Mengamalkan Sila Kedua di Saat Ekonomi Terguncang
Beberapa waktu terakhir, berita tentang naiknya dolar, melemahnya rupiah, kenaikan harga Pertamax, dan menurunnya daya beli masyarakat sering menghiasi berbagai media. Sebagai kepala keluarga, saya juga ikut memikirkan keadaan tersebut. Pengeluaran rumah tangga harus dihitung lebih cermat. Kebutuhan keluarga tetap berjalan, sementara harga-harga perlahan ikut menyesuaikan.

Namun, di tengah berbagai kabar ekonomi yang kurang menggembirakan itu, ada pemandangan yang selalu menarik perhatian saya. Di pinggir jalan masih banyak pedagang kuliner yang setia berjualan. Ada yang menjajakan gorengan, bakso, nasi uduk, pecel lele, hingga aneka minuman. Mereka tetap membuka lapak sejak pagi hingga malam hari dengan harapan dagangannya laku.
Melihat mereka, saya sering merasa iba. Saya membayangkan jika dagangan mereka sepi pembeli. Padahal mereka juga memiliki keluarga yang harus dinafkahi. Ada biaya sekolah anak, kebutuhan makan sehari-hari, dan berbagai pengeluaran lainnya.
Karena itulah, saya dan keluarga tetap berusaha membeli jajanan atau makanan dari pedagang kecil. Tidak perlu setiap hari. Seminggu sekali pun kami usahakan tetap ada. Kami menganggapnya sebagai bagian kecil dari upaya membantu sesama. Siapa tahu kehadiran kami menjadi pembeli pertama atau pembeli tambahan yang membuat dagangan mereka lebih cepat habis.
Uang yang saya gunakan biasanya berasal dari penghasilan tambahan yang saya peroleh. Wisata kuliner keluarga juga tetap berjalan, meskipun frekuensinya kami kurangi saat kondisi ekonomi sedang kurang baik. Bukan berarti kami berhenti menikmati kebersamaan keluarga, melainkan menyesuaikan kemampuan agar keuangan rumah tangga tetap sehat.
Bagi saya, langkah sederhana ini juga merupakan bentuk pengamalan sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Nilai kemanusiaan tidak selalu diwujudkan dalam bantuan besar. Kadang-kadang, membeli dagangan pedagang kecil, menyapa mereka dengan ramah, dan menghargai jerih payah mereka juga merupakan bentuk kepedulian.
Ekonomi memang bisa naik turun. Harga-harga bisa berubah. Penghasilan kadang bertambah, kadang berkurang. Namun, rasa kemanusiaan jangan sampai ikut melemah. Saat kondisi ekonomi terguncang, kita tetap bisa saling menguatkan sesuai kemampuan masing-masing.
Kami berusaha menjaga keluarga tetap baik-baik saja. Di saat yang sama, kami juga tidak ingin melupakan para pedagang kecil yang berjuang mencari nafkah. Mungkin nilai rupiahnya tidak besar, tetapi jika banyak orang melakukan hal yang sama, tentu akan sangat berarti bagi mereka.
Ekonomi boleh sedang tidak bersahabat, tetapi kepedulian harus tetap hidup.
Sebab kehidupan yang baik bukan hanya tentang mencukupi kebutuhan keluarga sendiri, melainkan juga tentang hadir dan berbagi kepada sesama yang sedang berjuang. Itulah cara sederhana kami mengamalkan sila kedua Pancasila di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.
Inilah kisah kondisi ekonomi keluarga dan aku pancasila yang saya alami. Salam berbagi.