Penyuka permainan bahasa, logika dan berpikir lateral, seorang dosen dan peneliti, pemerhati masalah-masalah pendidikan, juga pengamat politik.

[INTRO --- piano tunggal, suara angin dan hutan yang terbakar]
Dengarlah...
Ada tangis di balik asap
Ada kehidupan yang perlahan lenyap
Dan di antara langit yang menghitam
Ada manusia yang kehilangan rumah...
[BAIT 1 --- vokal pria lirih, nyaris berbisik]
Dulu hutan begitu hijau
Burung bernyanyi menyambut pagi
Sungai mengalir, angin membelai
Anak-anak berlari tanpa takut lagi
Kini langit kehilangan biru
Matahari redup ditelan abu
Pohon-pohon rebah satu per satu
Bumi menangis di hadapanmu
[PRE-REFF --- biola mulai masuk]
Siapa yang membakar rumah mereka?
Siapa yang meraup untung darinya?
Ketika api melahap segalanya
Mengapa nurani tak ikut menyala?
[REFF --- vokal menguat, penuh kepedihan]
Bumi menangis... siapa mendengar?
Hutan terbakar... siapa yang gentar?
Anak-anak batuk dalam kepulan asap
Sementara janji tinggal di atas kertas
Bumi memanggil... siapa menjawab?
Satwa kehilangan tempat menetap
Ya Tuhan, apakah kami telah lupa
Bahwa bumi ini titipan-Mu semata?
[INTERLUDE --- piano, cello, suara angin]
[BAIT 2 --- vokal lebih emosional]
Seekor induk orangutan mendekap anaknya
Di tengah bara, di hutan yang terbakar
Mata kecilnya mencari pelukan
Tak mengerti mengapa rumahnya dilalap api
Di desa kecil, seorang ibu menangis
Anaknya sesak, malam terasa habis
Ayahnya menatap ladang yang mati
Ke mana lagi esok mencari rezeki?
[PRE-REFF 2 --- nada getir, perkusi lembut]
Berapa banyak hutan harus menghilang?
Berapa banyak nyawa harus terancam?
Berapa lama rakyat menanggung derita?
Sebelum kuasa tergerak untuk bekerja?
[REFF --- orkestra dan backing vocal mulai membesar]
Bumi menangis... siapa mendengar?
Hutan terbakar... siapa yang gentar?
Anak-anak batuk dalam kepulan asap
Sementara janji tinggal di atas kertas
Bumi memanggil... siapa menjawab?
Satwa kehilangan tempat menetap
Ya Tuhan, apakah kami telah lupa
Bahwa bumi ini titipan-Mu semata?
[BRIDGE --- musik hampir berhenti, suara pria serak dan tertahan]
Wahai penguasa, dengarkanlah...
Ini bukan sekadar angka di berita
Bukan sekadar laporan dan wacana
Ada nyawa yang menunggu tindakan nyata
Jangan tunggu api menjadi sejarah
Jangan tunggu hutan tinggal tanah merah
Jangan tunggu anak-anak kehilangan masa depan
Baru kita sibuk mencari siapa yang disalahkan
Jika hukum hanya tajam ke bawah
Jika janji hanya indah saat berkuasa
Siapa yang akan membela mereka
Ketika hutan tak lagi bersuara?
[BREAK --- hening sejenak, lalu suara anak-anak lirih]
Ibu...
Mengapa langit kita hitam?
Mengapa burung tak pulang?
Mengapa rumah mereka terbakar?
Apakah dunia tak lagi punya hati?
[REFF AKHIR --- vokal penuh tangis, choir dan orkestra]
Bumi menangis... dengarlah tangisnya
Hutan terbakar... selamatkan sisanya
Jangan biarkan keserakahan berkuasa
Jangan biarkan nurani mati sia-sia
Bumi memanggil... sebelum terlambat
Masihkah hati kita dapat tersentuh dan melihat?
Ya Tuhan, ampuni dosa manusia
Yang menghancurkan rumah sesamanya
Bumi menangis... jangan berpaling
Masih ada harapan yang harus kita jaga
Sebelum anak cucu kita bertanya
Mengapa kami mewarisi bumi yang terluka?
[OUTRO --- piano tunggal, suara angin perlahan menghilang]
Dulu di sini ada hutan...
Dulu di sini ada kehidupan...
Kini yang tersisa hanya abu...
Dan pertanyaan yang membisu...
Ya Tuhan...
Ajari kami menjaga
Sebelum tak ada lagi
Yang bisa kami wariskan...
[END --- satu nada piano, hening]