menolak kritik atau koreksi dari orang lain.
  22. Vandalisme Literasi, Perusakan kualitas bahasa dan nalar akibat produksi teks sembarangan tanpa tanggung jawab moral.

11 September 2026

Opa Jappy | Neologist