Puspa Yunita adalah penulis lepas yang aktif menuangkan cerita melalui cerpen, puisi, dan artikel dengan tema kehidupan, sosial, dan pengalaman personal. Berangkat dari keseharian yang dekat dengan dunia pendidikan dan komunitas, ia menghadirkan tulisan yang sederhana namun sarat makna. Baginya, menulis adalah cara untuk menyuarakan hal-hal kecil yang sering terabaikan, sekaligus merawat rasa dalam setiap perjalanan hidup.

Cover Lagu Senandung Istri Bromocorah_ Iwan Fals (Sumber: YouTube @SPKKalideres)
Di sana, cita-cita tinggi sering kali hanya menjadi angan—melekat di kepala, tapi sulit berpijak di kenyataan.
Bukan karena mereka tak ingin bermimpi,
tapi karena hidup terlalu cepat menagih peran.
Anak-anak tumbuh bukan dengan privilese,
melainkan dengan beban yang bahkan belum sempat mereka pahami.
Dan dari situ, mata rantai itu mulai terbentuk—pelan, tapi pasti.
Yang kaya, menikah dengan yang kaya,
lalu melahirkan generasi dengan akses yang sama: pendidikan baik, jaringan luas, dan peluang yang terbuka.
Sementara yang miskin, menikah dengan yang miskin,
berjuang dalam lingkaran yang sama—dengan pilihan yang terbatas, dan harapan yang sering kali harus dikompromikan.
Bukan karena mereka tidak ingin sukses.
Tapi karena “versi sukses” yang mereka kejar… berbeda sejak awal.
Yang satu mengejar mimpi,
yang lain berjuang untuk bertahan hidup.
Dan ketika keduanya berdiri di garis yang sama,
kita sering lupa—
mereka tidak pernah benar-benar memulai dari titik yang sama.
Namun pada akhirnya, hidup bukan hanya soal seberapa tinggi kita bisa melompat,
melainkan seberapa kuat kita bertahan tanpa kehilangan makna.
Karena tak semua mimpi harus menjulang tinggi untuk bisa disebut berarti.
Di ruang-ruang sempit itu,
di antara keterbatasan yang tak selalu bisa dipilih,
bahagia tetap punya caranya sendiri untuk tumbuh.
Ia hadir dalam tawa sederhana,
dalam kebersamaan yang hangat,
dalam rasa cukup yang mungkin tak megah, tapi nyata.
Sebab mereka yang hidup dalam keterbatasan pun berhak merasa utuh—
tanpa harus menjadi seperti yang lain.
Dan mungkin, di sanalah letak kekuatan yang sering tak terlihat:
menerima hidup dengan lapang,
dan tetap menemukan bahagia…
dengan porsi yang mereka punya.