Di jalan yang dahulu diajari bernama demokrasi,
mahasiswa menyalakan suara dari kampus ke kampus.
Mereka membawa spanduk yang lusuh oleh harga-harga,
oleh rupiah yang kian letih menanggung beban,
oleh dapur yang mengepul lebih sedikit dari kemarin,
sementara pidato tetap terdengar kenyang.
Di Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Makassar,
langit menyaksikan langkah-langkah yang berulang.
Mereka datang bukan membawa senjata,
hanya daftar pertanyaan yang tak kunjung dijawab,
tentang janji yang tumbuh menjadi baliho,
namun enggan menjelma kesejahteraan.
Harga-harga naik seperti layang-layang putus,
terbang menjauh dari jangkauan rakyat biasa.
Anak-anak negeri menghitung uang di saku,
sementara meja-meja kekuasaan menghitung program.
Di antara angka dan kenyataan,
selalu ada jurang yang disamarkan kata-kata.
Bundaran diblokade, jalan dipagari aparat,
seolah suara dapat dihentikan oleh barikade.
Namun keresahan tak berjalan di atas aspal saja,
ia hidup di warung, di kos-kosan, di sawah,
menjelma bisik yang terus bertambah besar,
hingga akhirnya turun ke jalan raya.
Ironinya, kritik sering diperlakukan seperti penyakit,
dicurigai sebelum didengar maknanya.
Mereka yang bertanya disebut punya agenda,
mereka yang mengingatkan dianggap mengganggu pesta.
Padahal sejarah negeri ini berulang kali membuktikan,
kemajuan lahir dari keberanian berbeda suara.
Ada yang berkata negeri baik-baik saja,
sementara rakyat membaca kenyataan berbeda.
Di layar televisi pembangunan tampak gemerlap,
tetapi di sudut-sudut kota kecemasan tetap tumbuh.
Statistik dipoles menjadi pidato,
sedang keluhan rakyat berubah gema yang memantul.
Demonstrasi bukan muncul dari semalam gelap,
melainkan dari pintu-pintu dialog yang tertutup.
Ketika kebijakan lahir tanpa banyak telinga,
ketika kritik dibalas dengan kecurigaan,
maka jalan raya menjadi ruang sidang terakhir,
tempat rakyat menitipkan suara yang terabaikan.
Dan mahasiswa kembali berdiri di persimpangan zaman,
mengangkat harapan yang nyaris kehilangan rumah.
Mereka tidak sedang meminta langit diturunkan,
hanya meminta negeri mau mendengar warganya.
Sebab demokrasi bukan soal siapa paling berkuasa,
melainkan siapa yang masih bersedia mendengar.
Sumber: "Demo Mahasiswa Muncul di Sejumlah Daerah" dalam Kompas, Sabtu, 13 Juni 2026, hlm. 13.