Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

KAyo kita Sholat Berjamaah: Bekal Omjay Menyongsong Kehidupan Setelah Mati
Omjay selalu percaya bahwa hidup di dunia ini hanyalah persinggahan. Bukan rumah terakhir. Ia sering mengingatkan dirinya sendiri, juga murid-muridnya, bahwa yang kita bawa mati bukan gelar, jabatan, atau harta, melainkan amal yang dilakukan dengan ikhlas. Di antara semua amal itu, sholat---terutama sholat berjamaah---menjadi bekal paling utama yang terus ia jaga setiap hari.
Di sela-sela kesibukan sebagai guru, penulis, dan pegiat literasi, Omjay selalu berusaha mendengar panggilan azan dengan hati yang bergetar. Bukan sekadar rutinitas, tetapi panggilan Ilahi yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban pertama kali saat manusia menghadap Allah SWT.
Allah berfirman:
>"Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'."
(QS. Al-Baqarah: 43)
Ayat ini tidak hanya memerintahkan sholat, tetapi juga menekankan kebersamaan. "Ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'." Inilah pesan kuat tentang sholat berjamaah. Bagi Omjay, sholat berjamaah bukan sekadar melipatgandakan pahala, tetapi juga melatih jiwa agar rendah hati, disiplin, dan merasa setara di hadapan Allah.
Sholat Berjamaah dan Kesadaran Akan Kematian
Setiap kali berdiri sejajar dengan jamaah lain---entah kaya atau miskin, tua atau muda---Omjay merasa sedang berlatih untuk satu barisan yang kelak pasti ia masuki: barisan manusia di hadapan Allah pada hari kiamat. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Semua berdiri sama, hanya amal yang membedakan.
Allah SWT mengingatkan:
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini sering terngiang di benak Omjay saat ia melangkah ke masjid. Kematian bukan untuk ditakuti, tetapi dipersiapkan. Dan sholat berjamaah adalah latihan harian untuk mempersiapkan diri menghadap-Nya.
Sholat, Tiang Agama dan Penentu Nasib Akhir
Omjay sering merenung: bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirnya? Apakah ia sudah sholat berjamaah? Apakah ia sudah memenuhi panggilan Allah dengan sungguh-sungguh?
Al-Qur'an menegaskan pentingnya sholat sebagai penopang kehidupan iman:
"Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) sholat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk."
(QS. Al-Baqarah: 238)
Sholat berjamaah mengajarkan Omjay tentang konsistensi. Ia tahu, orang yang mampu menjaga sholat berjamaah di dunia, insyaallah akan dimudahkan urusannya di alam kubur dan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa sholat berjamaah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat pahala. Namun bagi Omjay, keutamaannya bukan hanya soal angka pahala, melainkan soal kebiasaan baik yang membentuk karakter seorang hamba.
Masjid, Sekolah Kehidupan Sebelum Kematian
Bagi Omjay, masjid adalah sekolah kehidupan. Di sanalah ia belajar sabar saat imam membaca ayat panjang. Di sanalah ia belajar ikhlas saat harus mengalah di saf belakang. Dan di sanalah ia belajar bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling depan, tetapi siapa yang paling taat.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya."
(QS. Al-Mu'minun: 1--2)
Sholat berjamaah melatih kekhusyukan itu. Ada rasa malu jika datang terlambat. Ada rasa kehilangan jika tertinggal satu rakaat. Semua itu membangun kesadaran bahwa waktu hidup sangat terbatas.
Bekal Terbaik Menuju Alam Kubur
Omjay sadar, kelak saat jasad terbujur kaku, yang pertama kali ditanya bukan seberapa banyak tulisan yang pernah dibuat atau berapa penghargaan yang pernah diraih, tetapi tentang sholat.
Al-Qur'an kembali mengingatkan:
"Dan sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
(QS. An-Nisa: 103)
Sholat berjamaah mengajarkan disiplin waktu---sebuah bekal penting menghadapi hisab. Siapa yang meremehkan waktu sholat di dunia, akan menyesal di akhirat.
Penutup: Jangan Tinggalkan Masjid Sebelum Kita Ditinggalkan Dunia
Omjay menutup setiap harinya dengan satu tekad: selama kaki masih mampu melangkah dan napas masih berhembus, ia akan menjaga sholat berjamaah. Karena ia tahu, suatu hari nanti, ia tak lagi bisa melangkah ke masjid. Saat itu, hanya doa dan amal yang menemaninya.
Sholat berjamaah bukan hanya ibadah harian. Ia adalah bekal hidup setelah mati. Ia adalah cahaya di alam kubur. Ia adalah bukti cinta seorang hamba kepada Tuhannya.
Jika hari ini kita masih dipanggil azan dan masih diberi kesempatan berjamaah, jangan tunda. Karena bisa jadi, azan berikutnya bukan lagi untuk kita.
Mari berjamaah, sebelum kita dijemput pulang oleh kematian.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com