Kita berjalan seperti ternak menuju rumah sembelih,
tanpa sadar maut menunggu di tikungan waktu,
sementara tangan sibuk menghitung laba dan pujian,
mulut sibuk mengunyah gosip dan ambisi dunia,
padahal umur hanya seteguk embun di daun pagi,
yang jatuh sebelum matahari selesai terbit.
Manusia membangun istana dari angka dan gengsi,
mengumpulkan pengikut seperti memungut pasir pantai,
rela berjaga demi konser yang belum tentu tiba,
tetapi lupa menyiapkan hati untuk perpisahan,
seolah kematian hanya kabar bagi orang lain,
dan tubuh ini abadi seperti batu gunung.
Di ruang pengadilan seorang mantan menteri tertunduk,
nama besar luruh lebih cepat dari daun kering,
kemarin dielu-elukan dengan karpet dan tepuk tangan,
hari ini wajahnya menjadi santapan berita malam,
harta dan kuasa ternyata hanya tamu sementara,
yang pergi tanpa pamit ketika nasib berbalik arah.
Begitulah anitya bekerja dengan sunyi dan pasti,
tak memilih raja ataupun rakyat jelata,
tak peduli siapa yang kaya dan siapa tersohor,
semua akan dilepas dari tubuh dan kebanggaannya,
kematian merampas tanpa negosiasi dan belas kasihan,
hingga manusia tinggal nama di batu nisan.
Sanak saudara hanya mampu menangis di tepi liang,
tak satu pun bersedia menggantikan napas terakhir,
tubuh yang dulu dibanggakan pun harus diserahkan,
tanah menerima manusia tanpa melihat gelarnya,
dan semua proyek yang belum selesai mendadak sia-sia,
karena maut tak pernah menunggu jadwal manusia.
Maka Buddha mengajarkan Dharma sebagai pelita,
agar hidup tak habis untuk mengejar bayang-bayang,
Wessantara melepaskan dunia demi kebajikan,
Sadaprarudita menyayat luka demi mencari kebenaran,
Marpa mendaki Himalaya membawa emas dan pengabdian,
karena mereka tahu mana yang sungguh penting.
Kini purnama Waisak kembali menggantung di langit,
cahayanya jatuh lembut di wajah manusia yang gelisah,
bertanya apakah hidup ini hanya menumpuk beban,
atau sedang menanam benih kebajikan yang abadi,
sebelum kematian datang mengetuk pintu tanpa suara,
dan meminta jawaban atas seluruh perjalanan kita.
Sumber: Bhadraruci, "Dharma dan Ketidakkekalan" dalam Kompas, Jumat, 29 Mei 2026, hl. 1 dan 15.