Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.
Pada masa lalu (dan mungkin masih berlangsung sampai sekarang), musik hiburan resepsi pernikahan ditentukan oleh orang tua pengantin. Sang anak atau pengantin hanya mengikuti kemauan orang tua. Hal itu kemungkinan juga terkait dengan pembiayaan untuk pengadaan (sewa) musik hiburan tersebut.

Orang tua yang membiayai resepsi pernikahan umumnya menentukan jenis musik hiburan yang diinginkan, tanpa meminta pertimbangan sang anak yang akan diresepsikan. Anak tinggal menuruti kemauan orang tuanya.
Semakin ke sini, selera musik hiburan resepsi pernikahan ada perubahan. Pada masa lalu, musik hiburan resepsi pernikahan cenderung dipilih musik yang hingar bingar, banyak menampilkan lagu-lagu dangdut. Selera pengantin masa kini ada sedikit bergeser.
Hal itu sudah saya alami sejak tahun 2017, ketika anak pertama saya menikah di Lampung. Saat itu segala sesuatu terkait pernikahan diurus sendiri oleh anak pertama saya itu bersama calon istrinya. Pernak-pernik mulai acara seserahan, akad nikah, hingga resepsi diatur oleh keluarga pihak pengantin perempuan dan tentunya kedua calon mempelai.
Satu hal yang membuat saya agak nyaman terkait dengan musik hiburan yang dipilih. Grup musik yang dipilih adalah jenis musik pop. Saya dan istri saya hanya datang dan ikut menikmati.
Pakaian adat yang kami kenakan semua sudah disiapkan. Dari Kalimantan Timur saya berangkat bertiga dengan anak ragil, Adib. Kemudian di bandara Soeta kami bergabung dengan anak kedua, Arifin beserta dua saudara kandung saya dan satu kakak ipar.

Pernikahan Yunus dan Susan dilangsungkan pada tanggal 9 April 2017, sekitar tiga bulan sebelum saya diangkat menjadi pengawas sekolah. Saat itu musik pengiring cukup dapat saya nikmati. Lagu-lagu pop yang dinyanyikan oleh biduan cukup menghibur dan memenuhi selera kami.
Beberapa pekan sebelum acara resepsi pernikahan Risya dan Priyo, Pak Syafii pernah bercerita kepada saya bahwa untuk grup musik hiburan saat resepsi sudah booking pada grup musik teman sekolah Rina Dewi (ibunda Risya).
Saat mengetahui grup musik yang dibooking itu, Risya mengajukan usul untuk ganti grup musik yang kekinian. Demi memenuhi keinginan anak, booking-an itu dibatalkan. Gantilah grup musik sesuai selera calon kedua mempelai.
Orang tua yang bijak tentu harus memikirkan selera sang anak yang akan menjalani pernikahan. Peristiwa sekali dalam seumur hidup itu harus memberi kesan yang mendalam.
Calon pengantin yang terpelajar (Risya bergelar dokter gigi dan Priyo, dosen ITK) tentu tidak ingin acara fresepsi pernikahannya diisi dengan hiburan yang tidak disukainya.
Pada tanggal 10 Januari 2026, setelah prosesi upacara adat Jawa dilangsungkan, dilanjutkan dengan musik hiburan dengan lagu-lagu pop. Risya dan Priyo mulai melayani ucapan selamat dari para tamu undangan. Kedua orang tua mereka duduk mengapit pelaminan. Orang tua Priyo berada pada sisi sebelah kiri pelaminan. Kedua orang tua Risya duduk pada sisi sebelah kanan pelaminan.
Sebuah lagu berbahasa asing berkumandang. Lagu yang dipopulerkan oleh Maher Zain dilantunkan oleh penyanyi lokal. Judul lagu Baraka Allahu Lakuma dinyanyikan dengan penuh rasa syukur.
Video lagu asli dapat didengarkan dan disimak lirik dan terjemahannya di bawah ini. Selamat menikmati. Semoga terhibur dan terkenang pada peristiwa serupa.
Pada saat lagu pertama itu dikumandangkan oleh penyanyi lokal, saya banyak menyalami dan disalami oleh beberapa tamu yang cukup saya kenal. Saat irtu saya duduk satu meja dengan Pak M. Hanafi, Bu Rosnah, Pak Anas Baenana sdengan istri dan anak ragilnya, Dzaky. Ada pula kepala SMP ITCI dan istrinya. Ada pula Pak Kukuh, kepsek SMP 12 Penajam Paser Utara.
Di samping meja kami ada pengawas SD yang masih aktif, Pak Sukoco dan Pak Machmud. Ada pula Pak Sumardiyana, pensiunan disdikpora PPU.
Pada meja lain, saya lihat ada pengawas sekolah jenjang SD dari wilayah Sepaku. Banyak tamu undangan yang masih saya kenal dan mereka mengenal saya.
Ada Bu Gaby, guru SMP 22 PPU. Ada Bu Eko, guru SMP 22 PPU juga. Sebagian datang menyalami saya dan ada yang bertemu saat mengambil makanan.
Jika posisi agak berjauhan, kami cukup melambaikan tangan. Tidak harus mendekat dan berjabat tangan. Mengingat yang punya hajat adalah seorang pengawas sekolah, mantan kepala sekolah di empat kecamatan, dan mantan guru SMA 1 Penajam, banyak kawan yang datang.
Risya juga mantan siswa SMA 1 Penajam sehingga kawan-kawan seangkatan tentu banyak yang datang atau diundang dalam resepsi tersebut.
Lagu yang berkumandang terasa begitu enak dinikmati. Suaranya juga tidak terlalu jelek. Kami masih dapat mengobrol dengan nyaman saat lagu dikumandangkan.
Hal itu berbeda dengan hiburan musik masa lalu. Padamasa lalu, saat menghadiri resepsi pernikahan di daerah kami, telinga harus benar-benar dijaga. Musik hiburan yang ditampilkan umumnya hingar-bingar. Para tamu tidak dapat berbincang santai sambil menikmati hidangan.
Untunglah selera musik mulai bergeser. Bukan musik yang hingar-bingar yang kami nikmati pada acara resepsi pernikahan putri pertama Pak Syafii. Musik pop yang enak didengar dan volume suara yang sedang membuat kami nyaman duduk sambil bercakap-cakap dan menikmati hidangan.
Bagaimana dengan musik hiburan resepsi di daerah Anda? Silakanb menuliskan pada kolom komentar. Terima kasih.
Penajam Paser Utara, 11 Januari 2026