Di lereng Merapi yang diselimuti kabut dan doa,
ribuan langkah berarak dalam diam pada malam 1 Suro.
Tak ada pesta kembang api, tak ada sorak kemenangan,
hanya desir angin yang mengusap daun-daun pinus,
seakan alam sedang mengajarkan manusia cara mendengar.
Mereka berjalan membawa obor dan keheningan,
meniti jalan desa yang berkelok di bawah bintang.
Setiap langkah adalah pertanyaan kepada diri sendiri:
sudah sejauh mana manusia mengembara mengejar dunia,
hingga lupa jalan pulang menuju nurani?
Di tepi jalan, warga menyalakan lilin tanpa kata.
Senyum mereka lebih terang daripada cahaya api.
Anak-anak menyanyikan doa sederhana untuk jiwa yang letih,
sementara malam menghamparkan kesunyian yang penuh makna,
seperti ibu yang memeluk anaknya yang tersesat.
Merapi berdiri diam, tua dan bijaksana.
Gunung itu tak pernah meminta dipuja,
namun manusia sering datang membawa kesombongan,
mengukur alam dengan hasrat dan angka-angka,
lalu lupa bahwa dirinya hanyalah tamu sementara.
"Mohon kesembuhan jiwa dan beningnya hati,"
bergema lirih dari lagu yang mengalun di udara dingin.
Doa itu melayang bersama embun dan aroma dupa,
mengetuk pintu batin yang lama tertutup,
mengingatkan bahwa luka terdalam sering tak terlihat.
Di tengah zaman yang memuja gemerlap dan kemewahan,
lampah dalu menjadi epigram sunyi bagi kehidupan:
bahwa manusia tak dibesarkan oleh harta yang ditumpuk,
melainkan oleh kesediaan menundukkan ego,
dan belajar berjalan perlahan bersama sesama.
Empat jam perjalanan terasa seperti seumur hidup.
Langkah-langkah yang letih berubah menjadi perenungan.
Jalan yang menanjak menjadi cermin perjalanan batin,
bahwa setiap pendakian menuju kebijaksanaan
selalu menuntut keberanian meninggalkan kesombongan.
Ketika fajar menunggu di balik punggung Merapi,
ribuan peziarah malam itu pulang membawa cahaya.
Mereka sadar: manusia tak pernah memiliki alam,
ia hanya menumpang sebentar di bumi Tuhan,
lalu kembali kepada-Nya dengan hati yang lebih jernih.
Sumber: Yohanes Krisnawan, KEARIFAN LOKAL: "Ajakan Pulang di "Lampah Dalu" Lereng Merapi" dalam Kompas, Kamis, 18 Juni 2026, hlm. 1 dan 15.