Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Tidak Menjadi Pribadi yang Ikut-ikutan

29 Maret 2026   15:21 Diperbarui: 29 Maret 2026   15:21 135 3 1

https://youtu.be/kXZs3jR_E70?si=fJ2C9Zgq-heFXR7u

Tidak Menjadi Pribadi yang Ikut-Ikutan: Teguh dalam Prinsip, Kokoh dalam Tauhid. Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana.

Di tengah arus kehidupan yang semakin deras, manusia sering dihadapkan pada satu pilihan penting: menjadi diri sendiri yang berprinsip, atau sekadar mengikuti arus tanpa arah. 

Banyak orang tanpa sadar memilih jalan kedua---ikut-ikutan---demi merasa aman, diterima, atau sekadar tidak berbeda.

Padahal, Rasulullah telah mengingatkan dengan sangat tegas:

"Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan, 'Kalau orang lain berbuat baik, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kami pun akan berbuat zalim.' Tetapi, teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, 'Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan, kami tidak akan melakukannya'." (HR. Tirmidzi)

Pesan ini bukan sekadar nasihat, tetapi fondasi penting dalam membangun karakter seorang mukmin sejati.

Bahaya Mentalitas Ikut-Ikutan

Tatanan masyarakat bisa hancur bukan hanya karena kejahatan besar, tetapi juga karena hilangnya prinsip dalam diri individu. Ketika banyak orang tidak lagi memiliki pegangan hidup yang kuat, mereka mudah terombang-ambing oleh opini, tren, bahkan tekanan lingkungan.

Hari ini seseorang berkata A, kita ikut A.
Besok orang lain berkata B, kita pun ikut B.

Tanpa disadari, kita kehilangan jati diri.

Lebih berbahaya lagi, jika arus yang diikuti adalah arus keburukan. Saat keburukan dikemas dengan indah---dibungkus dengan popularitas, kekuasaan, atau jumlah pendukung yang besar---banyak orang terkecoh dan menganggapnya sebagai kebenaran.

Padahal, dalam Islam, kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut.

Prinsip Orang Beriman: Tetap Baik Meski Sendiri

Seorang yang beriman memiliki kompas hidup yang jelas: perintah Allah Ta'ala. Ia tidak menjadikan manusia sebagai standar mutlak benar atau salah.

Ketika orang lain berbuat baik, ia ikut berbuat baik.
Namun ketika orang lain berbuat buruk, ia tidak ikut-ikutan.

Inilah kekuatan prinsip. Bahkan jika keburukan dilakukan oleh: teman dekat, keluarga, tokoh masyarakat, hingga pemimpin sekalipun, seorang mukmin tetap teguh dalam kebaikan.

Karena ia yakin: Allah tidak mungkin memerintahkan keburukan.

Makna Mendalam Kalimat Tauhid

Semua prinsip ini sejatinya berakar dari pemahaman tauhid yang benar, yaitu kalimat:

L ilha illallh

Banyak orang menerjemahkannya secara sederhana:
"Tidak ada Tuhan selain Allah."

Namun makna ini belum lengkap.

Makna yang benar adalah:
"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah."

Mengapa ini penting?

Karena dalam kalimat tauhid terdapat dua unsur utama:

1. Penafian (An-Nafyu)

L ilha
Artinya: menolak semua sesembahan selain Allah.

2. Penetapan (Al-Itsbt)

Illallh
Artinya: menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Dengan pemahaman ini, kita tidak hanya mengakui Allah, tetapi juga menolak segala bentuk kesyirikan.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Sejarah mencatat bahwa kaum musyrik Quraisy juga percaya kepada Allah. Namun mereka tetap menyembah selain-Nya sebagai perantara.

Mereka berkata:
"Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mendekatkan kami kepada Allah."

Namun alasan ini tetap tidak dibenarkan.

Artinya, niat baik saja tidak cukup.
Ibadah harus benar objeknya: hanya kepada Allah.

Dampak Tauhid dalam Kehidupan Sehari-hari

Memahami tauhid bukan hanya soal ucapan, tetapi juga praktik nyata dalam kehidupan.

1. Semua Ibadah Hanya untuk Allah

Ibadah tidak hanya shalat dan puasa, tetapi juga:

doa

tawakal

rasa takut dan harap

meminta pertolongan (isti'anah)


Jika salah satu diarahkan kepada selain Allah, maka tauhid menjadi rusak.

2. Menolak Segala Bentuk Kesyirikan

Sekecil apa pun bentuknya, seperti:

meminta kepada selain Allah

percaya pada jimat

menggantungkan harapan pada hal gaib selain Allah

Semua itu bertentangan dengan tauhid.

3. Ibadah Harus Sesuai Sunnah

Tauhid selalu berjalan bersama dengan:

Muhammadur Rasulullah

Artinya:

ikhlas karena Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah

Jika salah satu tidak terpenuhi, ibadah tidak diterima.

4. Waspada terhadap Kesyirikan Tersembunyi

Banyak hal yang dianggap biasa, padahal berbahaya:

percaya hari sial atau angka keberuntungan

bersumpah selain nama Allah

lebih takut kepada makhluk dalam urusan gaib


Ini sering terjadi tanpa disadari.

5. Tauhid adalah Urusan Hati

Tauhid bukan hanya ritual, tetapi soal ke mana hati bergantung.

Apa yang paling kita:

cintai

takuti

harapkan


Itulah "sesembahan" kita yang sebenarnya.

Menjadi Pribadi yang Kokoh di Tengah Arus

Menjadi pribadi yang tidak ikut-ikutan memang tidak mudah. Butuh keberanian untuk berbeda, butuh keteguhan untuk bertahan, dan butuh ilmu untuk membedakan benar dan salah.

Namun di situlah letak kemuliaannya.

Seorang mukmin sejati bukanlah mereka yang hanyut dalam arus, tetapi mereka yang mampu menjadi penunjuk arah.

Ia tidak mudah terpengaruh oleh banyaknya orang.
Ia tidak silau oleh popularitas.
Ia tidak goyah oleh tekanan.

Karena ia memiliki prinsip:
kebenaran berasal dari Allah, bukan dari manusia.

Penutup: Doa dan Harapan

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba-Nya yang:

teguh dalam prinsip,

lurus dalam tauhid,

dan istiqamah dalam kebaikan.

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui."

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua: kesehatan, keselamatan, keberkahan, rezeki yang halal, serta amal yang diterima.

Aamiin ya robbal alamin

Salam blogger persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2