
Saya sangat terkesan dengan sila pertama, dari Pancasila yaitu "Ketuhanan Yang Maha Esa." Bagi saya, sila ini bukan sekadar kalimat yang dihafalkan saat upacara, melainkan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdoa di Mana Saja
Wujud paling sederhana dari pengamalan sila pertama adalah berdoa. Sejak kecil saya diajarkan untuk selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Saya berdoa di rumah bersama keluarga, berdoa sebelum mengajar di sekolah, bahkan terkadang berdoa saat menunggu kereta di stasiun.

Berdoa memberikan ketenangan hati. Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, masalah pekerjaan, atau kekhawatiran akan masa depan, doa menjadi tempat saya mengadu dan berserah diri kepada Tuhan. Melalui doa, saya belajar untuk bersyukur atas segala berkat yang telah diberikan.
Toleransi Antarumat Beragama
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa juga mengajarkan saya untuk menghormati pemeluk agama lain. Pengalaman indah tentang toleransi saya temukan di lingkungan sekolah.
Saat membuat kandang Natal di sekolah, saya melihat semangat kebersamaan yang luar biasa. Bapak Sudano dan Bapak Dadi yang beragama Islam justru menjadi bagian penting dalam seksi dekorasi. Mereka membantu dengan penuh semangat tanpa memandang perbedaan agama. Bagi mereka, kegiatan tersebut adalah bentuk dukungan terhadap sesama rekan kerja dan peserta didik.
Sebaliknya, ketika Hari Raya Idulfitri tiba, mereka mengundang kami untuk bersilaturahmi ke rumahnya. Kami makan bersama, bercengkerama, dan saling mendoakan. Saya masih ingat pesan sederhana yang sering mereka sampaikan, "Silaturahmi memperpanjang umur." Kalimat itu mengandung makna bahwa hubungan baik antarmanusia harus terus dijaga.
Kebersamaan dalam Kandang Natal Gereja