Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay Dari Vertigo ke Serangan Stroke

22 April 2026   04:34 Diperbarui: 22 April 2026   05:41 322 10 5

Omjay guru blogget Indonesia/dokpri
Omjay guru blogget Indonesia/dokpri

“Saya kira Cuma Pusing Biasa… Ternyata Stroke: Kisah Nyata OmJay yang Terlambat Mendengar Tubuhnya”. 

Setelah Vertigo, Lalu Stroke Itu Datang: Ketika Tubuh akhirnya Menghentikan Langkah Omjay Guru blogger Indonesia.

Sebuah kisah nyata yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd yang disapa Omjay. Tua itu pasti dan sehat itu pilihan.

Ada saat dalam hidup ketika kita merasa kuat. Terlalu kuat, bahkan. Seolah tubuh ini tak akan pernah tumbang, seolah waktu akan selalu memberi kesempatan kedua. 

Saya Omjay pernah ada di titik itu. Sibuk menulis, mengajar, berbagi, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa jeda. Bangga karena produktif, bahagia karena merasa bermanfaat.

Sampai suatu hari, tubuh saya berkata, "Cukup."

Dan saya tidak bisa menolaknya.

Babak Pertama: Dunia yang Tiba-Tiba Berputar

Semua berawal dari sesuatu yang saya anggap sepele: vertigo.

Pagi itu terasa biasa saja. Saya masih sempat membuka laptop, menyiapkan materi, bahkan menyeruput kopi seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tiba-tiba, dunia berubah. Ruangan berputar. Dinding seperti bergerak mendekat. Kepala terasa ditarik ke segala arah.

Saya mencoba berdiri. Tidak bisa. Saya mencoba berjalan. Jatuh. Saya pikir ada gempa bumi melanda kota.

Saat itu saya masih menyangkal. "Ah, cuma kecapekan." Pikiran saya mencari pembenaran. Seperti kebanyakan orang, saya menganggap tubuh ini mesin. Kalau rusak sedikit, tinggal dipaksa jalan lagi.

Tapi vertigo bukan sekadar pusing. Ia adalah peringatan keras. Ia membuat saya kehilangan kendali, bahkan atas tubuh saya sendiri.

Untuk pertama kalinya, saya merasa sangat lemah. Dan jujur... saya takut.

Babak Kedua: Stroke yang Mengubah Segalanya

Belum sempat benar-benar pulih dari vertigo, ujian yang lebih berat datang. Tanpa aba-aba. Tanpa tanda yang jelas.

https://youtu.be/RJji6hY5rOM?si=71Znxe1q0NG9vtXW

Stroke.

Awalnya hanya rasa aneh di tangan. Lalu bicara saya mulai pelo. Kata-kata yang biasanya mengalir lancar, tiba-tiba tersangkut di lidah. Saya ingin memanggil, ingin berkata sesuatu... tapi suara itu tidak keluar seperti yang saya inginkan.

Separuh wajah terasa berbeda. Tubuh seperti bukan milik saya lagi.

Saat itu saya sadar---ini bukan sekadar lelah. Ini serius.

Di rumah sakit, saya terbaring dengan berbagai alat yang menempel di tubuh. Suara mesin berdetak pelan, seolah menghitung waktu yang tersisa. Saya menatap langit-langit, kosong.

Di luar ruangan, keluarga saya menunggu. Istri saya berdoa. Anak-anak saya mungkin bingung, mungkin takut, mungkin tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada ayahnya.

Dan saya... hanya bisa berbisik dalam hati.

"Ya Allah, jangan sekarang... masih banyak yang harus saya lakukan. Anak-anak masih membutuhkan saya."

Air mata ingin jatuh. Tapi bahkan untuk menangis pun, saya tidak mampu.

Babak Ketiga: Belajar Hidup dari Nol Lagi

Setelah keluar dari rumah sakit, saya pikir semuanya akan kembali seperti semula.

Saya salah.

Hidup saya berubah total.

Hal-hal sederhana yang dulu saya lakukan tanpa berpikir, kini menjadi perjuangan besar. Memegang sendok. Berdiri. Melangkah. Bahkan berbicara.

Saya harus belajar lagi. Dari awal.

