Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

You Can't Buy Happiness But You Can And That's Pretty Close

30 April 2026   06:07 Diperbarui: 30 April 2026   06:07 220 3 2

https://youtu.be/1NZsBLIiZ3I?si=XXR3rQD0RAkS3i2S

You can't buy happiness but you can and That's pretty close. Kalimat ini begitu menggoda ketika Omjay sedang menonton film netflix janji yang terikat.

Cuplikan film twrikat janji/dokpri
Cuplikan film twrikat janji/dokpri

Secangkir Kopi, Kebahagiaan, dan Kejujuran yang Terlambat. Inilah kisah omjay kali ini di kompasiana tercinta. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.

Ruang keluarga omjay/dokpri
Ruang keluarga omjay/dokpri

Di sebuah ruangan yang tenang, televisi menampilkan adegan dua insan yang duduk berhadapan di sebuah kafe. Tidak ada suara gaduh, hanya percakapan pelan yang terasa berat. Di belakang mereka, terpampang sebuah kalimat sederhana namun penuh makna:

"You can't buy happiness, but you can buy coffee... and that's pretty close."

Kalimat itu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti:
"Kamu tidak bisa membeli kebahagiaan, tetapi kamu bisa membeli kopi... dan itu sudah cukup mendekati kebahagiaan."

Sekilas terdengar ringan, bahkan sedikit jenaka. Namun jika direnungkan lebih dalam, kalimat ini menyimpan filosofi hidup yang begitu dalam. Ia seolah ingin mengatakan bahwa kebahagiaan sejati memang tidak bisa dibeli dengan uang. Namun, ada hal-hal kecil dalam hidup seperti secangkir kopi, waktu bersama seseorang, atau suasana hangat yang bisa menghadirkan rasa bahagia, meski hanya sementara.

Ironisnya, kalimat itu justru muncul di tengah suasana yang tidak sepenuhnya bahagia.

Perempuan di layar tampak gelisah. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang jauh dari tempat ia duduk. Sementara laki-laki di hadapannya terlihat berusaha berbicara, mungkin mencoba memperbaiki sesuatu yang telah retak. Namun, tidak semua yang rusak bisa diperbaiki hanya dengan duduk bersama dan memesan kopi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3