Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

"Kebebasan Tidak Beragama!" | "Mungkinkah?"

30 Oktober 2026   09:37 Diperbarui: 30 Oktober 2026   09:37 97 1 1

Kebebasan Ganda | Opa Jappy
Kebebasan Ganda | Opa Jappy


Konstitusi Menjamin Orang Indonesia Memiliki Kebebasan Tak Beragama. Kebebasan Tak Beragama | "Bebas Tak Beragama dan Berganti Agama" (Opa Jappy pada 15 Januari 2014) membahas konsep kebebasan hak asasi manusia terkait keyakinan.

Kebebasan Kembar. Jika ada kebebasan beragama; maka seharusnya menerima "saudara kembarnya" yaitu kebebasan tidak beragama serta kebebasan berganti agama. Perspektif Hak Asasi. Hak memilih atau tidak memilih suatu keyakinan merupakan bagian dari kebebasan pribadi yang fundamental. Kebebasan Tak Beragama sering menjadi perdebatan karena norma sosial dan regulasi di Indonesia mewajibkan  mencantumkan agama serta tingginya resistensi sosial terhadap kelompok tanpa agama atau perpindahan agama.



Agama (Sanskerta, a = tidak; gama = kacau) artinya tidak kacau; atau adanya keteraturan dan peraturan untuk mencapai arah atau tujuan tertentu. Religio (dari religere, Latin) artinya mengembalikan ikatan, memperhatikan dengan saksama; jadi agama adalah tindakan manusia untuk mengembalikan ikatan atau memulihkan hubungannya dengan Ilahi.

Dari sudut sosiologi, agama adalah tindakan-tindakan pada suatu sistem sosial dalam diri orang-orang yang percaya pada suatu kekuatan tertentu (yang supra natural) dan berfungsi agar dirinya dan masyarakat keselamatan. Agama merupakan suatu sistem sosial yang dipraktekkan masyarakat; sistem sosial yang dibuat manusia [pendiri atau pengajar utama agama] untuk berbhakti dan menyembah Ilahi. Sistem sosial tersebut dipercayai merupakan perintah, hukum, kata-kata yang langsung datang dari Ilahi agar manusia mentaatinya. Perintah dan kata-kata tersebut mempunyai kekuatan Ilahi sehingga dapat difungsikan untuk mencapai atau memperoleh keselamatan (dalam arti seluas-luasnya) pribadi dan masyarakat

Dari sudut kebudayaan, agama adalah salah satu hasil budaya. Artinya, manusia membentuk atau menciptakan agama karena kemajuan dan perkembangan budaya serta peradabannya. Dengan itu, semua bentuk-bentuk penyembahan kepada Ilahi (misalnya nyanyian, pujian, tarian, mantra, dan lain-lain) merupakan unsur-unsur kebudayaan. Dengan demikian, jika manusia mengalami kemajuan, perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan kebudayaan, maka agama pun mengalami hal yang sama. Sehingga hal-hal yang berhubungan dengan ritus, nyanyian, cara penyembahan (bahkan ajaran-ajaran) dalam agama-agama perlu diadaptasi sesuai dengan sikon dan perubahan sosio-kultural masyarakat.

Kaum agamawan berpendapat bahwa agama diturunkan TUHAN Allah kepada manusia. Artinya, agama berasal dari Allah; Ia menurunkan agama agar manusia menyembah-Nya dengan baik dan benar; ada juga yang berpendapat bahwa agama adalah tindakan manusia untuk menyembah TUHAN Allah yang telah mengasihinya. Dan masih banyak lagi pandangan tentang agama, misalnya, Agama ialah (sikon manusia yang) percaya adanya TUHAN, dewa, Ilahi; dan manusia yang percaya tersebut, menyembah serta berbhakti kepada-Nya, serta melaksanakan berbagai macam atau bentuk kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut

Agama adalah cara-cara penyembahan yang dilakukan manusia terhadap sesuatu Yang Dipercayai berkuasa terhadap hidup dan kehidupan serta alam semesta; cara-cara tersebut bervariasi sesuai dengan sikon hidup dan kehidupan masyarakat yang menganutnya atau penganutnya