Fisioterapi menjadi bagian dari hidup saya. Setiap hari adalah latihan. Setiap gerakan adalah usaha. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang mudah.

Kadang saya frustrasi. Kadang saya marah pada diri sendiri. Kenapa saya harus mengalami ini? Kenapa saya tidak menjaga tubuh saya lebih baik?

Tapi di tengah semua itu, saya menemukan sesuatu yang lebih berharga.

Saya menemukan cinta.

Istri saya yang dengan sabar merawat, menyuapi, dan menguatkan saya setiap hari. Tanpa keluhan. Tanpa lelah.

Anak-anak saya yang tiba-tiba menjadi lebih dewasa. Yang mengingatkan saya minum obat. Yang memeluk saya lebih erat dari sebelumnya.

Saya sadar... saya tidak dicintai karena saya kuat. Saya dicintai karena saya ada.

Dan itu cukup.

Babak Keempat: Melepas Setir, Menemukan Makna

Salah satu hal tersulit yang harus saya terima adalah kenyataan bahwa saya tidak boleh lagi menyetir.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hal kecil. Tapi bagi saya, ini pukulan besar. Saya terbiasa mengantar keluarga, bepergian sendiri, merasa mandiri.

Tiba-tiba semua itu harus berhenti.

Awalnya saya merasa kehilangan harga diri. Malu. Takut dianggap lemah.

Namun hidup mengajarkan saya cara lain untuk pulang.

Saya mulai naik kereta.

Di dalam gerbong yang penuh, berdiri sambil berpegangan, saya belajar banyak hal. Saya belajar bersabar. Saya belajar menerima bantuan dari orang lain. Saya belajar bahwa dunia tidak berhenti hanya karena saya melambat.

Ada momen ketika seseorang yang tidak saya kenal menawarkan tempat duduk. Ada yang membantu saya berdiri saat kereta berguncang.

Hal-hal kecil itu... terasa sangat besar.

Saya sadar, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Dia hanya mengubah cara-Nya menjaga saya.

Melalui orang-orang yang bahkan tidak saya kenal.

Pelajaran yang Tak Ternilai

Dari semua yang saya alami, saya belajar satu hal penting:

Kesehatan adalah titipan.

Kita sering menundanya. Menunda istirahat. Menunda cek kesehatan. Menunda waktu bersama keluarga. Karena merasa masih kuat. Masih muda. Masih bisa.

Saya juga dulu begitu.

Sampai akhirnya tubuh saya memaksa saya berhenti.

Kalau hari ini Anda masih sehat, jangan tunggu sampai sakit untuk berubah.

Peluk anak Anda lebih lama. Istirahat ketika lelah. Jangan abaikan sinyal kecil dari tubuh. Jangan merasa diri tidak tergantikan.

Karena pada akhirnya, dunia akan tetap berjalan.

Tapi keluarga Anda... mereka akan kehilangan dunia mereka jika Anda tidak ada.

Penutup: Air Mata yang Menyadarkan

Tulisan ini bukan sekadar cerita. Ini adalah pengingat.

Saya pernah jatuh. Saya pernah lemah. Saya pernah merasa hidup saya hampir berhenti.

Tapi saya juga bangkit.

Pelan-pelan.

Hari ini saya masih berjalan. Masih menulis. Masih belajar. Mungkin tidak secepat dulu. Tidak sekuat dulu.

Tapi saya lebih bersyukur dari sebelumnya.

Jika tulisan ini membuat Anda meneteskan air mata, itu bukan karena saya hebat.

Itu karena Anda peduli.

Dan jika Anda peduli, maka jagalah diri Anda.

Jangan tunggu sakit untuk menghargai hidup.

Karena hidup bukan tentang seberapa cepat kita berlari.

Tapi tentang seberapa lama kita bisa tetap pulang... dan memeluk orang-orang yang kita cintai.

Inspirasi Pagi :
Rabu,  22 April 2026

Hidup adalah ;
Waktu yang dipinjamkan.
Harta adalah ;
Amanah yang dipercayakan.
Usia adalah ;
Kesempatan yang diberikan.
Semua itu akan dimintai pertanggung jawabkan.

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (AQS. Al-Isra` : 36).

Tetap Semangat
------------------
Barakallah fiikum

Salam sehat,
OmJay/Kakek Jay

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8