Puspa Yunita
Puspa Yunita Lainnya

Puspa Yunita adalah penulis lepas yang aktif menuangkan cerita melalui cerpen, puisi, dan artikel dengan tema kehidupan, sosial, dan pengalaman personal. Berangkat dari keseharian yang dekat dengan dunia pendidikan dan komunitas, ia menghadirkan tulisan yang sederhana namun sarat makna. Baginya, menulis adalah cara untuk menyuarakan hal-hal kecil yang sering terabaikan, sekaligus merawat rasa dalam setiap perjalanan hidup.

Selanjutnya

Tutup

Video

5 Kasus DBD di Kapuk Poglar: Padahal PSN Rutin, Kenapa Bisa Kecolongan?

11 April 2026   09:20 Diperbarui: 11 April 2026   10:08 157 2 0


Kami merasa sudah berjalan di jalur yang benar.Namun kenyataan berkata lain—kami kecolongan.(Sumber: Dokumentasi kegiatan PKK RW 04 ) 
Kami merasa sudah berjalan di jalur yang benar.Namun kenyataan berkata lain—kami kecolongan.(Sumber: Dokumentasi kegiatan PKK RW 04 ) 

“Ini cuma soal nyamuk… atau ada masalah lingkungan yang lebih besar?”

Pertanyaan itu terasa sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Di Kapuk Poglar RW 04, lima kasus DBD muncul dan terkonfirmasi melalui puskesmas. Angka yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, namun bagi kami di lapangan, itu adalah tanda bahwa ada yang terlewat.

Padahal, kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) bukan hal baru. Setiap Jumat, kader jumantik rutin melakukan sosialisasi dan edukasi. Pemeriksaan jentik pun dilakukan, dan hasilnya sering kali nihil.

Kami merasa sudah berjalan di jalur yang benar.

Namun kenyataan berkata lain—kami kecolongan.

Lonjakan kasus ini akhirnya mendorong dilakukannya PSN serentak. Tidak lagi sekadar rutinitas, tapi gerakan bersama. Kader jumantik dan dasa wisma turun langsung, menyisir rumah warga secara menyeluruh.

Dan di situlah fakta mulai terlihat.

Masih banyak sudut rumah yang luput dari perhatian. Pakaian yang tergantung, barang bekas yang menumpuk, hingga lingkungan sekitar rumah yang tidak terjaga kebersihannya—semua berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk.

Di titik ini, kami menyadari satu hal penting:

Edukasi yang disampaikan, belum tentu sepenuhnya dipahami dan diterapkan.

Kepercayaan bahwa warga mampu menjalankan PSN mandiri ternyata belum sepenuhnya terwujud.

Di sisi lain, kondisi cuaca yang tidak menentu juga memperburuk situasi. Perubahan suhu dan kelembaban dapat mempercepat perkembangbiakan nyamuk, sekaligus menurunkan daya tahan tubuh manusia.

DBD akhirnya bukan hanya soal lingkungan. Tapi juga soal kesiapan kita menghadapi perubahan.

Kejadian ini menjadi pelajaran bersama.

Bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar slogan.

Bukan pula kegiatan mingguan yang selesai dalam satu hari.

Ia adalah kebiasaan. Ia adalah kesadaran. Ia adalah tanggung jawab kolektif.

Dan bagi kami para pengurus serta kader, ini juga pengingat:

bahwa peran kami belum selesai.

Kami tidak boleh lelah.

Kami harus terus hadir.

Terus mengingatkan.

Karena pada akhirnya, melawan DBD bukan hanya tentang membasmi nyamuk.

Tapi tentang membangun kesadaran bersama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3