Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Akhirnya Omjay Menulis Untuk Mengucapkan Selamat Berpuasa di Bulan Ramadhan

18 Februari 2026   16:16 Diperbarui: 18 Februari 2026   21:56 133 10 8

Ramadan juga bulan literasi spiritual. Jika selama ini kita rajin membaca buku, maka di bulan ini kita diajak membaca diri sendiri. Jika selama ini kita menulis opini, maka di bulan ini kita menulis ulang niat dan tujuan hidup kita.

Saya percaya, menulis di bulan Ramadan memiliki ruh yang berbeda. Kata-kata terasa lebih lembut. Kalimat terasa lebih jernih. Hati terasa lebih peka. Ada getaran spiritual yang tidak kita temukan di bulan-bulan lainnya.

Ramadan mengajarkan empati. Ketika perut kita lapar, kita diingatkan bahwa di luar sana ada saudara-saudara kita yang mungkin setiap hari merasakan lapar, bukan karena puasa, tetapi karena keadaan. Dari sinilah lahir kepedulian. Dari sinilah tumbuh sedekah. Dari sinilah muncul rasa syukur.

Betapa sering kita lupa bersyukur.

Kita lupa bahwa bisa bangun sahur bersama keluarga adalah nikmat. Kita lupa bahwa bisa berbuka dengan sederhana adalah karunia. Kita lupa bahwa masih diberi umur untuk bertemu Ramadan adalah anugerah luar biasa.

Tidak semua orang diberi kesempatan ini.

Ramadan juga bulan memaafkan. Maka izinkan saya secara pribadi dan tulus mengatakan:

Jika selama ini dalam tulisan-tulisan saya ada kata yang menyinggung,
Jika dalam komentar saya ada kalimat yang kurang berkenan,
Jika dalam sikap dan pergaulan saya ada kesalahan yang disengaja maupun tidak,

Saya mohon maaf lahir dan batin.

Hidup ini terlalu singkat untuk menyimpan dendam. Hati ini terlalu sempit untuk dipenuhi kebencian. Ramadan mengajarkan kita untuk melapangkan dada. Memaafkan bukan berarti kalah. Memaafkan adalah kemenangan terbesar atas ego diri sendiri.

Sebagai insan yang terus belajar, saya menyadari bahwa kesempurnaan hanya milik Allah. Kita semua adalah manusia yang sedang berproses. Maka Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki proses itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4