pieter sanga lewar
pieter sanga lewar Penulis

Hobi membaca dan menulis artikel, puisi, cerpen, novel, dan baca puisi

Selanjutnya

Tutup

Video

Senja yang Terlupakan

27 Agustus 2026   19:40 Diperbarui: 27 Agustus 2026   19:40 78 0 0


Senja yang Terlupakan

Di negeri yang gemar menghitung bonus demografi,
ada jutaan rambut memutih yang luput dihitung.
Mereka disebut aset saat pidato dilantangkan,
namun menjadi bayang-bayang ketika malam datang.
Usia bertambah, perhatian justru berkurang.
Senja menjadi ruang sepi yang panjang.

Ramses memungut botol dari sisa peradaban,
mengais harapan di antara plastik dan lumpur.
Punggungnya tak lagi tegak menantang matahari,
namun hidup belum memberinya izin berhenti.
Di usia yang seharusnya menikmati ketenangan,
ia masih berunding dengan lapar dan hari esok.

Sementara Marno duduk di kursi roda yang bisu,
menunggu langkah keluarga yang tak pernah tiba.
Setahun kalender gugur dari dinding panti,
tak satu pun wajah kerabat mengetuk pintu.
Yang tersisa hanya kenangan dan pertanyaan:
mengapa darah bisa lupa pada asal kasihnya?

Kita membangun gedung-gedung menjulang ke langit,
tetapi gagal membangun ruang hormat bagi yang renta.
Kita memuji bakti anak dalam ceramah dan upacara,
namun sebagian orangtua dititipkan seperti barang lama.
Seolah usia tua adalah kesalahan yang harus disembunyikan,
bukan perjalanan yang patut dimuliakan.

Di meja statistik, mereka hanyalah angka,
persentase kemiskinan, grafik kerentanan, dan laporan tahunan.
Padahal setiap angka menyimpan wajah dan cerita,
tentang obat yang tak terbeli, makan yang dikurangi,
dan malam-malam panjang yang ditemani kesendirian.
Namun angka tak pernah bisa menangis.

Ironisnya, negeri yang berutang pada generasi tua,
kadang memperlakukan mereka sebagai beban.
Tangan yang dahulu membangun jalan dan sawah,
kini gemetar meminta perhatian dari anak sendiri.
Mereka memberi masa depan kepada bangsa,
tetapi sering kehilangan tempat di masa kini.

Banyak lansia bukan kalah oleh penyakit,
melainkan oleh rasa tak dibutuhkan lagi.
Tubuh memang melemah oleh usia,
tetapi hati hancur oleh penelantaran.
Kasih yang mengering lebih tajam dari kemiskinan,
dan kesepian lebih pahit daripada obat apa pun.

Maka sebelum senja benar-benar jatuh,
marilah belajar menghormati waktu yang menua.
Karena suatu hari kita akan berdiri di tempat yang sama,
menunggu uluran tangan dari generasi berikutnya.
Dan martabat seorang lansia sesungguhnya adalah cermin,
yang memantulkan kemanusiaan sebuah bangsa.

Sumber: "Lansia Rentan dan Terabaikan" dalam Kompas, Selasa, 2 Juni 2026, hlm. 1 dan 15.