Awas Celaka Mengintai di Belakang Truk Muat Batu
Oleh: Suyito Basuki *)

Hari Senin yang baru lalu, untuk sebuah keperluan saya disertai anak saya pergi ke Kopeng. Kopeng itu sebenarnya wilayah Kabupaten Semarang, tetapi orang sering menyebutkannya Kopeng Salatiga, karena memang berdekatan dengan kota Salatiga.
Letak Kopeng di kaki Gunung Merbabu. Perjalanan dari Salatiga akan menanjak hingga sampai lokasi. Jalan didisain berkelak-kelok supaya jalan tidak naik atau turun secara ekstrim. Ketika menuju ke daerah Kopeng atau ke tempat yang tinggi lainnya seperti ke Bandungan Kabupaten Semarang, Tawangmangu Kabupaten Karanganyar dan lain-lain, pengendara baik mobil maupun motor harus siap-siap dengan perjalanan yang agak lambat, apalagi di hari-hari akhir pekan atau weekend. Untuk menyalib kendaraan yang di depan harus ekstra hati-hati, harus memastikan jalan di depan benar-benar sepi kendaraan. Sikap sembrono, tidak sabar akan berujung fatal, yakni kecelakaan yang bisa jadi membawa korban.
Meski hari Senin kemarin tidak termasuk akhir pekan, karena kami naik ke Kopeng dalam jam yang tergolong sibuk, maka kami harus bersabar. Setir mobil dipegang anak lelakiku. Sekarang kalau bepergian kemana saja, kalau yuniorku ini sedang tidak ada kegiatan, maka dialah yang pegang kendali kendaraan. Dia akhir tahun 2024 lulus dari sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Pernah bekerja di sebuah tempat wisata di bawen Kabupaten Semarang. Tetapi karena waktu kerja yang ia rasa tidak cocok, maka dia lakukan resign. Saat ini sedang mencoba mencari pekerjaan di Salatiga dan sekitarnya sambil berkarya untuk sebuah penerbitan mengerjakan lay out dan penyiapan ilustrasi gambar.
Setelah menyalib beberapa kendaraan, tiba-tiba saja di depan kami ada sebuah truk dengan muatan batu untuk keperluan pondasi rumah. Dan celakanya, muatannya itu penuh dan dalam bahasa Jawa, ada batu yang "mingklik-mingklik" yang artinya batu itu ada di bagian paling atas, hampir melebihi batas muatan. Bahayanya lagi, batu itu bergoyang-goyang dan jalanan semakin menanjak. Oleh karena itu sebelum berkesempatan menyalib truk tersebut, saya berkata supaya kendaraan jangan terlalu dekat dengan truk tersebut.
Jelas hati was-was sih...teringat sebuah pengalaman perjalanan ke Jepara suatu ketika. Di depan saya waktu itu ada truk dengan muatan penuh, hingga melebihi batas. Sepertinya karung-karung muatan itu berisi "gabah" padi. Di belakang truk, berarti di depan mobil saya, ada pengendara motor bersama anak dan istrinya. Mungkin karena gelombang, truk bergoyang dan tiba-tiba saja beberapa karung gabah itu jatuh menimpa pengendara motor. Motor oleng, pengemudi jatuh tertimpa muatan karung gabah tersebut.
Mengingat dan mengantisapi peristiwa yang saya sebut di atas, sebenarnya sudah ada peraturan yang wajib ditaati pengendara truk. Berdasarkan UU LLAJ serta Permenhub No. 60/ 2019 dan PM No. 7/ 2019, aturan truk aman di Indonesia mencakup kepatuhan dimensi, berat (anti ODOL), tata cara muat, jam operasional terbatas (terutama perkotaan), dan aturan mengemudi seperti jaga jarak aman dan kecepatan. Jika ada pelanggaran akan ada sanksi berupa denda dan tilang. Semua itu dilakukan demi keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Tata cara muat itu meliputi muatan harus disusun proporsional sesuai dengan sumbu kenadaraan, tidak boleh melebihi bak truk.
Kalau kita lihat, cara pemuatan barang dengan menggunakan truk ini, terjadi banyak pelanggaran. Seperti truk muatan batu di depan kami itu, bukankah itu melebih batas dan tidak disusun dengan proporsional? Jika tiba-tiba ada batu yang menggelinding jatuh, menimpa pengendara lain, bukankah akan merugikan baik materiil atau bahkan jiwa? Kami kemudian berhasil menyalib truk tersebut ketika jalanan lurus dan di depan sepi kendaraan. Saya dan anakku bernafas lega. Tetapi kendaraan di belakang truk itu selanjutnya, bagaimana dengan mereka? Semoga tetap waspada, karena kecelakaan di jalan bisa terjadi kapan, di mana dan pada siapa saja!
*) Penulis tinggal di Ambarawa