Di layar berita, angka-angka berbaris rapi,
BI Rate naik seperempat langkah lagi,
katanya demi menjaga rupiah agar tak terseret badai,
katanya demi menenangkan pasar yang gelisah,
namun di meja makan, kegelisahan punya wajah yang berbeda.
Seorang ayah membuka lembar tagihan bulan ini,
menghitung mimpi dengan kalkulator yang mulai letih,
rumah yang dulu terasa sedekat genggaman,
kini menjauh beberapa cicilan lagi,
sementara harga hidup berlari tanpa menoleh ke belakang.
Di ruang rapat, grafik-grafik dipuji karena stabil,
para ahli menjelaskan logika ekonomi dengan fasih,
tetapi di gang-gang sempit kota,
stabilitas sering terdengar seperti kata asing,
yang tak mampu membayar tambahan bunga bulan depan.
Generasi produktif dipanggil tulang punggung bangsa,
namun pundaknya dipenuhi beban berlapis,
mencicil rumah, kendaraan, pendidikan anak,
bahkan masa depan yang belum tentu ramah,
sementara pendapatan berjalan lebih lambat dari kewajiban.
Rumah-rumah baru menjulang di brosur berwarna,
mengilap seperti janji yang tak pernah tua,
tetapi banyak pasangan muda hanya bisa memandang,
karena pintu rumah kini dijaga bunga yang meninggi,
dan kunci impian dijual dengan harga yang semakin mahal.
Ironinya, negeri terus berbicara tentang pertumbuhan,
sementara sebagian warganya tumbuh dalam kecemasan,
angka kredit dianggap bukti optimisme,
namun banyak utang lahir bukan dari kemewahan,
melainkan dari usaha bertahan agar tetap terlihat baik-baik saja.
Di balik statistik yang tampak sehat,
tersembunyi doa-doa yang tak masuk laporan resmi,
tentang cicilan yang jatuh tempo sebelum gaji datang,
tentang keluarga yang menunda harapan demi kebutuhan,
tentang mimpi yang dicicil lebih lama daripada rumahnya.
Dan ketika malam menutup jendela-jendela kota,
seorang ibu mematikan lampu lebih awal untuk berhemat,
sementara seorang ayah menatap surat angsuran berikutnya,
lalu bertanya pada langit yang diam:
mengapa memiliki rumah terasa lebih sulit daripada membangun negeri?
Sumber: "BI Rate Naik, Cicilan Bengkak, Mimpi Punya Rumah Kian Berat" dalam Kompas, Minggu, 14 Juni 2026, hlm. 14.