Reno Radzabi
Reno Radzabi Seniman

Film maker dan penulis naskah film Ig: @renoism__

Selanjutnya

Tutup

Video

Paths of Glory: Keindahan Sinematik di Balik Kebusukan Birokrasi Perang

2 November 2026   04:56 Diperbarui: 2 November 2026   04:56 183 0 0

Paths of Glory: Keindahan Sinematik di Balik Kebusukan Birokrasi Perang

Ada ironi yang menarik ketika menyaksikan Paths of Glory (1957). Rasanya seperti sedang bersantap di sebuah restoran fine dining, dengan penyajian yang begitu elegan, tetapi hidangan yang tersaji hanyalah ransum tentara. Stanley Kubrick menyuguhkan sinematografi yang begitu indah, komposisi gambar yang presisi, dan pengalaman audiovisual yang memikat. Namun, di balik keindahan tersebut, kita justru dihadapkan pada kebrutalan perang, ketidakadilan, dan absurditas birokrasi militer.

Film ini bukan semata-mata tentang perang, melainkan tentang manusia yang terperangkap dalam sistem yang lebih mementingkan kehormatan institusi daripada kehidupan individu.

Birokrasi sebagai Mesin Pengorbanan Manusia

Salah satu hal yang paling saya sukai dari cara Kubrick membangun cerita adalah kritiknya terhadap birokrasi militer. Dalam film ini, perang tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga di dalam ruang-ruang kekuasaan, tempat keputusan mengenai hidup dan mati manusia dibuat oleh mereka yang justru berada jauh dari bahaya.

Ketika sebuah serangan militer mengalami kegagalan, para petinggi tidak benar-benar berusaha memahami kompleksitas situasi di lapangan. Sebaliknya, mereka membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Tiga orang prajurit kemudian dipilih untuk menjalani pengadilan militer sebagai representasi dari kegagalan yang sebenarnya merupakan konsekuensi keputusan para petinggi itu sendiri.

Di sinilah birokrasi memperlihatkan wajah paling buruknya. Kebenaran tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dicari, melainkan sesuatu yang dapat disesuaikan demi mempertahankan kepentingan institusi.

Kolonel Dax menjadi representasi manusia yang berusaha melawan mekanisme tersebut. Ia memahami bahwa ketiga prajuritnya bukanlah pengecut, melainkan korban dari keputusan yang tidak masuk akal. Sebagai seorang perwira, Dax masih memiliki integritas dan kepedulian terhadap manusia yang berada di bawah komandonya.

Namun, ironisnya, kedudukannya di dalam sistem justru tidak cukup untuk mengubah sistem itu sendiri. Ia memiliki keberanian untuk menentang ketidakadilan, tetapi tidak memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengalahkannya.

Dax akhirnya kalah bukan karena argumennya lemah, melainkan karena sistem yang dihadapinya tidak pernah benar-benar dirancang untuk menerima kebenaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5