Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Omjay dan Istri Naik Kereta Api Cepat Whoosh

25 Maret 2026   14:45 Diperbarui: 25 Maret 2026   14:45 145 4 1

https://youtu.be/PRcIcQLjU9w?si=fPZRiXykuGx_ljUc

“Pagi itu, langkah Omjay terasa biasa saja. Namun siapa sangka, perjalanan sederhana yang Omjay jalani justru menyimpan pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Dari situlah Omjay kembali menyadari, bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, selalu membawa makna bagi mereka yang mau merenung.”

Perjalanan itu belum usai. Justru babak berikutnya menjadi lebih istimewa, karena kali ini OmJay tidak sendiri. Kisah Omjay kali ini pulang mudik bersama istri naik kereta api cepat whoosh.


Setelah menikmati suasana Bandung yang sejuk, Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa OmJay, bersiap kembali ke Jakarta. Namun perjalanan pulang ini terasa berbeda. Omjay ditemani oleh sosok yang selalu setia dalam setiap langkah hidupnya. Siapa dia? Beliau adalah istri tercinta.

Pagi itu, mereka berangkat menuju Stasiun Padalarang dari stasiun Bandung. Di sanalah salah satu titik keberangkatan kereta api cepat Whoosh berada. Jalanan yang biasanya padat kini terasa lebih ringan, seakan mendukung perjalanan penuh makna ini.

Sesampainya di stasiun, OmJay menggenggam tangan istrinya. Ada rasa hangat yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dalam hati, Omjay bersyukur. Perjalanan hidup yang panjang, penuh perjuangan, kini bisa dinikmati bersama dalam bentuk yang sederhana: naik kereta api cepat menuju Jakarta.

"Mamah, kita sekarang hidup di zaman yang luar biasa ya," ucap OmJay pelan.

Sang istri tersenyum. "Iya, dulu ke Jakarta bisa berjam-jam, sekarang sebentar saja."

Mereka pun naik ke dalam kereta. Suasana modern dan nyaman kembali menyambut. Namun kali ini, bukan hanya teknologi yang membuat hati OmJay bergetar, melainkan kebersamaan.

Omjay guru blogger indonesia/dokpri
Omjay guru blogger indonesia/dokpri

Kereta api cepat whoosh mulai melaju.

Dengan kecepatan tinggi, pemandangan di luar jendela berubah menjadi garis-garis yang bergerak cepat. Namun di dalam, waktu terasa melambat. OmJay dan istrinya berbincang ringan, mengenang masa lalu.

"Dulu kita naik kereta ekonomi, berdiri berjam-jam," kenang OmJay sambil tersenyum.

"Iya, sekarang Allah kasih kita nikmat seperti ini," jawab istrinya dengan mata berkaca-kaca.

OmJay terdiam sejenak. Omjay menatap ke depan, lalu kembali mengingat sosok yang telah berjasa menghadirkan perubahan besar ini, Presiden Joko Widodo.

"Terima kasih, Pak Jokowi," ucapnya dalam hati untuk kedua kalinya.

Namun kali ini, rasa terima kasih itu terasa lebih dalam. Karena ia tidak hanya merasakan manfaatnya sendiri, tetapi juga bisa berbagi kebahagiaan dengan orang yang paling ia cintai.

Perjalanan dari Padalarang menuju Jakarta terasa begitu singkat. Tidak ada lelah, tidak ada macet, tidak ada keluhan. Yang ada hanyalah rasa syukur.

Di tengah perjalanan itu, OmJay kembali merenung.

Omjay menyadari bahwa hidup ini seperti perjalanan kereta cepat. Kadang kita berada di fase lambat, penuh perjuangan. Kadang kita berada di fase cepat, penuh kemudahan. Namun yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan dengan siapa kita menjalani perjalanan itu.

Omjay dan istri/dokpri
Omjay dan istri/dokpri

Omjay menatap istrinya.

"Terima kasih sudah menemani dari dulu sampai sekarang," katanya tulus.

Sang istri hanya tersenyum, namun senyum itu mengandung ribuan makna---tentang kesetiaan, pengorbanan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.

Tak lama kemudian, pengumuman kedatangan di Jakarta terdengar. Perjalanan yang singkat namun sarat makna itu pun hampir usai.

OmJay menarik napas panjang.

Dari perjalanan ini, ia belajar satu hal penting: kemajuan teknologi harus diiringi dengan kehangatan hati. Kereta boleh melaju cepat, tetapi nilai-nilai kehidupan tidak boleh tertinggal.

Sesampainya di Jakarta, mereka turun bersama. Langkah mereka mantap, hati mereka penuh.

OmJay kembali membuka laptopnya di ruang tunggu, menuliskan pengalaman hari itu. Ia ingin membagikan cerita ini kepada murid-muridnya, kepada para guru, dan kepada siapa saja yang mau belajar.

Bahwa hidup bukan sekadar tentang tujuan, tetapi tentang perjalanan.

Bahwa kemajuan bukan hanya milik kota besar, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia.

Dan bahwa kebahagiaan sejati sering kali hadir dalam hal-hal sederhana---seperti duduk berdampingan dengan pasangan, dalam perjalanan singkat dari Padalarang ke Jakarta.

Sebelum menutup tulisannya, OmJay menuliskan satu kalimat:

"Jika dulu kita berjuang untuk sampai, hari ini kita belajar untuk bersyukur dalam perjalanan."

Kereta cepat Whoosh telah membawa OmJay dan istrinya melintasi jarak. Namun lebih dari itu, ia telah membawa mereka menyelami makna kehidupan.

Dan perjalanan itu... akan terus berlanjut.

Kereta boleh berhenti di stasiun, tetapi perjalanan hidup tak pernah benar-benar usai---ia terus melaju bersama doa, cinta, dan harapan yang kita bawa di dalam dada.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Omjay dan istri/dokpri
Omjay dan istri/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2