Agama ialah percaya adanya TUHAN Yang Maha Esa dan hukum-hukum-Nya. Hukum-hukum TUHAN tersebut diwahyukan kepada manusia melalui utusan-utusan-Nya; utusan-utusan itu adalah orang-orang yang dipilih secara khusus oleh TUHAN sebagai pembawa agama. Agama dan semua peraturan serta hukum-hukum keagamaan diturunkan TUHAN (kepada manusia) untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat

Jadi,

Secara umum, agama adalah upaya manusia untuk mengenal dan menyembah Ilahi (yang dipercayai dapat memberi keselamatan serta kesejahteraan hidup dan kehidupan kepada manusia); upaya tersebut dilakukan dengan berbagai ritus (secara pribadi dan bersama) yang ditujukan kepada Ilahi.  Secara khusus, agama adalah tanggapan manusia terhadap penyataan TUHAN Allah. Dalam keterbatasannya, manusia tidak mampu mengenal TUHAN Allah, maka Ia menyatakan Diri-Nya dengan berbagai cara agar mereka mengenal dan menyembah-Nya.

Agama datang dari manusia, bukan TUHAN Allah. Tapi, nanti dulu, ... tidak semudah itu. Menjadi umat beragama atau ikut salah satu aliran kepercayaan di Bumi ini, belum tentu anda menjadi orang yang aman - damai - sejahtera.

Lihatlah, karena menjadi umat beragama maka tak sedikit manusia mengalami penindasan, caci, kekerasan, bahkan pembunuhan, dan kekerasan serta kebrutalan lainnya. Lihatlah juga, mereka yang tak beragama dan yang berani menyatakan diri sebagai Atheis, juga mengalami nasib yang tak kalah garang serta menyakitkan, derita, dan penderitaan.

Lalu, bagaimana yang benar, sehingga bebas dari semuanya itu

 
Opa Jappy | Lukisastra 

Indonesia Hari Satu I Opa Jappy 
Indonesia Hari Satu I Opa Jappy 

"Manusia Menciptakan Agama" bukan untuk menihilkan eksistensi Tuhan atau ajaran sakral agama; melainkan kritik sosiologis yang tajam terhadap perilaku manusia pengusung, dan, Mabok Agama. Sekaligus sebagai cermin reflektif masyarakat modern agar waspada terhadap kecenderunga mereduksi agama, yang seharusnya memanusiakan manusia, menjadi sekadar alat politik, tameng kekerasan, dan pemicu perpecahan.

Langkah "menurunkan derajat" agama dari entitas surgawi yang abstrak menjadi produk kebudayaan hasil ciptaan dan rekayasa manusia (human creation) adalah strategi dekonstruktif cerdas. Melalui cara pandang itu,mengajak pembaca untuk melihat bahwa

1. Agama Tidak Kebal Kritik. Jika agama diposisikan murni sebagai produk budaya atau sistem tata cara yang dilembagakan oleh manusia sepanjang sejarah peradaban. Maka segala bentuk penyelewengan, tafsir keliru, fanatisme, hingga politisasi di dalamnya adalah buatan manusia sendiri, dan oleh karena itu, sangat sah untuk dikritik dan digugat.

2. Memisahkan Kesucian Tuhan dari Ego Manusia. Manusia sering membungkus ambisi politik, kekuasaan, dan kebencian mereka dengan atribut-atribut keilahian ("atas nama Tuhan" atau "demi kesucian agama"). Dengan membongkar bahwa agama adalah institusi buatan manusia, maka melucuti topeng kesucian palsu (false piety) yang sering digunakan para aktor politik atau kelompok radikal melegitimasi kekerasan.

3. Mengembalikan Fokus ke Substansi Kemanusiaan. Ketika agama dipertuhankan sebagai simbol mati, esensi moralnya,  seperti kasih sayang, kedamaian, dan kemanusiaan, malah mati. Sebaliknya, ketika menyadari bahwa agama adalah instrumen ciptaan manusia untuk mendekatkan diri pada Yang Ilahi, manusia seharusnya bertanggung jawab penuh agar instrumen tersebut tidak berbalik merusak peradaban.

Menelanjangi hipokrisitas keagamaan secara terbuka di ruang publik digital  menunjukkan konsistensi beliau sebagai seorang pengamat sosial yang menolak tunduk pada arus mayoritas yang kerap terjebak dalam formalisme beragama yang sempit.



Opa Jappy | Lukisastra
Pegiat Literasi Publik

Terikat Kebebasan Semu | Opa Jappy 
Terikat Kebebasan Semu | Opa Jappy