Syahiduz Zaman
Syahiduz Zaman Dosen

Penyuka permainan bahasa, logika dan berpikir lateral, seorang dosen dan peneliti, pemerhati masalah-masalah pendidikan, juga pengamat politik.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Bumi yang Menangis

20 Oktober 2026   05:42 Diperbarui: 20 Oktober 2026   05:42 123 0 0

(Penulis, dibuat dengan A)
(Penulis, dibuat dengan A)

[INTRO --- piano tunggal, suara angin dan hutan yang terbakar]

Dengarlah...

Ada tangis di balik asap  
Ada kehidupan yang perlahan lenyap  
Dan di antara langit yang menghitam  
Ada manusia yang kehilangan rumah...

[BAIT 1 --- vokal pria lirih, nyaris berbisik]

Dulu hutan begitu hijau  
Burung bernyanyi menyambut pagi  
Sungai mengalir, angin membelai  
Anak-anak berlari tanpa takut lagi  

Kini langit kehilangan biru  
Matahari redup ditelan abu  
Pohon-pohon rebah satu per satu  
Bumi menangis di hadapanmu  

[PRE-REFF --- biola mulai masuk]

Siapa yang membakar rumah mereka?  
Siapa yang meraup untung darinya?  
Ketika api melahap segalanya  
Mengapa nurani tak ikut menyala?

[REFF --- vokal menguat, penuh kepedihan]

Bumi menangis... siapa mendengar?  
Hutan terbakar... siapa yang gentar?  
Anak-anak batuk dalam kepulan asap  
Sementara janji tinggal di atas kertas  

Bumi memanggil... siapa menjawab?  
Satwa kehilangan tempat menetap  
Ya Tuhan, apakah kami telah lupa  
Bahwa bumi ini titipan-Mu semata?

[INTERLUDE --- piano, cello, suara angin]

[BAIT 2 --- vokal lebih emosional]

Seekor induk orangutan mendekap anaknya
Di tengah bara, di hutan yang terbakar
Mata kecilnya mencari pelukan
Tak mengerti mengapa rumahnya dilalap api

Di desa kecil, seorang ibu menangis  
Anaknya sesak, malam terasa habis  
Ayahnya menatap ladang yang mati  
Ke mana lagi esok mencari rezeki?

[PRE-REFF 2 --- nada getir, perkusi lembut]

Berapa banyak hutan harus menghilang?  
Berapa banyak nyawa harus terancam?  
Berapa lama rakyat menanggung derita?  
Sebelum kuasa tergerak untuk bekerja?

[REFF --- orkestra dan backing vocal mulai membesar]

Bumi menangis... siapa mendengar?  
Hutan terbakar... siapa yang gentar?  
Anak-anak batuk dalam kepulan asap  
Sementara janji tinggal di atas kertas  

Bumi memanggil... siapa menjawab?  
Satwa kehilangan tempat menetap  
Ya Tuhan, apakah kami telah lupa  
Bahwa bumi ini titipan-Mu semata?

[BRIDGE --- musik hampir berhenti, suara pria serak dan tertahan]

Wahai penguasa, dengarkanlah...  
Ini bukan sekadar angka di berita  
Bukan sekadar laporan dan wacana  
Ada nyawa yang menunggu tindakan nyata  

Jangan tunggu api menjadi sejarah  
Jangan tunggu hutan tinggal tanah merah  
Jangan tunggu anak-anak kehilangan masa depan  
Baru kita sibuk mencari siapa yang disalahkan  

Jika hukum hanya tajam ke bawah  
Jika janji hanya indah saat berkuasa  
Siapa yang akan membela mereka  
Ketika hutan tak lagi bersuara?

[BREAK --- hening sejenak, lalu suara anak-anak lirih]

Ibu...  
Mengapa langit kita hitam?  
Mengapa burung tak pulang?  
Mengapa rumah mereka terbakar?  
Apakah dunia tak lagi punya hati?

[REFF AKHIR --- vokal penuh tangis, choir dan orkestra]

Bumi menangis... dengarlah tangisnya  
Hutan terbakar... selamatkan sisanya  
Jangan biarkan keserakahan berkuasa  
Jangan biarkan nurani mati sia-sia  

Bumi memanggil... sebelum terlambat  
Masihkah hati kita dapat tersentuh dan melihat?  
Ya Tuhan, ampuni dosa manusia  
Yang menghancurkan rumah sesamanya  

Bumi menangis... jangan berpaling  
Masih ada harapan yang harus kita jaga  
Sebelum anak cucu kita bertanya  
Mengapa kami mewarisi bumi yang terluka?

[OUTRO --- piano tunggal, suara angin perlahan menghilang]

Dulu di sini ada hutan...  
Dulu di sini ada kehidupan...  

Kini yang tersisa hanya abu...  
Dan pertanyaan yang membisu...

Ya Tuhan...  
Ajari kami menjaga  
Sebelum tak ada lagi  
Yang bisa kami wariskan...

[END --- satu nada piano, hening]