Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Esai Digital, "Ayat Cinta dan Teks Marah di Kitab Suci"

20 September 2026   04:00 Diperbarui: 20 September 2026   04:45 161 1 0

Ayat-ayat Cinta|Opa Jappy
Ayat-ayat Cinta|Opa Jappy



Ayat-ayat Cinta dan Teks-teks Marah
Oleh Opa Jappy, 5 Maret 2013, 03:31 WIB

"Jangan Gunakan Teks-Teks Marah, Tapi Ayat-Ayat Cinta" (Opa Jappy, 5 Maret 2013), menyoroti meluapnya semangat keagamaan seiring Kitab Suci digital di ponsel pintar, laptop, dan perangkat portabel lainnya. Kehadiran tersebut membuat teks-teks Kitab Suci mudah dibawa ke mana saja, bahkan hingga ke ruang-ruang privat seperti toilet, tanpa diimbangi oleh kedalaman pemahaman hermeneutis dan etika literasi keagamaan.

Kini, lebih dari satu dekade berlalu, lanskap teknologi telah melompat jauh ke era kecerdasan buatan, algoritma media sosial yang manipulatif, serta budaya paparan konten berdurasi pendek (micro-content). Ketika tulisan 2013 tersebut disandingkan dengan realitas sosial-digital hari ini, teks cerdas tersebut menjadi rekaman sejarah; dan bertransformasi sebagai kerangka analisis yang sangat tajam untuk membedah krisis literasi, polarisasi agama, dan instrumentalisasi teks di ruang publik.

Sejak 2013, bahkan sebelumnya, Kitab Suci tak lagi harus dibawakan dalam tas besar atau ditaruh di meja kantor, melainkan dapat tersimpan rapat di saku kemeja. Namun belum ada panduan etis resmi dari lembaga keagamaan terkait batasan membawa Kitab Suci digital ke sembarang tempat.

Pada era kekinian, persoalan tersebut telah bergeser dari sekadar lokasi fisik menuju komodifikasi dan ekonomi perhatian (attention economy). Teks Kitab Suci, sering terjadi, diolah oleh algoritma pemicu emosi yang memprioritaskan narasi provokatif, kontroversial, dan penuh pertentangan demi meraup clicks, views, dan kepopuleran instan. Bahkan, Teks suci yang telah dilucuti dari makna aslinya dijadikan amunisi perang siber (cyber war), alat pembunuhan karakter, hingga bahan manipulasi identitas demi memenangkan perdebatan siber secara instan. Akumulasi amarah digital yang terus dipupuk tidak akan berhenti di balik layar kaca, melainkan berpotensi besar meledak menjadi persekusi, intoleransi, dan konflik sosial di tengah masyarakat.


"Ayat-Ayat Cinta" sebagai Etika Digital

"Mari lupakanlah teks-teks marah, dan gunakan ayat-ayat cinta di dalam Kitab Suci untuk membangun damai serta hubungan yang sejahtera dengan segala ciptaan," merupakan seruan imperatif yang sangat krusial untuk semua pada ruang digital, virtual, dan pada Dunia Nyata. Mengaktualisasikan "Ayat-Ayat Cinta" di era kekinian, bisa bermakna menerapkan Literasi Spiritual-Digital. Misanya

  • Jeda Sebelum Berbagi. Menahan refleks jempol agar tidak segera membagikan konten yang memicu amarah atau kebencian sebelum menguji kebenaran dan konteksnya.
  • Menghormati Konteks Teks. Memahami Kitab Suci secara utuh melalui metodologi tafsir dan ilmu sejarah yang bertanggung jawab, serta tidak menjadikannya amunisi instan debat kusir.
  • Menjadi Pembawa Damai Digital. Memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk menyebarkan pesan-pesan kemanusiaan, toleransi, dan kebaikan universal.

Ingatlah, "Berbahagialah mereka yang membawa damai," adalah ketegasan bahwa keandalan iman dan kedewasaan beragama di era digital tidak diukur dari seberapa mahir  melempar Teks-Teks Marah di kolom komentar, melainkan bijak  menggunakan kehebatan teknologi untuk meresapi dan menyebarkan Ayat-Ayat Cinta.

Opa Jappy | Pegiat Literasi Publik